Night Safari Singapore

This weekend we went to night safari Singapore. We decided to take Saturday night at 09:15 PM because of magrib prayers time. To reach the location, it will consume two hours from home using bus and have to change the bus two times as well.

My wife and children took photos in front of one of the gift/souvenir stores.

At the end of each batch, there will be a fire attraction from night safari’s staff (two men and two women).

Perpustakaan Tampines Hub Singapura

Sabtu kemarin kami ke perpustakaan di Tampines Hub untuk mengembalikan buku sekaligus meminjam buku yang lain lagi. Di Singapura, kita bisa mengembalikan buku di perpustakaan mana saja alias tidak harus mengembalikan buku di perpustakaan tempat dimana buku tersebut dipinjam.

Perpustakaan Tampines Hub ini tergolong baru sehingga buku-bukunya pun banyak yang baru dan sangat lengkap. Jika seandainya punya perpustakaan dengan buku sebanyak ini mungkin akan sangat betah menghabiskan waktu di dalamnya.

Anak-anak sedang mengembalikan buku melalui mobile bookdrop. Jika penuh mobile bookdrop akan bergerak secara autonomous menuju ruang staff dan memberikan alert ke staff untuk mengambil buku-buku yang dikembalikan tadi kemudian sang staff akan mengganti tempat penyimpanan buku (bin) di mobile bookdrop dengan yang baru.

Oh iya, Singapura memang dikenal salah satu negara yang sangat cepat menerapkan IT sebagai penunjang/fasilitas negaranya, istilah kerennya penerapan smart city. Teknologi autonomous robotics ini sebenarnya sudah lama dibuat oleh mahasiswa di Indonesia juga tapi sayang hanya sebatas penelitian/research atau untuk mengikuti perlombaan. Saya sendiri belum pernah melihat penerapannya di fasilitas publik seperti yang ada di perpustakaan Tampines ini.

Berphoto dengan Naya di salah satu sudut ruang perpustakaan dengan latar lapangan sepak bola Tampines Hub.

Kedatangan saya di perpustakaan ini karena saya ingin melihat isi satu buku javascript yang kebetulan cuma ada di perpustakaan Tampines Hub sekaligus makan siang di Bebek Goreng Pak Ndut yang berada di stasiun MRT Tampines.

Untuk buku-buku komputer di lantai 5. oh iya di lantai 5 ini ada tempat untuk kerja kelompok, dan tersedia satu ruang khusus untuk mengerjakan tugas dll. sayang saya tidak mengambil photonya mungkin lain kali saat ke sana lagi. Selain itu di sudut-sudut ruang di lantai ini juga dilengkapi meja dan kursi untuk baca dan bekerja juga.

Di tulisan saya yang lain juga pernah saya angkat tentang perpustakaan di Bukit Panjang (link). Perpustakaan ini juga cukup baru tapi tidak selengkap yang ada di Tampines Hub.

Photo source: http://danielfooddiary.com

Bersepeda (kembali) di East Coast Park Singapura

Setelah beberapa lama rehat bersepeda, sore tadi kami memutuskan untuk kembali bersepeda di East Coast Park. Rute yang kami lewati selalu sama yakni ke arah bandara Changi walaupun belum bisa benar-benar sampai di sana atau bahkan melewatinya. Batas kami biasanya hanya sampai di tunjungan untuk beristirahat sejenak dan berputar arah.

Duduk-duduk sebentar di tunjungan untuk menikmati suasana pinggir pantai tempat orang-orang memancing.

Sesaat sebelum meninggalkan tunjungan untuk kembali bergerak ke arah playground tempat permainan anak.

Pemandangan di depan kami di area tunjungan pantai.

Setelah bersepeda dan bermain playground, saatnya makan malam masih di area East Coast Park, Ayo De, Ka, cepat kita harus segera pulang karena waktu magrib sudah masuk.

Berikut video buatan istri untuk kegiatan kami tersebut.

Evolusi Jam Tangan Dari Tahun ke Tahun

Tahun 2006 saya menggunakan jam tangan merek casio (favorit) yang saya beli di Makassar dan masih terus dipakai hingga saat ini. Yang sering diganti hanya baterai dan tali jam saja. Berarti sudah 12 tahun menggunakan jam ini. Harganya kalau tidak salah waktu itu sekitar Rp. 275.000.

Berikutnya, jam merek Q&Q dibeli di Bandung sekitar tahun 2013 dengan harga Rp. 250.000 yang saya pakai kurang lebih 2 tahun hingga baterai jamnya mati.

Jam tangan ketiga adalah merek Swatch yang saya beli tahun 2014 di Pondok Indah Mall (PIM) dengan harga Rp. 1.300.000 dan bertahan sekitar 3 tahun sampai talinya rusak. Masalahnya adalah toko Swatch tidak menyediakan tali original sehingga tidak bisa mendapatkan jenis tali jam yang sama dengan aslinya walaupun jamnya sendiri masih bagus.

Jam berikutnya merek Mondaine yang saya beli di Singapura lewat online di https://www.chrono24.com dan barangnya dikirim dari Jerman di awal tahun 2018 ini dengan harga USD $270.

