Night Safari Singapore

This weekend we went to night safari Singapore. We decided to take Saturday night at 09:15 PM because of magrib prayers time. To reach the location, it will consume two hours from home using bus and have to change the bus two times as well.

My wife and children took photos in front of one of the gift/souvenir stores.

At the end of each batch, there will be a fire attraction from night safari’s staff (two men and two women).

Perpustakaan Tampines Hub Singapura

Sabtu kemarin kami ke perpustakaan di Tampines Hub untuk mengembalikan buku sekaligus meminjam buku yang lain lagi. Di Singapura, kita bisa mengembalikan buku di perpustakaan mana saja alias tidak harus mengembalikan buku di perpustakaan tempat dimana buku tersebut dipinjam.

Perpustakaan Tampines Hub ini tergolong baru sehingga buku-bukunya pun banyak yang baru dan sangat lengkap. Jika seandainya punya perpustakaan dengan buku sebanyak ini mungkin akan sangat betah menghabiskan waktu di dalamnya.

Anak-anak sedang mengembalikan buku melalui mobile bookdrop. Jika penuh mobile bookdrop akan bergerak secara autonomous menuju ruang staff dan memberikan alert ke staff untuk mengambil buku-buku yang dikembalikan tadi kemudian sang staff akan mengganti tempat penyimpanan buku (bin) di mobile bookdrop dengan yang baru.

Oh iya, Singapura memang dikenal salah satu negara yang sangat cepat menerapkan IT sebagai penunjang/fasilitas negaranya, istilah kerennya penerapan smart city. Teknologi autonomous robotics ini sebenarnya sudah lama dibuat oleh mahasiswa di Indonesia juga tapi sayang hanya sebatas penelitian/research atau untuk mengikuti perlombaan. Saya sendiri belum pernah melihat penerapannya di fasilitas publik seperti yang ada di perpustakaan Tampines ini.

Berphoto dengan Naya di salah satu sudut ruang perpustakaan dengan latar lapangan sepak bola Tampines Hub.

Kedatangan saya di perpustakaan ini karena saya ingin melihat isi satu buku javascript yang kebetulan cuma ada di perpustakaan Tampines Hub sekaligus makan siang di Bebek Goreng Pak Ndut yang berada di stasiun MRT Tampines.

Untuk buku-buku komputer di lantai 5. oh iya di lantai 5 ini ada tempat untuk kerja kelompok, dan tersedia satu ruang khusus untuk mengerjakan tugas dll. sayang saya tidak mengambil photonya mungkin lain kali saat ke sana lagi. Selain itu di sudut-sudut ruang di lantai ini juga dilengkapi meja dan kursi untuk baca dan bekerja juga.

Di tulisan saya yang lain juga pernah saya angkat tentang perpustakaan di Bukit Panjang (link). Perpustakaan ini juga cukup baru tapi tidak selengkap yang ada di Tampines Hub.

Photo source: http://danielfooddiary.com

Bersepeda (kembali) di East Coast Park Singapura

Setelah beberapa lama rehat bersepeda, sore tadi kami memutuskan untuk kembali bersepeda di East Coast Park. Rute yang kami lewati selalu sama yakni ke arah bandara Changi walaupun belum bisa benar-benar sampai di sana atau bahkan melewatinya. Batas kami biasanya hanya sampai di tunjungan untuk beristirahat sejenak dan berputar arah.

Duduk-duduk sebentar di tunjungan untuk menikmati suasana pinggir pantai tempat orang-orang memancing.

Sesaat sebelum meninggalkan tunjungan untuk kembali bergerak ke arah playground tempat permainan anak.

Pemandangan di depan kami di area tunjungan pantai.

Setelah bersepeda dan bermain playground, saatnya makan malam masih di area East Coast Park, Ayo De, Ka, cepat kita harus segera pulang karena waktu magrib sudah masuk.

Berikut video buatan istri untuk kegiatan kami tersebut.

