Melaka, Bulan Desember 2018

Rencana awal untuk liburan anak sekolah kali ini akan ke Genting Highlands Malaysia. Namun setelah membandingkan Melaka, akhirnya kami memutuskan berlibur ke Melaka. Sabtu pagi tanggal 22 Desember 2018, berangkat dari terminal bus Queen street Singapore menuju terminal bus Larkin Johor Bahru – Malaysia untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Parit Raja – Batu Pahat. Di Parit Raja, Istri akan bertemu dengan Prof. Dr. Mustafa di UTHM untuk konsultasi perkembangan research PhD-nya.

Cerita tentang Parit Raja akan saya tulis di kesempatan yang lain. Keesokan harinya, kami berangkat ke Melaka. Tiket dari Parit Raja ke Melaka sudah istri pesan secara online saat masih di Singapore. Kebetulan ada opsi pemberangkatan dari Klinik kesihatan Parit Raja (menunggu di halte bus) yang tidak jauh dari UTHM.

Dari Parit Raja, kami naik Orkid Malaysia Express menuju Melaka (Melaka Sentral – terminal bus). Berangkat sekitar pukul 15:00 sore dan sampai di Melaka sekitar pukul 17:30. Perjalanan tidak melalui high way atau jalan tol tapi melewati jalan provinsi. Rumah-rumah panggung tipe rumah yang ada di film upin-ipin banyak terlihat sepanjang perjalanan.

Mata ini tidak sanggup terjaga sepanjang perjalanan sehingga saya pun akhirnya tertidur menyusul Ibnu dan Naya yang sudah terlelap lebih dulu sementara istri tetap terjaga untuk melihat suasana sepanjang perjalanan.

Tiga hari dua malam saya habiskan waktu bersama istri dan anak-anak di sana. Malam pertama menginap di hotel equatorial. Pemilihan hotel ini karena posisinya yang sangat strategis karena terletak di sekitar A Famosa, Istana kesultanan MelakaChrist Church Melaka, Melaka Islamic Museum, Maritime Museum, Cheng Ho Cultural Museum, Proclamation of Independence Memorial, sungai Melaka, dan beberapa museum lain di sekitar tempat tersebut.

Hari Minggu, 23 Desember 2018 – Hari Pertama

Setelah check-in, bersih-bersih badan, dan menunaikan shalat Ashar dan Dzuhur dengan jama’ takhir di hotel, agenda selanjutnya menuju A Famosa. Tidak lupa mengambil photo Naya dan Ibnu di kamar hotel dengan latar belakang lukisan sungai Melaka ini.

Kami pun menuju A Famosa sekitar 5 menit perjalanan dari hotel tempat kami menginap. Lihat saja photo Ibnu dengan gaya terinspirasi dari Ultramen.

Ibnu dan Naya dengan gambar latar A Famosa yang terkenal itu sebagai salah satu cagar budaya Melaka.

Tangga menuju gereja lama yang terletak di ketinggian serta beberapa kuburan kuno yang berada di samping kiri dan kanan saat menaiki anak tangga.

Lihat saja gaya Ibnu yang super keren itu.

Hari mulai menjelang Maghrib dengan cahaya lampu A Famosa.

Perjalanan selanjutnya menuju bibir sungai Melaka untuk makan malam di sana. Atas rekomendasi kasir dari toko oleh-oleh, kami memutuskan untuk makan di Dutch Harbour Cafe walaupun di tangan istri sudah banyak rekomendasi makanan yang sudah dipersiapkannya. Ini semua karena alasan jarak dan jalan yang macet untuk menuju ke tujuan sehingga cari yang dekat-dekat saja. Saat memesan Grab, dibutuhkan waktu sekitar 20-30 menitan untuk sampai, belum lagi perjalanan menuju ke tempat makan. Saya dan istri memilih beef steak sementara Ibnu dengan nasi arabnya dan Naya dengan fish and fries-nya.

Setelah cukup puas menikmati suasana malam di bibir sungai Melaka, kami pun pulang ke hotel untuk istirahat malam.

Hari Senin, 24 Desember 2018 – Hari kedua

Hari kedua, aktifitas pagi dimulai dengan berenang di kolam renang hotel dan ini adalah yang ditunggu-tunggu Ibnu dan Naya. Mereka berdua paling senang yang namanya berenang. Satu setengah jam dihabiskan di kolam renang kemudian dilanjutkan dengan mandi dan sarapan pagi.

Check-out dan menitipkan koper di resepsionis hotel karena waktu check-out jam 12:00 siang sementara di hotel berikutnya baru bisa check-in jam 15:00. Selanjutnya kembali ke area A Famosa, wahana yang bisa dinikmati anak-anak adalah Pirate Adventure. Ibnu begitu ketakutan saat melihat jelmaan-jelmaan manusia aneh itu.