Jika saya perhatikan ternyata setiap pergantian jam dari tahun ke tahun, harga jamnya semakin mahal mengikuti kurva berikut kecuali jam tangan kedua merek Q&Q. Jika saya ukur-ukur saya masih termasuk yang mengikuti kurva warna biru. Dalam arti kata walaupun harga jam yang saya beli meningkat tapi masih dalam batas yang wajarlah.

Perangkat-perangkat elektronika di dalam bus Singapura dan kekonyolan-kekonyolan saya

Setiap bus di Singapura selalu dilengkapi dengan perangkat elektronika yang berada di samping bus captain (pengemudi) dan di bagian tengah. Satu set (depan+tengah) untuk pelanggan yang digunakan untuk menempelkan kartu perjalanan ketika naik sebagai penanda awal perjalanan dengan jumlah minimal saldo yang telah ditentukan dan satu lagi di bagian tengah ketika akan turun. Saat menempelkan kartu untuk keluar bus, biaya perjalanannya akan terlihat di monitor alat tersebut dan saldo di kartu perjalanan kita akan berkurang secara otomatis.

Dua alat lainnya untuk keperluan sang bus captain. Satu sebagai alat GPS yang berisi peta perjalanan dan satu lagi untuk mengetahui biaya perjalanan dari satu bus stop ke bus stop yang lainnya.

Saat pertama kali datang ke Singapura, terus terang saya tidak mencari informasi yang banyak di Internet atau bertanya ke teman-teman yang pernah atau sedang berada di sini. Pokoknya berangkat dulu, nanti sesampai di Singapura baru mencari tahu segala sesuatunya dan ini salah.

Akibat informasi yang sangat kurang, saya jadi harus banyak bertanya ke orang-orang padahal informasinya bisa saja didapatkan di Internet. Kekonyolan pertama adalah pertanyaan ke bus captain apakah satu kartu perjalanan ini bisa dipakai untuk dua orang (saya dan istri) karena waktu itu kartu saya tertinggal di kamar? Oh iya, untuk perjalanan dengan bus, kita masih bisa menggunakan uang tunai tapi harus pas, tidak boleh kurang dan boleh lebih. Jika uangnya lebih maka bus captain tidak akan mengembalikan sisanya tapi kalau kurang, bus captain akan meminta kekurangannya.

Sekedar catatan saja kalau biaya perjalanan dengan menggunakan uang tunai lebih mahal dibanding dengan menggunakan kartu. Saran saya untuk kondisi-kondisi kepepet saja menggunakan uang tunai untuk pembayaran.

Kekonyolan kedua adalah saat hendak turun di salah satu bus stop tujuan. Seharusnya saya menekan tombol ‘Stop’ biar bus captain berhenti di bus stop tersebut. Saya kena marah karena menempel kartu tetapi tidak menekan tombol ‘Stop’ sehingga tidak ada indikasi akan turun di bus stop ini. Akibatnya bus tidak berhenti di bus stop tujuan saya dan baru berhenti di bus stop berikutnya. Terpaksa harus jalan lebih jauh ke kantor Singtel.

Oh iya jika ingin mengetahui rute perjalanan setiap bus yang akan dilalui bisa dilihat di papan informasi yang ada di setiap bus stop.

Tapi fasilitas google map jauh lebih baik karena kita akan diberikan informasi bus-bus mana saja yang dapat digunakan dari tempat awal keberangkatan ke tempat tujuan lain yang diinginkan.

8 Marine Terrace Pagi Ini

Semoga keberkahan senantiasa Allah SWT turunkan ke bumi ini. Pagi ini cuaca di sekitar rumah begitu sejuk dengan turunnya hujan. Hembusan angin yang masuk ke dalam rumah begitu dingin sampai meresap ke dalam tulang-tulang saya membuat badan begitu bugar untuk memulai aktifitas pagi, Alhamdulillah.

Buku Hortonworks versi cetak

Buku-buku ini saya cetak di Bandung untuk keperluan saya belajar hortonworks (hadoop). File-file PDF dari buku ini bisa didapatkan secara gratis di situs hortonworks. Proses cetak bukunya sendiri sekitar 3 hari kerja dan dikirim ke rumah di Bandung dengan menggunakan Gojek.

Minggu ini istri dan anak-anak kebetulan sedang berada di Bandung sehingga sekalian nitip dibawakan ke Singapura. Saya termasuk orang yang tidak bisa belajar lewat baca buku di komputer sehingga buku-buku yang ingin saya pelajari biasanya beli atau kalau ada versi ebook gratisnya maka saya akan cetak di Bandung. Total uang yang harus saya bayar untuk cetak bukunya sekitar Rp. 1.000.000.

Menjemput Istri dan Anak-anak dari Bandung

Malam ini saya ke Changi untuk menjemput istri dan anak-anak dari Bandung. Dengan penerbangan Air Asia Bandung tujuan Singapura (Penerbangan langsung). Berangkat dari bandara Husein Sastranegara Bandung pada pukul 16:00 dan tiba di bandara Changi sekitar pukul 18:45. Alhamdulillah sudah bisa berkumpul lagi setelah mereka seminggu di Bandung.

Saya sendiri tidak ikut ke Bandung karena pekerjaan lumayan padat di minggu-minggu ini sehingga istri dan anak-anak saja yang pulang untuk sebuah keperluan.