Menjemput Istri dan Anak-anak dari Bandung

Malam ini saya ke Changi untuk menjemput istri dan anak-anak dari Bandung. Dengan penerbangan Air Asia Bandung tujuan Singapura (Penerbangan langsung). Berangkat dari bandara Husein Sastranegara Bandung pada pukul 16:00 dan tiba di bandara Changi sekitar pukul 18:45. Alhamdulillah sudah bisa berkumpul lagi setelah mereka seminggu di Bandung.

Saya sendiri tidak ikut ke Bandung karena pekerjaan lumayan padat di minggu-minggu ini sehingga istri dan anak-anak saja yang pulang untuk sebuah keperluan.

Manila – Filipina

Photo lama yang masih tersimpan di external drive sebagai kenang-kenangan kalau pernah tinggal sementara (stay) di Filipina beberapa tahun silam tepatnya bulan Mei – September 2014. Di sana, saya bekerja selama lima bulan untuk sebuah penugasan singkat (STA) ke Ericsson Filipina.

Waktu itu ada proyek proof of concept (PoC) untuk operator Smart Communications, Inc., saya bekerja dalam satu tim yakni project managernya (PM) adalah Tiaghu Raman (India Malaysia), Antonis dimitriadis (Yunani) untuk solution architect, Cherry Garcia dan Boong (Filipina), serta beberapa orang dari global support center (GSC) China. Dan sempat dikenalkan dengan Abu Bakar Ibrahim (Abs) yang kemudian bertemu lagi di Singapura karena penugasan ke sini.

Istri dan anak-anak ikut ke sana selama empat puluh hari setelah mengambil cuti panjang dari kantor. Kebetulan Naya waktu itu masih SD kelas 1 dan Ibnu masih TK 0 jadi masih gambang untuk minta izin meninggalkan sekolah.

Kami melewati puasa ramadhan, shalat idul fitri, dan pemilihan presiden dan wakil presiden (pilpres) tahun 2014 di sana. Ini adalah kali pertama kami berpuasa di luar negeri dan di negeri non muslim pula sehingga terdapat perbedaan ketika berada di Indonesia. Saat itu saya selalu jumatan di kedutaan Uni Emirat Arab, shalat taraweh di market-market mall dan idul fitri di kedutaan besar Indonesia.

Tentu menjadi pengalaman tersendiri buat saya dan keluarga bagaimana tinggal di luar negeri jauh dari kampung halaman dan keluarga.

Photo ini diambil di depan gereja Manila Cathedral yang ada di dalam kota Intramuros – salah satu kota peninggalan Spanyol di sana.

Sisi lain yang masih berada di area gereja Manila Cathedral.

Ada sepeda dari bambu, keren idenya.

Berphoto dengan Naya di depan pintu gerbang Intramuros.

Kalau photo berikut di Manila Ocean Park yang masih berada di pusat kota Manila.

Masih di dalam area ocean park terdapat tempat mewarnai buat anak-anak. Naya dengan asyiknya mewarnai gambar sementara Ibnu asyik dengan bola.

Saatnya pulang ke Bandung dengan pesawat Philippines Airlines setelah empat puluh hari di Manila tepatnya di Taguig Bonifacio Global City semacam kota di dalam kota Manila.

Gagap Teknologi – Pencairan Cek

Bekerja di industri teknologi informasi dan telekomunikasi seharusnya melek teknologi termasuk hal-hal yang berhubungan dengan dunia keseharian.

Minggu kemarin saya, istri, dan anak-anak ke bank OCBC untuk mencairkan cek sisa uang kursus bahasa inggris anak saya.

Baru kali ini saya berhubungan dengan urusan cek sehingga tidak tahu seluk beluknya dan konyolnya lagi tidak cari-cari di Internet sebelum berangkat.

Sesampai di bank OCBC di Paya Lebar mall, saya pun mengambil antrian. Sepuluh menit menunggu, giliran dipanggil oleh teller. saya perlihatkan cek tersebut ke teller bank dan setelah diperiksa olehnya, sang teller pun mengatakan bahwa pencairan bukan di teller OCBC, tetapi di deposit box atau ke teller bank DBS dimana cek akan dicairkan. Saya hanya memiliki rekening di bank DBS sehingga harus mencairkannya di bank DBS juga walaupun ceknya dari bank OCBC.

hehe, udik juga ternyata…

Ibnu tamat Taman Kanak-kanak Little Star SIS

Syukur alhamdulillah Ibnu telah lulus TK little star Sekolah Indonesia Singapura (SIS) bulan Juni ini dan Insya Allah Juli 2018 nanti masuk kelas satu di sekolah yang sama. Semoga berkah ilmu dan menjadi anak sholeh pemimpin dunia dan agama kelak yang akan menolong agama Allah.

