Toe Injury

Last week, my son Ibnu got an accident when he run around at home from bedroom to kitchen, dining area, and living room. He didn’t clean up the room before he run and there was a clear tape on the floor. Somehow he step on the clear tape and he got slice on his toe.

He cried loudly so that everybody woke up when hearing weeping. During the weekend, normally we continue our sleep until early noon.  My wife took adhesive bandage from the first aid kit box and wrap it to his toe.

Few minutes later, he stopped crying and doing what he wanted to do. In the evening, I asked him to take a bath as he hasn’t done so since the morning. He scared with his sliced toe so we suggested him wrapping it with plastic wrap.

In the night, my wife gave antiseptic to his sliced toe  in order to avoid infection. Indeed, antiseptic will make ache to his toe and wrap again with adhesive bandage for the second time.

Look at his sliced toe one week later which is today before I wrote this article.

Meet my Wife’s Professor

On last Sunday early morning, I went to Parit Raja to meet my wife’s Ph.D supervisor Prof. Dr. Mustafa at UTHM for asking his signature and stamp. My wife couldn’t come to Malaysia because her student visa issue.

Our passport was just renewed at Indonesian Embassy in Singapore and definitely the old passport has been invalid anymore. Her old passport contains the student visa sticker and it can not be taken out and moved to her new passport.

Last two weeks ago all of us went to Parit Raja and continued to Malacca for short time vocation in order to fulfill my children free time during their school holiday. At the Woodlands Malaysia check point, the immigration officer checked my wife’s visa for a while and escalated to his manager regarding the student visa was still on the old passport. Finally, he stamped wife’s passport using special stamp and asked to contact UTHM’s international officer to process her student visa. She needs a new visa sticker on the new passport.

The problem is when my wife asking the UTHM international officer, her passport will be hold by her campus for a while as they need to wait few applications to go to immigration officer which location in Johor Bahru and quite far from Parit Raja. Consequently, she needs to stay at Parit Raja at least one week until she received her passport with a new visa sticker.

If my wife has to stay there then it will become terrible. I can not handle at all while working as my children are still need her assist. At the end, we decided to hold the processing of her student visa as it’s only valid until April this year and has to be renewed. So, the time duration is only four months more.

Leaving home on Sunday morning at 06:30 AM using bus to Queen Street bus station. I used Causeway Link bus to bring me to Larkir bus station in Johor Bahru. I arrived at Larkin around 8.30 AM and I needed to wait around 30 minutes as the next bus departure which would bring us to Parit Raja at 9:00 AM.

Two hours later, I arrived in Parit Raja. I asked the bus captain to align me at UTHM bus stop. From there, walking around 15 minutes to FSKTM faculty office then going upstairs to 2nd storey where Prof. Dr. Mustafa’s room is located. I met with him, had a short discussion, signed and stamped my wife’s document.

He brought me to the best beriyani rice restaurant in Batu Pahat and took me to Batu Pahat bus station because my bus departure at 01:30 PM to Larkin. Arriving in Larkin at 03:00 PM and continued to Singapore using Causeway Link bus. I arrived at home at 05:30 PM. Alhamdulillah..

Thanks to Prof. Dr. Mustafa for his hospitality so far.

Melaka, Bulan Desember 2018

Rencana awal untuk liburan anak sekolah kali ini akan ke Genting Highlands Malaysia. Namun setelah membandingkan Melaka, akhirnya kami memutuskan berlibur ke Melaka. Sabtu pagi tanggal 22 Desember 2018, berangkat dari terminal bus Queen street Singapore menuju terminal bus Larkin Johor Bahru – Malaysia untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Parit Raja – Batu Pahat. Di Parit Raja, Istri akan bertemu dengan Prof. Dr. Mustafa di UTHM untuk konsultasi perkembangan research PhD-nya.

Cerita tentang Parit Raja akan saya tulis di kesempatan yang lain. Keesokan harinya, kami berangkat ke Melaka. Tiket dari Parit Raja ke Melaka sudah istri pesan secara online saat masih di Singapore. Kebetulan ada opsi pemberangkatan dari Klinik kesihatan Parit Raja (menunggu di halte bus) yang tidak jauh dari UTHM.