Setup Koneksi Internet dan TV di Rumah

Rumah tempat saya ngontrak di Singapura menggunakan akses Internet dengan kecepatan 300Mbps dengan biaya langganan sebesar S$34/bulan untuk masa kontrak 2 tahun. Saya berlangganan Internet dari operator M1 karena paket yang ditawarkan paling murah dibanding operator-operator lain seperti Singtel ataupun Starhub.

Tentu saja paket tersebut di luar TV karena biaya bundel paket Internet dan TV pastinya lebih mahal jika dibanding dengan Internet saja dan bisa diakali dengan Android Box.

Dari informasi teman, saya beli android box saat ada pameran komputer dan elektronik di Expo untuk keperluan TV streaming tadi. Untungnya sang landlord mau menyediakan monitor TV di rumah. Awalnya tidak ada, namun setelah saya menanyakan apakah bisa menyediakan? ternyata bisa dan alhamdulillah kami dibelikan sebuah monitor TV baru.

Selama hampir 2 tahun mengontrak rumahnya, ibu landlord-nya sangat baik ke kami. Jika perayaan hari raya Idul Fitri, Idul Adha, serta Natal dan tahun baru Cina maka ibu landlord akan mengurangi biaya sewa sebesar S$100 atau sebesar Rp. 1 juta rupiah, cukup besar bukan?

Setup koneksi Internet saya di rumah ini kira-kira seperti di atas. Modem (Huawei) dan wireless router (Asus) disediakan oleh pihak ISP sementara untuk keperluan komputer di kamar tidur, saya menggunakan tambahan router (Raspberry PI 3+) lain sehingga tidak perlu menarik kabel UTP dari ruang tamu ke ruang tidur.

Wireless router Asus yang ada di ruang tamu akan terkoneksi ke router Raspberry PI 3+ di ruang belajar & tidur anak-anak saya. Selanjutnya menggunakan kabel UTP dan switch untuk menghubungkan router Raspberry PI 3+ dengan komputer-komputer desktop yang ada.

Perangkat mobile HP akan terkoneksi dari wifi wireless router Asus yang ada di ruang tamu sedangkan android box untuk TV terhubung langsung ke wireless routes Asus menggunakan kabel UTP karena berada di ruang yang sama.

Tentang bagaimana setup konfigurasi jaringannya akan saya ulas di tulisan-tulisan berikutnya.

Manila – Filipina

Photo lama yang masih tersimpan di external drive sebagai kenang-kenangan kalau pernah tinggal sementara (stay) di Filipina beberapa tahun silam tepatnya bulan Mei – September 2014. Di sana, saya bekerja selama lima bulan untuk sebuah penugasan singkat (STA) ke Ericsson Filipina.

Waktu itu ada proyek proof of concept (PoC) untuk operator Smart Communications, Inc., saya bekerja dalam satu tim yakni project managernya (PM) adalah Tiaghu Raman (India Malaysia), Antonis dimitriadis (Yunani) untuk solution architect, Cherry Garcia dan Boong (Filipina), serta beberapa orang dari global support center (GSC) China. Dan sempat dikenalkan dengan Abu Bakar Ibrahim (Abs) yang kemudian bertemu lagi di Singapura karena penugasan ke sini.

Istri dan anak-anak ikut ke sana selama empat puluh hari setelah mengambil cuti panjang dari kantor. Kebetulan Naya waktu itu masih SD kelas 1 dan Ibnu masih TK 0 jadi masih gambang untuk minta izin meninggalkan sekolah.

Kami melewati puasa ramadhan, shalat idul fitri, dan pemilihan presiden dan wakil presiden (pilpres) tahun 2014 di sana. Ini adalah kali pertama kami berpuasa di luar negeri dan di negeri non muslim pula sehingga terdapat perbedaan ketika berada di Indonesia. Saat itu saya selalu jumatan di kedutaan Uni Emirat Arab, shalat taraweh di market-market mall dan idul fitri di kedutaan besar Indonesia.

Tentu menjadi pengalaman tersendiri buat saya dan keluarga bagaimana tinggal di luar negeri jauh dari kampung halaman dan keluarga.

Photo ini diambil di depan gereja Manila Cathedral yang ada di dalam kota Intramuros – salah satu kota peninggalan Spanyol di sana.

Sisi lain yang masih berada di area gereja Manila Cathedral.

Ada sepeda dari bambu, keren idenya.

Berphoto dengan Naya di depan pintu gerbang Intramuros.

Kalau photo berikut di Manila Ocean Park yang masih berada di pusat kota Manila.

Masih di dalam area ocean park terdapat tempat mewarnai buat anak-anak. Naya dengan asyiknya mewarnai gambar sementara Ibnu asyik dengan bola.

Saatnya pulang ke Bandung dengan pesawat Philippines Airlines setelah empat puluh hari di Manila tepatnya di Taguig Bonifacio Global City semacam kota di dalam kota Manila.

Singapura Punya Jalur Baru Untuk MRT

Beberapa bulan lalu, Singapura sudah punya jalur MRT baru yang menghubungkan Tampines – Bukit Panjang melalui Expo. Dengan jalur baru ini, setidaknya terdapat alternatif untuk menuju Singtel exchange di Bukit Panjang jika saya sedang berada di kantor Ericsson.

Selama ini saya menggunakan East West Line (jalur hijau) dengan transit di Bugis kemudian menggunakan Downtown Line (jalur biru) untuk sampai ke Singtel Bukit Panjang dengan waktu tempuh satu jam.