The Dependent Pass

Two months ago, my family had to leave Singapore for three days because their dependent pass was expired. While waiting my company to extend the DP, they had to use visit pass as temporary before getting the new DP. On that time, it had already been used two times for entering and staying in Singapore .

When my company extended my employment pass (EP), we decided not to extend my family’s dependent pass first for one reason that can’t be shared. but two months later, I had to extend it if they still wanted to stay here. It was consumed more than three weeks to get approval from MoM.

The visit pass will have maximum 30 days for allowing us to stay in Singapore on the first attempt. The second attempt onward, the immigration officer will reduce the maximum days of staying. When entering Singapore on that time, I explained to them that my family’s dependent pass was still on progress and hasn’t got approval yet then he gave me 30 days again so it’s good.

In the event of DP is not released/approved yet after 30 days, they have to leave Singapore again. When updating this blog, We have received the DP card.

Bandung was our choice for spending three days. In Bandung, we spent our time to do what we want such as shopping, eating at our favorite restaurant, and meeting our neighbourhood as I never see them for almost one year. So it is really nice, right?

This is a moment when we enjoyed our dinner at one restaurant in Bandung.

 

My Eating Habits

In Singapore, there are lots of food courts that we can find easily wherever we go. Most of people here are going out for breakfast, lunch, and dinner together with their family.

For me, I’m not really interested in it. I prefer taking my own lunch at office or going home for lunch rather than taking lunch at food court. But of course back to our choice!

There are two reasons why I prefer going home for lunch such as pick my son up from school and I’m very concern with the healthy food.

When eating foods at food court, everybody can’t guarantee the ingredients are cleaned well; how about the spoon, fork, and plate are being used? Have they already been washed with soap or water only?

One day, I and my colleague went for lunch at one of the food courts near from our customer office. While waiting my ordered food and standing in front of the court,  I saw the soup cup was washed without soap and ready to be used by another customer.

Seeing that situation, I changed my mind for having there and decided taking away at least try to avoid using their stuff.

-Eat only if you are hungry, and stop eating when you feel satisfied, not full-

Genap sudah usia saya 37 tahun

Tidak terasa hari ini sy berulang tahun yg ke 37. Setengah kurang dari usia Rasulullah. Ya Allah berikanlah kepada hambamu ini keberkahan di sisa usia hambamu ini.

Karena istri dan anak-anak sedang berada di Bandung jadi terpaksa makan di luar sendiri. Hari ini sy mampir ke bebek pak Ndut di Tampines persis di samping stasiun MRT. Awal perkenalan saya dengan restoran bebek pak Ndut ini dari salah satu teman kantor. Beliau mentraktir kami di suatu siang saat jam istirahat kantor.

Karena kurang pergaulan, saya baru ngeh kalau ada restoran ini di daerah Tampines padahal saya setahun tinggal di daerah sana (Jan 2016 – Jan 2017).

Menu yang saya pesan bebek goreng, tahu telur, dan es cendol.

 

The end of December 2017

I can’t imagine that now by the end of December 2017, I have been working and living in Singapore for 2 years. I want to say Alhamdulillah to Allah SWT.

For my family, they moved to here as well on February 2017 to accompany me. Embassy of the republic of Indonesia has made School for our Indonesian people so that it’s easy for us who has children need to go to school. Of course the curriculum will be not different with school in Indonesia.

So far, We really enjoy living in Singapore due to this is the first time I can live with them together as before I worked in Jakarta and on the other hand my wife and our children lived in Bandung and I could only meet them on the weekend.

Now, I can take my children to school and pick them up on the afternoon back to home. I have lost my times with my children for almost 7 years and syukur Alhamdulillah, Allah gives me times for living with my lovely family now.

Singapore, December 2017.