Dari Parit Raja, kami naik Orkid Malaysia Express menuju Melaka (Melaka Sentral – terminal bus). Berangkat sekitar pukul 15:00 sore dan sampai di Melaka sekitar pukul 17:30. Perjalanan tidak melalui high way atau jalan tol tapi melewati jalan provinsi. Rumah-rumah panggung tipe rumah yang ada di film upin-ipin banyak terlihat sepanjang perjalanan.

Mata ini tidak sanggup terjaga sepanjang perjalanan sehingga saya pun akhirnya tertidur menyusul Ibnu dan Naya yang sudah terlelap lebih dulu sementara istri tetap terjaga untuk melihat suasana sepanjang perjalanan.

Tiga hari dua malam saya habiskan waktu bersama istri dan anak-anak di sana. Malam pertama menginap di hotel equatorial. Pemilihan hotel ini karena posisinya yang sangat strategis karena terletak di sekitar A Famosa, Istana kesultanan MelakaChrist Church Melaka, Melaka Islamic Museum, Maritime Museum, Cheng Ho Cultural Museum, Proclamation of Independence Memorial, sungai Melaka, dan beberapa museum lain di sekitar tempat tersebut.

Hari Minggu, 23 Desember 2018 – Hari Pertama

Setelah check-in, bersih-bersih badan, dan menunaikan shalat Ashar dan Dzuhur dengan jama’ takhir di hotel, agenda selanjutnya menuju A Famosa. Tidak lupa mengambil photo Naya dan Ibnu di kamar hotel dengan latar belakang lukisan sungai Melaka ini.

Kami pun menuju A Famosa sekitar 5 menit perjalanan dari hotel tempat kami menginap. Lihat saja photo Ibnu dengan gaya terinspirasi dari Ultramen.

Ibnu dan Naya dengan gambar latar A Famosa yang terkenal itu sebagai salah satu cagar budaya Melaka.

Tangga menuju gereja lama yang terletak di ketinggian serta beberapa kuburan kuno yang berada di samping kiri dan kanan saat menaiki anak tangga.

Lihat saja gaya Ibnu yang super keren itu.

Hari mulai menjelang Maghrib dengan cahaya lampu A Famosa.

Perjalanan selanjutnya menuju bibir sungai Melaka untuk makan malam di sana. Atas rekomendasi kasir dari toko oleh-oleh, kami memutuskan untuk makan di Dutch Harbour Cafe walaupun di tangan istri sudah banyak rekomendasi makanan yang sudah dipersiapkannya. Ini semua karena alasan jarak dan jalan yang macet untuk menuju ke tujuan sehingga cari yang dekat-dekat saja. Saat memesan Grab, dibutuhkan waktu sekitar 20-30 menitan untuk sampai, belum lagi perjalanan menuju ke tempat makan. Saya dan istri memilih beef steak sementara Ibnu dengan nasi arabnya dan Naya dengan fish and fries-nya.

Setelah cukup puas menikmati suasana malam di bibir sungai Melaka, kami pun pulang ke hotel untuk istirahat malam.

Hari Senin, 24 Desember 2018 – Hari kedua

Hari kedua, aktifitas pagi dimulai dengan berenang di kolam renang hotel dan ini adalah yang ditunggu-tunggu Ibnu dan Naya. Mereka berdua paling senang yang namanya berenang. Satu setengah jam dihabiskan di kolam renang kemudian dilanjutkan dengan mandi dan sarapan pagi.

Check-out dan menitipkan koper di resepsionis hotel karena waktu check-out jam 12:00 siang sementara di hotel berikutnya baru bisa check-in jam 15:00. Selanjutnya kembali ke area A Famosa, wahana yang bisa dinikmati anak-anak adalah Pirate Adventure. Ibnu begitu ketakutan saat melihat jelmaan-jelmaan manusia aneh itu.

Setelah puas dengan Pirate Adventure, selanjutnya menuju ke istana kesultanan Melaka yang masih terletak di area yang sama. Setelah membayar beberapa ringgit, kami pun masuk ke area istana untuk melihat-lihat suasana di dalam istana raja.

Beberapa photo sempat saya abadikan sebagai kenang-kenangan.

Dari Istana Kesultanan Melaka, perjalanan dilanjutkan ke museum meteor dan museum Islam Melaka. Photo Naya ini sedang berada di tingkat dua dari museum Islam Melaka yang terletak di kaki bukit A Famosa.

Tentu saja Dinosour adalah tokoh film kesukaan Ibnu sehingga hal wajib untuk berphoto di depannya.