Setelah puas dengan Pirate Adventure, selanjutnya menuju ke istana kesultanan Melaka yang masih terletak di area yang sama. Setelah membayar beberapa ringgit, kami pun masuk ke area istana untuk melihat-lihat suasana di dalam istana raja.

Beberapa photo sempat saya abadikan sebagai kenang-kenangan.

Dari Istana Kesultanan Melaka, perjalanan dilanjutkan ke museum meteor dan museum Islam Melaka. Photo Naya ini sedang berada di tingkat dua dari museum Islam Melaka yang terletak di kaki bukit A Famosa.

Tentu saja Dinosour adalah tokoh film kesukaan Ibnu sehingga hal wajib untuk berphoto di depannya.

Waktu sudah menunjukkan pukul 14:30 dengan panas matahari yang sangat terik dan sudah menghabiskan 3 botol air mineral. Dari museum Islam Melaka, kami kembali ke hotel equatorial untuk mengambil koper dan selanjutnya menuju hotel RC Melaka yang berada persis di bibir sungai Melaka. Hotelnya juga begitu dekat dengan Jonker Street dan Cheng Ho yang terkenal itu.

Photo hotelnya diambil saat sedang berada di atas kapal river cruise menjelang Maghrib.

Di hotel RC, waktunya beristirahat sejenak sambil menunggu sore hari. Setelah merasa cukup, langkah kami berikutnya ke museum samudera dan naik river cruise di sungai Melaka.

Dari hotel RC ke pelabuhan kapal bisa ditempuh kurang lebih 15 menit jalan kaki menelusuri bibir sungai Melaka. Istri, Naya, dan Ibnu sempat mengabadikan gambar.

Di batu prasasti Laksamana Cheng Ho yang terletak di bibir sungai.

Dilanjutkan ke kincir angin yang terletak persis di seberang gereja Christ.

“Belum pergi ke Melaka kalau belum naik river cruise ini”, begitulah jargon-jargon yang ada di sekitar pelabuhan kapal-kapal kecil itu.

Setelah membayar tiket kapal dan menunggu giliran untuk naik kapal, tidak lupa pastinya mengambil photo dengan latar belakang tulisan @sungaimelaka.

Di atas kapal yang akan membawa kami mengarungi sungai Melaka.

Suasana menjelang Maghrib di sungai Melaka di atas kapal yang membawa kami. Ada percikan-percikan air sungai yang masuk ke dalam deck karena ombak-ombak kecil sungai yang menabrak kapal.

Lihat saja video yang sempat direkam istri sepanjang perjalanan di sungai Melaka yang nan indah ini.

 

Hari Selasa, 25 Desember 2018 – Hari ketiga

Hari ketiga tepatnya Selasa 25 Desember, Sarapan pagi di cafetaria hotel RC tempat kami menginap yang berseberangan langsung dengan sungai Melaka.

Ibnu memesan nasik lemak sementara Naya kebagian omlet, sosis, dan kentang.

Tidak berlama-lama untuk sarapan, kami melanjutkan wisata perjalanan ke museum Cheng Ho yang sangat mendunia itu.

Kemudian ke Orangutang House milik Charles Cham. Berikut hasil karya dari Charles yang saya beli sebagai oleh-oleh pulang ke Singapore.

Lanjut ke Upside Down House yang letaknya tidak begitu jauh dari museum samudera.

Dari sana kembali ke hotel RC untuk mengambil koper dan langsung menuju ke terminal bus Melaka Sentral. Tujuan berikutnya adalah ke terminal Larkin di Johor Bahru. Jarak tempuhnya sekitar 3 jam Melaka – JB. Tiket bus-nya sudah dibeli istri secara online juga saat masih di Singapore. Dari Larkin naik Causeway Link menuju Singapore.

Ada sedikit masalah saat di check point/imigrasi Malaysia sehingga Istri dan Ibnu harus menginap terlebih dahulu di JB semalaman sementara saya dan Naya sudah harus kembali ke Singapore malam itu juga berhubung passport sudah tercap duluan.

Istri memegang visa pelajar Malaysia dan karena pergantian passport baru di kedutaan besar Indonesia Singapore sehingga otomatis passport lama tidak berlaku lagi walaupun masih ada sisa waktu sekitar 5 bulan lagi.

Passport lama dalam kondisi sudah tergunting dan secara otomatis sudah tidak berlaku. Masalahnya adalah visa pelajar istri saya tertempel di passport lama yang sudah tidak berlaku itu.

Untuk memindahkan visa dari passport lama ke passport baru harus melibatkan pihak universitas tempat istri mengambil S3 dan tidak memungkinkan untuk kembali lagi ke Parit Raja.

Istri kemudian disuruh ke kantor imigrasi Malaysia yang ada di JB untuk mendapatkan stempel khusus dan harus kembali ke Malaysia untuk memperbaharui visa pelajarnya kembali.