Datang Kepagian ke Kantor

Waktu itu datang kepagian ke kantor, belum ada rekan-rekan kerja yang datang kecuali resepsionis. Mending selfie dulu dengan batik sebagai budaya lokal Indonesia walaupun di luar negeri.

Ericsson Singapore office, one @ Changi City – 2018

Pagelaran Seni di Sekolah Indonesia Singapura (SIS)

Untuk kegiatan seni, Naya begitu antusias untuk ikut menjadi bagian dari pagelaran tersebut. Photo ini diambil saat acara kenaikan kelas beberapa waktu lalu di hall Sekolah Indonesia Singapura (SIS).

Masih di acara yang sama Naya dan teman-temannya sedang bermain angklung yang merupakan kesenian dari Jawa Barat. Setiap anak memegang angklung dengan nada berbeda-beda yang akan menghasilkan alunan musik yang indah saat dimainkan dengan pola tertentu.

Gambar-gambar Karikatur Keren di Bandara Changi Singapura

Singapura yang terkenal dengan negara yang multi etnis ini selalu menampilkan keragaman etnisnya seperti Melayu, Cina, serta India. Baliho, iklan-iklan yang bersifat sosial akan selalu menampilkan ketiga etnis ini. Sama halnya di bandara Changi Singapura, jika Anda berada di underpass terminal 4 maka akan disuguhi gambar karikatur yang keren-keren. Gambar karikaturnya menampilkan masyarakat Singapura era tempo dulu.

Karikatur yang satu ini untuk India ditandai dengan jenis masakan yang sedang dibuat, ada roti prata, murtabak, dan briyani.

Termasuk gambar berikut. Sepertinya sepasang suami istri sedang berjualan ornamen-ornamen khas orang India.

Sedangkan yang ini adalah untuk masyarakat Melayu. Pakcik dan makcik yang sedang berjualan.

Ibu yang sedang menjemur sarong batiknya.

Kalau yang berikut untuk etnis Cina ditandai dengan ornamen-ornamen yang berwarna-warni dan ada kalender Cina.

Seorang ibu yang sedang berjualan kueh di toko.

Seorang bapak yang sedang berjualan di warung tenda miliknya.

Terakhir salah satu buah favorit orang-orang Singapura adalah durian (menurut salah seorang customer saya di operator telekomunikasi di sini)

Kalau karikatur ini saya kurang paham makna dibalik gambarnya yang coba menampilkan kue, cangkir kopi/teh.

Di Merlion Park Singapura

Salah satu ikon wisata Singapura adalah Merlion Park yang terkenal itu dan tempat yang wajib didatangi oleh para wisatawan ketika berkunjung ke sini.

Saya lupa kapan saya ambil photo ini. Mungkin saat kunjungan kedua atau ketiga kalinya.

Buku Biografi Khalifah Rasulullah

Buku ini saya beli sekitar tahun 2013 saat masih bekerja di Ericsson Indonesia. Belinya di toko buku Gramedia di Pondok Indah Mall (PIM) Jakarta. Namun sayang belum sempat terbaca sampai saya ke Bandung kemarin dan melihat buku ini di tumpukan rak buku. Saya bawa ke Singapura untuk dibaca. Saat tulisan ini ditulis, baru selesai terbaca khalifah pertama setelah Rasulullah meninggal dunia yakni Abu Bakar.

Walaupun belum sempat membaca kisah Umar, Ustman dan Ali tapi setidaknya membuka sedikit wawasan saya tentang bagaimana perjuangan sahabat-sahabat utama Rasulullah untuk menegakkan Islam sepeninggal Rasulullah, bagaimana usaha sahabat untuk memerangi banyaknya nabi-nabi palsu yang bermunculan serta banyaknya orang-orang arab yang kembali menyembah berhala (murtad) setelah memeluk islam.

Tongkat estafet pertama dipegang oleh Abu Bakar untuk memimpin umat islam yang pusat pemerintahannya di Madinah. Saat pemilihan Abu bakar sebagai khalifah, awalnya terjadi perselisihan antar kaum Anshar (penduduk Madinah) dan kaum Muhajirin (penduduk Makkah) yang hijrah ke Madinah karena masing-masing kaum menginginkan menjadi pemimpin. dari Kaum Anshar ada Abu Ubaidah ibn al-Jarrah sementara dari kaum Muhajirin ada Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Umar tentu saja menolak untuk menjadi khalifah karena ada Abu Bakar salah satu sahabat paling utama nabi. Keutamaan-keutaman Abu Bakar akan saya ceritakan ditulisan yang lain saat mengupas satu demi satu kisah hidup para Khalifah Rasulullah.

Kaum Anshar memberi argumentasi mengapa pemimpin kaum muslimin harusnya dipegang olehnya. Mereka beralasan bahwa mereka adalah penolong Allah dan pemelihara Islam, sedangkan kalian – kaum Muhajirin – adalah kaum yang besar, namun sebagian kecil kaummu telah menyimpang.