Waktu sudah menunjukkan pukul 14:30 dengan panas matahari yang sangat terik dan sudah menghabiskan 3 botol air mineral. Dari museum Islam Melaka, kami kembali ke hotel equatorial untuk mengambil koper dan selanjutnya menuju hotel RC Melaka yang berada persis di bibir sungai Melaka. Hotelnya juga begitu dekat dengan Jonker Street dan Cheng Ho yang terkenal itu.

Photo hotelnya diambil saat sedang berada di atas kapal river cruise menjelang Maghrib.

Di hotel RC, waktunya beristirahat sejenak sambil menunggu sore hari. Setelah merasa cukup, langkah kami berikutnya ke museum samudera dan naik river cruise di sungai Melaka.

Dari hotel RC ke pelabuhan kapal bisa ditempuh kurang lebih 15 menit jalan kaki menelusuri bibir sungai Melaka. Istri, Naya, dan Ibnu sempat mengabadikan gambar.

Di batu prasasti Laksamana Cheng Ho yang terletak di bibir sungai.

Dilanjutkan ke kincir angin yang terletak persis di seberang gereja Christ.

“Belum pergi ke Melaka kalau belum naik river cruise ini”, begitulah jargon-jargon yang ada di sekitar pelabuhan kapal-kapal kecil itu.

Setelah membayar tiket kapal dan menunggu giliran untuk naik kapal, tidak lupa pastinya mengambil photo dengan latar belakang tulisan @sungaimelaka.

Di atas kapal yang akan membawa kami mengarungi sungai Melaka.

Suasana menjelang Maghrib di sungai Melaka di atas kapal yang membawa kami. Ada percikan-percikan air sungai yang masuk ke dalam deck karena ombak-ombak kecil sungai yang menabrak kapal.

Lihat saja video yang sempat direkam istri sepanjang perjalanan di sungai Melaka yang nan indah ini.

 

Hari Selasa, 25 Desember 2018 – Hari ketiga

Hari ketiga tepatnya Selasa 25 Desember, Sarapan pagi di cafetaria hotel RC tempat kami menginap yang berseberangan langsung dengan sungai Melaka.

Ibnu memesan nasik lemak sementara Naya kebagian omlet, sosis, dan kentang.

Tidak berlama-lama untuk sarapan, kami melanjutkan wisata perjalanan ke museum Cheng Ho yang sangat mendunia itu.

Kemudian ke Orangutang House milik Charles Cham. Berikut hasil karya dari Charles yang saya beli sebagai oleh-oleh pulang ke Singapore.

Lanjut ke Upside Down House yang letaknya tidak begitu jauh dari museum samudera.

Dari sana kembali ke hotel RC untuk mengambil koper dan langsung menuju ke terminal bus Melaka Sentral. Tujuan berikutnya adalah ke terminal Larkin di Johor Bahru. Jarak tempuhnya sekitar 3 jam Melaka – JB. Tiket bus-nya sudah dibeli istri secara online juga saat masih di Singapore. Dari Larkin naik Causeway Link menuju Singapore.

Ada sedikit masalah saat di check point/imigrasi Malaysia sehingga Istri dan Ibnu harus menginap terlebih dahulu di JB semalaman sementara saya dan Naya sudah harus kembali ke Singapore malam itu juga berhubung passport sudah tercap duluan.

Istri memegang visa pelajar Malaysia dan karena pergantian passport baru di kedutaan besar Indonesia Singapore sehingga otomatis passport lama tidak berlaku lagi walaupun masih ada sisa waktu sekitar 5 bulan lagi.

Passport lama dalam kondisi sudah tergunting dan secara otomatis sudah tidak berlaku. Masalahnya adalah visa pelajar istri saya tertempel di passport lama yang sudah tidak berlaku itu.

Untuk memindahkan visa dari passport lama ke passport baru harus melibatkan pihak universitas tempat istri mengambil S3 dan tidak memungkinkan untuk kembali lagi ke Parit Raja.

Istri kemudian disuruh ke kantor imigrasi Malaysia yang ada di JB untuk mendapatkan stempel khusus dan harus kembali ke Malaysia untuk memperbaharui visa pelajarnya kembali.

Ya sudahlah nanti akan diurus lagi di lain waktu, intinya visa pelajar istri jangan sampai hangus karena akan menyulitkannya saat keluar masuk Malaysia.