Ya sudahlah nanti akan diurus lagi di lain waktu, intinya visa pelajar istri jangan sampai hangus karena akan menyulitkannya saat keluar masuk Malaysia.

Evolusi Jam Tangan Dari Tahun ke Tahun

Tahun 2006 saya menggunakan jam tangan merek casio (favorit) yang saya beli di Makassar dan masih terus dipakai hingga saat ini. Yang sering diganti hanya baterai dan tali jam saja. Berarti sudah 12 tahun menggunakan jam ini. Harganya kalau tidak salah waktu itu sekitar Rp. 275.000.

Berikutnya, jam merek Q&Q dibeli di Bandung sekitar tahun 2013 dengan harga Rp. 250.000 yang saya pakai kurang lebih 2 tahun hingga baterai jamnya mati.

Jam tangan ketiga adalah merek Swatch yang saya beli tahun 2014 di Pondok Indah Mall (PIM) dengan harga Rp. 1.300.000 dan bertahan sekitar 3 tahun sampai talinya rusak. Masalahnya adalah toko Swatch tidak menyediakan tali original sehingga tidak bisa mendapatkan jenis tali jam yang sama dengan aslinya walaupun jamnya sendiri masih bagus.

Jam berikutnya merek Mondaine yang saya beli di Singapura lewat online di https://www.chrono24.com dan barangnya dikirim dari Jerman di awal tahun 2018 ini dengan harga USD $270.

Jika saya perhatikan ternyata setiap pergantian jam dari tahun ke tahun, harga jamnya semakin mahal mengikuti kurva berikut kecuali jam tangan kedua merek Q&Q. Jika saya ukur-ukur saya masih termasuk yang mengikuti kurva warna biru. Dalam arti kata walaupun harga jam yang saya beli meningkat tapi masih dalam batas yang wajarlah.

Perangkat-perangkat elektronika di dalam bus Singapura dan kekonyolan-kekonyolan saya

Setiap bus di Singapura selalu dilengkapi dengan perangkat elektronika yang berada di samping bus captain (pengemudi) dan di bagian tengah. Satu set (depan+tengah) untuk pelanggan yang digunakan untuk menempelkan kartu perjalanan ketika naik sebagai penanda awal perjalanan dengan jumlah minimal saldo yang telah ditentukan dan satu lagi di bagian tengah ketika akan turun. Saat menempelkan kartu untuk keluar bus, biaya perjalanannya akan terlihat di monitor alat tersebut dan saldo di kartu perjalanan kita akan berkurang secara otomatis.

Dua alat lainnya untuk keperluan sang bus captain. Satu sebagai alat GPS yang berisi peta perjalanan dan satu lagi untuk mengetahui biaya perjalanan dari satu bus stop ke bus stop yang lainnya.

Saat pertama kali datang ke Singapura, terus terang saya tidak mencari informasi yang banyak di Internet atau bertanya ke teman-teman yang pernah atau sedang berada di sini. Pokoknya berangkat dulu, nanti sesampai di Singapura baru mencari tahu segala sesuatunya dan ini salah.

Akibat informasi yang sangat kurang, saya jadi harus banyak bertanya ke orang-orang padahal informasinya bisa saja didapatkan di Internet. Kekonyolan pertama adalah pertanyaan ke bus captain apakah satu kartu perjalanan ini bisa dipakai untuk dua orang (saya dan istri) karena waktu itu kartu saya tertinggal di kamar? Oh iya, untuk perjalanan dengan bus, kita masih bisa menggunakan uang tunai tapi harus pas, tidak boleh kurang dan boleh lebih. Jika uangnya lebih maka bus captain tidak akan mengembalikan sisanya tapi kalau kurang, bus captain akan meminta kekurangannya.

Sekedar catatan saja kalau biaya perjalanan dengan menggunakan uang tunai lebih mahal dibanding dengan menggunakan kartu. Saran saya untuk kondisi-kondisi kepepet saja menggunakan uang tunai untuk pembayaran.

Kekonyolan kedua adalah saat hendak turun di salah satu bus stop tujuan. Seharusnya saya menekan tombol ‘Stop’ biar bus captain berhenti di bus stop tersebut. Saya kena marah karena menempel kartu tetapi tidak menekan tombol ‘Stop’ sehingga tidak ada indikasi akan turun di bus stop ini. Akibatnya bus tidak berhenti di bus stop tujuan saya dan baru berhenti di bus stop berikutnya. Terpaksa harus jalan lebih jauh ke kantor Singtel.

Oh iya jika ingin mengetahui rute perjalanan setiap bus yang akan dilalui bisa dilihat di papan informasi yang ada di setiap bus stop.

Tapi fasilitas google map jauh lebih baik karena kita akan diberikan informasi bus-bus mana saja yang dapat digunakan dari tempat awal keberangkatan ke tempat tujuan lain yang diinginkan.