Mendengar ucapan dari kaum Anshar, Abu Bakar bangkit berbicara yang dikenal sangat lemah lembut dan santun. Beliau memulai kata-katanya dengan pujian dan sanjungan kepada kaum Anshar. “Kebaikan yang kalian sebutkan tentang Anshar sama sekali tidak salah. Namun ketahuilah, kekhalifahan paling layak dipegang oleh seorang Quraisy yang mulia. Ia adalah orang Arab yang mulia dari sisi keturunan dan keluarga. Sungguh aku rida jika kekhalifahan dipegang oleh salah seorang dari dua orang mulia ini (Umar dan Abu Ubaidah). Berbaitlah kepada salah satu diantara keduanya sesuai dengan keinginan kalian”, ujar Abu Bakar sambil memegang tangan Umar ibn al-Khaththab dan Abu Ubaidah ibn al-Jarrah yang duduk di sisinya. Keduanya bangkit berdiri untuk dibaiat. Namu Umar berkata menanggapi ucapan Abu Bakar, “Sungguh aku menyukai ucapan Abu Bakar kecuali tentang diriku. Demi Allah, seandainya saat ini aku dibunuh dan mati, itu lebih kusukai dibanding harus memimpin suatu kaum yang di dalamnya ada Abu Bakar.”

Begitulah begitu banyaknya keutamaan yang dimiliki oleh Abu Bakar diantara para sahabat utama Rasulullah sehingga beliaunya yang paling layak menjadi Khalifah pertama kaum muslimin. Singkat cerita, Abu Bakarlah yang menjadi Khalifah pertama.

Beliau menjadi khalifah dalam waktu singkat yakni dua tahun lamanya. Selama periode kekhalifahannya, beliau memberantas nabi-nabi palsu yang banyak bermunculan, orang-orang murtad serta memerangi kaum Romawi dan Persia. Dari keseluruhan peperangan kaum muslimin hanya sekali saja kalah di medan perang itu pun karena koordinasi yang kurang baik.

Ketika kaum muslimin menghadapi pasukan Syria-Romawi di perang Yarmuk dimana pasukan kaum muslimin saat itu hanya berjumlah sekitar 24.000 yang dipimpin oleh Khalid ibn al-Walid sementara pasukan Romawi berjumlah 120.000 orang. Ada salah seorang pahlawan Islam yang ikut berperang dengan gagah berani yakni Said ibn Zaid. Biarlah ia menuturkan betapa dahsyatnya peperangan yang berlangsung di perang Yarmuk itu.

Pasukan Romawi datang mendekati kami dengan gegap gempita dan bergerak bagaikan sebuah gunung besar yang digerakkan tangan gaib. Di depan mereka berjalan para panglima perang dan para pendeta pembawa panji-panji Romawi sambil meneriakkan seruan peperangan. Di belakang mereka para tentara yang bersuara bagaikan halilintar menggemakan yel-yel peperangan.

Namun akhirnya pasukan Romawi kalah. Hiraklius raja Romawi merasa heran, bingung, kaget dan sedih mendengar kabar kekalahan pasukannya di Yarmuk. Ketika sisa pasukannya datang menghadap, Heraklius berkata, “Ceritakanlah kepadaku kaum yang mengalahkan kalian itu, bukankah mereka manusia biasa seperti kalian?”

Mereka menjawab, “Benar”. “Apakah jumlah mereka lebih banyak ataukah kalian yang lebih banyak?”

Salah seorang pemimpin pasukan yang tersisa itu berkata, “Kami kalah karena mereka adalah kaum yang selalu shalat di malam hari dan berpuasa di siang hari; mereka menepati janji, serta menyeruh kepada kebaikan-kebaikan dan mencegah kemungkaran; mereka saling menolong dan saling berbagi di antara mereka. Sebaliknya, kami adalah sekumpulan orang yang suka minum arak, berzina, melakukan segala yang diharamkan, mengkhianati janji, saling memurkai, menzalimi. menyeruh kepada keburukan serta mencegah manusia dari segala yang diridai Allah. Kami juga selalu membuat kerusakan di muka bumi.”

Heraklius berkata, “Engkau benar.”

Singapore, 9 August 2018.

Menikmat Angkutan Kota (Angkot) Bandung

Sudah lama saya tidak naik angkot saat berada di Bandung akibat banyaknya alternatif transportasi umum saat ini seperti gojek, gocar, grab. Dua minggu lalu (hari Sabtu dan Minggu) saya di Bandung untuk sebuah keperluan yang mendesak. Namun karena kartu telepon Indonesia saya tidak dilengkapi dengan paket data sehingga dua hari tersebut tidak memiliki akses Internet.

Jadilah saya tidak bisa menggunakan aplikasi online untuk memesan gojek/gocar/grab. Solusinya adalah menggunakan transportasi konvensional yakni angkutan kota alias angkot. Ternyata masih banyak masyarakat yang menggunakan angkot di tengah persaingan moda transportasi yang sangat beragam sekarang.

Photo yang saya ambil saat perjalanan dari Riung Bandung menuju Samsat (Sukarno Hatta) tanpa meminta izin terlebih dahulu ke penumpang lain (Maaf ya bu dan de’).

Asyik juga merasakan naik angkot setelah sekian lama tidak menggunakannya.

Gagap Teknologi – Pencairan Cek

Bekerja di industri teknologi informasi dan telekomunikasi seharusnya melek teknologi termasuk hal-hal yang berhubungan dengan dunia keseharian.

Minggu kemarin saya, istri, dan anak-anak ke bank OCBC untuk mencairkan cek sisa uang kursus bahasa inggris anak saya.

Baru kali ini saya berhubungan dengan urusan cek sehingga tidak tahu seluk beluknya dan konyolnya lagi tidak cari-cari di Internet sebelum berangkat.

Sesampai di bank OCBC di Paya Lebar mall, saya pun mengambil antrian. Sepuluh menit menunggu, giliran dipanggil oleh teller. saya perlihatkan cek tersebut ke teller bank dan setelah diperiksa olehnya, sang teller pun mengatakan bahwa pencairan bukan di teller OCBC, tetapi di deposit box atau ke teller bank DBS dimana cek akan dicairkan. Saya hanya memiliki rekening di bank DBS sehingga harus mencairkannya di bank DBS juga walaupun ceknya dari bank OCBC.

hehe, udik juga ternyata…

Yang lagi ramai tentang pelican crossing di Jakarta

Semalam sempat melihat berita yang lagi hangat di Jakarta tentang pembongkaran JPO (jembatan penyeberangan orang) dan menggantikannya dengan pelican crossing oleh gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Timbul pro dan kontra.

Saya sendiri mendukung tindakan tersebut karena tujuan utamanya adalah untuk estetika kota dan tujuan jangka panjang yakni akan disiapkan underpass untuk penyeberangan. Bagi saya ini bukan sesuatu yang perlu diperdebatkan karena sesuatu yang lumrah dan tidak terlalu istimewa.

JPO sendiri sebenarnya bisa menjadi ditampilkan lebih menarik tanpa merusak pemandangan/estetika kota. Saya ambil contoh di Singapura untuk penyeberangan orang ada tiga yakni JPO, pelican crossing, dan underpass. Ketiga-tiganya tetap dipakai.

Photo berikut terlihat pelican crossing di Marine Parade Singapura yang di sisi kirinya sedang ada proyek MRT.

Sementara photo berikut adalah salah satu Underpass untuk penyeberangan orang di stasiun MRT Paya Lebar yang menghubungkan bus stop dan stasiun MRT serta Mall perbelanjaan sehingga saling terintegrasi satu dengan yang lainnya.

Photo berikut untuk JPO di daerah Upper east coast road.

Terkadang masyarakat kita terlalu banyak menghabiskan energi untuk berdebat tentang sesuatu yang tidak perlu. Masih banyak hal lain yang lebih bermanfaat untuk dipikirkan dan bukan untuk diperdebatkan.

Singapura, 3-Agustus-2018

Ibnu tamat Taman Kanak-kanak Little Star SIS

Syukur alhamdulillah Ibnu telah lulus TK little star Sekolah Indonesia Singapura (SIS) bulan Juni ini dan Insya Allah Juli 2018 nanti masuk kelas satu di sekolah yang sama. Semoga berkah ilmu dan menjadi anak sholeh pemimpin dunia dan agama kelak yang akan menolong agama Allah.

Function di Perl

Hampir satu bulan saya tidak meng-update blog dan hari ini kebetulan saya lagi menulis beberapa skrip untuk keperluan kantor.

Beberapa bagian saya sudah lupa karena lama tidak menggunakan skrip tersebut. Skripnya adalah bagaimana menulis fungsi dan memanggil dalam program.


=head1 NAME

Lib::Function.pm - Perl module that will be used to populate all function

=head1 SYNOPSIS

B<use Lib::Function.pm>

=head1 LICENSE

This code is copyright by Askari Azikin <I<askari.azikin@ericsson.com>>,
This program comes with ABSOLUTELY NO WARRANTY.
You are free to redistribute this code under the terms of the GNU
General Public License, version 2 or later.

=head1 AUTHOR

Askari Azikin <askari.azikin@ericsson.com>

Copyright (C) 2017

Revision History:

* Apr 16, 2017 Askari Azikin First Draft

=cut

package Lib::Function;

use strict;
use warnings;

sub new
{
     my $class = shift;
     my $self = {
            outfile => shift,   # to store scalar variable
            result_array => [], # to store array variable
     };
     bless ($self, $class);
     return $self;
}

sub write_to_file_format1
{
    my ($self, $outfile, @result) = @_;
    $self->{outfile} = $outfile if defined($outfile);
    push (@{$self->{result_array}}, @result);

    open (FH, '>', $self->{outfile}) or die "open FH filehandle failed $!";
    for (@{$self->{result_array}})
    {
        print FH $_;
    }
    close(FH);
}

1;

Untuk memanggil fungsi di atas dapat menggunakan skrip berikut.


$call_func->write_to_file_format1($result_file, @result);

 

The Dependent Pass

Two months ago, my family had to leave Singapore for three days because their dependent pass was expired. While waiting my company to extend the DP, they had to use visit pass as temporary before getting the new DP. On that time, it had already been used two times for entering and staying in Singapore .

When my company extended my employment pass (EP), we decided not to extend my family’s dependent pass first for one reason that can’t be shared. but two months later, I had to extend it if they still wanted to stay here. It was consumed more than three weeks to get approval from MoM.

The visit pass will have maximum 30 days for allowing us to stay in Singapore on the first attempt. The second attempt onward, the immigration officer will reduce the maximum days of staying. When entering Singapore on that time, I explained to them that my family’s dependent pass was still on progress and hasn’t got approval yet then he gave me 30 days again so it’s good.

In the event of DP is not released/approved yet after 30 days, they have to leave Singapore again. When updating this blog, We have received the DP card.

Bandung was our choice for spending three days. In Bandung, we spent our time to do what we want such as shopping, eating at our favorite restaurant, and meeting our neighbourhood as I never see them for almost one year. So it is really nice, right?

This is a moment when we enjoyed our dinner at one restaurant in Bandung.

 

My Eating Habits

In Singapore, there are lots of food courts that we can find easily wherever we go. Most of people here are going out for breakfast, lunch, and dinner together with their family.

For me, I’m not really interested in it. I prefer taking my own lunch at office or going home for lunch rather than taking lunch at food court. But of course back to our choice!

There are two reasons why I prefer going home for lunch such as pick my son up from school and I’m very concern with the healthy food.

When eating foods at food court, everybody can’t guarantee the ingredients are cleaned well; how about the spoon, fork, and plate are being used? Have they already been washed with soap or water only?

One day, I and my colleague went for lunch at one of the food courts near from our customer office. While waiting my ordered food and standing in front of the court,  I saw the soup cup was washed without soap and ready to be used by another customer.

Seeing that situation, I changed my mind for having there and decided taking away at least try to avoid using their stuff.

-Eat only if you are hungry, and stop eating when you feel satisfied, not full-

Installing CPAN module without root access for Solaris OS

Manual Installation

In order to install CPAN modules without root access on Solaris OS, The following steps can be used:

1. Create lib/perl5 in your home directory (my prefer shell is bash so I change to bash)

 
> bash
$ pwd
/home/easkazi 
$ mkdir -p lib/perl5

2. Download/copy the CPAN module source from search.cpan.org and store them in the home directory e.g in CPAN directory.

$ mkdir CPAN
$ ls -ltr
Tk-ToolBar-0.12.tar.gz
Tk-804.034.tar.gz 
Tk-Splashscreen-1.0.tar.gz 

3. Unzip those CPANs by using the following command:

$ cd CPAN
$ tar -zxvf Tk-ToolBar-0.12.tar.gz
$ cd Tk-ToolBar-0.12

4. Install CPAN modules

 
$ /usr/perl5/bin/perlgcc Makefile.PL LIB=~/lib/perl5 PREFIX=~/lib/perl5
$ /usr/bin/gmake MAKE=/usr/bin/gmake
$ /usr/bin/gmake MAKE=/usr/bin/gmake test
$ /usr/bin/gmake MAKE=/usr/bin/gmake install

5. Add the new CPAN library so that Perl can find installed modules in the new library.

 
$ PERL5LIB=$PERL5LIB:/home/easkazi/lib/perl5
$ export PERL5LIB

The above is a temporary solution so when we log off and log on again to the system then shell prompt will not recognize that libraries. For this case, we have to add the following line in our scripts:


use lib '/home/easkazi/lib/perl5'

6. Ensure the CPAN module can be used by Perl

 
$ perl -e "use Tk::ToolBar"

The original source of this tutorial from http://twiki.org/cgi-bin/view/Codev/SolarisInstallCookbookPerlModules

Makan Siang Perpisahan dengan Phoebe

Baru sempat menulis cerita ini walaupun waktunya sendiri sudah beberapa bulan yang lalu. Tapi tidak mengapa setidaknya bisa buat kenang-kenangan suatu saat nanti. Proyek yang kita kerjakan di operator Singtel sudah hampir selesai waktu itu sehingga project manager kami memutuskan untuk mengurangi team.

Proyek ini memakan waktu selama dua tahun lamanya. Saya sendiri ikut ke proyek tersebut tidak dari awal. Phoebe adalah orang pertama yang ikut di dalamnya. Selama pengerjaannya silih berganti orang yang masuk dan keluar dan alhamdulillah dapat terselesaikan.

Berikut photo kenang-kenangan yang saya ambil saat makan siang perpisahan dengan Phoebe karena akan kembali lagi ke Ericsson China untuk penugasan berikutnya di negara lain lagi.

Sukses terus buat Phoebe….

 

Genap sudah usia saya 37 tahun

Tidak terasa hari ini sy berulang tahun yg ke 37. Setengah kurang dari usia Rasulullah. Ya Allah berikanlah kepada hambamu ini keberkahan di sisa usia hambamu ini.

Karena istri dan anak-anak sedang berada di Bandung jadi terpaksa makan di luar sendiri. Hari ini sy mampir ke bebek pak Ndut di Tampines persis di samping stasiun MRT. Awal perkenalan saya dengan restoran bebek pak Ndut ini dari salah satu teman kantor. Beliau mentraktir kami di suatu siang saat jam istirahat kantor.

Karena kurang pergaulan, saya baru ngeh kalau ada restoran ini di daerah Tampines padahal saya setahun tinggal di daerah sana (Jan 2016 – Jan 2017).

Menu yang saya pesan bebek goreng, tahu telur, dan es cendol.

 

Akhirnya Bisa Punya Waktu Setup Email kawananu.com

Setelah sekian lama tidak sempat untuk setup mail server kawananu.com. Akhirnya hari ini saya sempat dan sudah berjalan dengan baik. Bagi siapa saja yang ingin berkorespondensi dengan saya bisa melayakankan email ke kari @ kawananu.com ( tanpa spasi).

Bagi yang mengirimkan e-mail dari gmail, silahkan untuk memeriksa direktori spam gmail anda karena email dari kawananu.com dikategorikan sebagai spam.

The end of December 2017

I can’t imagine that now by the end of December 2017, I have been working and living in Singapore for 2 years. I want to say Alhamdulillah to Allah SWT.

For my family, they moved to here as well on February 2017 to accompany me. Embassy of the republic of Indonesia has made School for our Indonesian people so that it’s easy for us who has children need to go to school. Of course the curriculum will be not different with school in Indonesia.

So far, We really enjoy living in Singapore due to this is the first time I can live with them together as before I worked in Jakarta and on the other hand my wife and our children lived in Bandung and I could only meet them on the weekend.

Now, I can take my children to school and pick them up on the afternoon back to home. I have lost my times with my children for almost 7 years and syukur Alhamdulillah, Allah gives me times for living with my lovely family now.

Singapore, December 2017.

Making an argument as optional in Python function

Sometimes we need to make an argument as optional so that people using the function can choose to provide extra information only if they want to.

For example, say we want to expand get_user_name() in the previous topic to handle middle names as well.

Here is the python code to fulfill the the requirement above:


#!/usr/bin/python

# Give the middle_name argument an empty default value and ignore
# the argument unless the user provides a value,
# We set default value of middle_name to an empty string and 
# move it to the end of the list parameters

def get_user_name (first_name,last_name,middle_name=''):
    """ Return a full name"""
    if middle_name:
       full_name = first_name + ' ' + middle_name + ' ' +last_name
    else:
        full_name = first_name + ' ' +last_name
 
    return full_name.title()
 
my_user_name = get_user_name('Askari','Azikin')
my_completed_user_name = get_user_name('Askari','Azikin','Basa')
 
print(my_user_name)
print(my_completed_user_name)

Penulisan Fungsi di Python dan di Perl

Fungsi di bahasa pemrograman berfungsi untuk menghindari penulisan kode program yang berulang sehingga untuk melakukan sebuah fungsi atau perintah tertentu cukup dituliskan satu kali saja.

Berikut penulisan fungsi di Python dan di Perl:

Di bahasa Python fungsi selalu diawali dengan kata ‘def’

#!/usr/bin/python

def get_user_name (first_name,last_name):
    full_name = first_name + ' ' + last_name
    return full_name.title() # or return full_name

my_user_name = get_user_name('Askari','Azikin')
print (my_user_name)

Sedangkan di bahasa Perl, fungsi selalu diawali dengan kata ‘sub’. karakter ‘$$’ menunjukkan bahwa fungsi tersebut akan menerima inputan sebanyak dua variabel skalar. karakter ini bersifat opsional saja sehingga bisa saja tidak dituliskan. Sedangkan ‘@_’ bisa juga diganti dengan ‘shift’ dimana keduanya untuk menerima masukan/input untuk selanjutnya diproses di dalam fungsi tersebut.

#!/usr/bin/perl -w

sub get_user_name ($$)
{
   my ($first_name, $last_name) = @_;
   my $full_name = "$first_name $last_name";
   return $full_name;
}

my $user_name = get_user_name ('Askari', 'Azikin');
print "$user_name\n";

Menyalin keluaran dari linux command line ke sebuah file

Materi ini sebenarnya pernah saya tulis di buku saya yang berjudul ‘Debian GNU/Linux’ tapi saya tidak memiliki softcopy-nya lagi sekarang sementara hardcopy-nya ada di Bandung. Saat ini saya lagi ngoprek tentang Hadoop di atas mesin virtualisasi dan seluruh output-nya ingin saya simpan dalam bentuk logfile.

Di mesin server saya tidak ada X-Window sehingga seluruh aktifitas saya di Linux harus menggunakan command line.

Untuk menyimpan seluruh logfile dari command line dapat menggunakan perintah berikut:


debian:~# command | tee -a result.log

alternatif lain:


debian:~# command &> result.log

Bedanya adalah pada perintah pertama outputnya akan ditampilkan di layar monitor dan saat yang bersamaan juga tersalin ke result.log sementara perintah kedua tidak.

Tujuan saya sebenarnya perintah berikut:


debian:~# xl create -c HadoopDataNode.cfg | tee -a result.log

 

Python untuk Perl Programmer

Karena kebutuhan untuk big data, saya mulai mendalami Python namun Perl tentu saja masih menjadi bahasa favorit saya.

Mudahan-mudahan ada kesempatan untuk membuat buku dengan judul ‘Python untuk Perl Programmer’. Berikut perbandingan kode program untuk menghasilkan keluaran yang sama.

Perl

Python

Liburan Sekolah telah tiba

Liburan sekolah tahun ini kami kedatangan tamu dari Bandung. Danti adik sepupu istri mengambil cuti kerja untuk liburan ke Singapura yang bertepatan dengan liburan sekolah anak-anak saya. Banyak waktu luang buat anak-anak dan Danti selama liburan kali ini.

Berbagai tempat kami datangi sekedar untuk menemani Danti selama di sini.

Beberapa photo yang sempat saya abadikan sebagai berikut minus Danti untuk menjaga privasi orang:

1. Ayah, Bunda dan Kakak Naya di Universal Studio Singapore

2. Ayah, Bunda, Kakak Naya, Ibnu di Merlion Park Singapore

3. Ayah, Bunda, Kakak Naya, Ibnu di Merlion Park Singapore