Liburan Sekolah telah tiba

Liburan sekolah tahun ini kami kedatangan tamu dari Bandung. Danti adik sepupu istri mengambil cuti kerja untuk liburan ke Singapura yang bertepatan dengan liburan sekolah anak-anak saya. Banyak waktu luang buat anak-anak dan Danti selama liburan kali ini.

Berbagai tempat kami datangi sekedar untuk menemani Danti selama di sini.

Beberapa photo yang sempat saya abadikan sebagai berikut minus Danti untuk menjaga privasi orang:

1. Ayah, Bunda dan Kakak Naya di Universal Studio Singapore

2. Ayah, Bunda, Kakak Naya, Ibnu di Merlion Park Singapore

3. Ayah, Bunda, Kakak Naya, Ibnu di Merlion Park Singapore

Membiasakan Anak-anak ke Perpustakaan

Fasilitas publik yang dimiliki oleh negara Singapura memang cukup membuat masyarakatnya merasa dimanjakan karena hampir seluruh fasilitas disediakan oleh pemerintah Singapura, salah satunya adalah perpustakaan umum yang ada di hampir setiap daerah.

Fasilitasnya juga lumayan mewah ditambah lagi dengan penggunaan teknologi terkini yang selalu ter-update diterapkan di semua perpustakaan. Bagi Singaporean atau penduduk asli dan permanent resident (PR) untuk pembuatan kartu perpustakaan sebagai syarat untuk meminjam buku bersifat gratis sementara bagi foreigner diwajibkan membayar S$40 untuk pembuatan kartu tersebut.

Jumlah maksimal buku yang boleh dipinjam adalah 8 buku untuk 3 minggu. Buku-buku yang dimiliki oleh perpustakaan di sini pun selalu terupdate. Satu hal menarik juga adalah kita tidak perlu mengambalikan buku di perpustakaan tempat kita meminjam tetapi dapat dikembalikan di perpustakaan mana saja. Sebagai contoh saya meminjam buku di NLB Marine Parrade kemudian buku tersebut saya kembalikan di NLB Bukit Panjang.

Naya dan Ibnu kami biasakan untuk ke perpustakaan dan meminjam buku dalam rangka memupuk budaya bacanya. lihat saja aksi Ibnu dan Naya yang sedang membaca di salah satu perpustakaan di sini.

Liburan ke kampung halaman Makassar dan Jeneponto

Tanggal 5 September 2017 (sore) saya berangkat dari Singapore ke Jakarta dan selanjutnya ke Makassar dalam rangka pernikahan adik ipar di Makassar. Dari bandara Changi menggunakan pesawat Air Asia pada pukul 17:00 dan sampai di Jakarta pukul 18:20. Penerbangan selanjutnya menuju Makassar pada pukul 21:55 dengan menggunakan pesawat Garuda Indonesia.

Setiba di Makassar sekitar pukul 01:30 dini hari, istri dan bapak mertua serta anak-anak ikut menjemput di bandara Sultan Hasanuddin. Pagi hari ada beberapa urusan yang harus dilakukan sekaligus makan siang diluar bersama keluarga di rumah makan Ayam Goreng Sulawesi.

Pada malam harinya ada juga acara makan malam diluar bersama keluarga besar istri namun sayang saya lupa untuk mendokumentasikannya. Tempatnya di rumah makan New Losari.

Di hari berikutnya, saya, istri, anak-anak, adik saya Ipink dan keluarga, serta adik sepupu saya Fuad menuju Jeneponto dalam rangka mengunjungi orang tua di sana (Orang tua istri tinggal di Makassar sementara orang tua saya tinggal di Jeneponto). Sehingga jika kami pulang kampung maka Makassar dan Jeneponto adalah dua kota/kabupaten yang harus kami datangi.

Banyak acara di Jeneponto seperti makan  malam bersama keluarga besar beserta jamaah masjid raya Jeneponto. Keesokan harinya setelah shalat Jumat, saya, Fuad, Lala, dan Rifri (anak kakak saya) makan coto kuda di Belokallong.

Sore hari, saya mengajak istri dan anak-anak saya untuk keliling Jeneponto terutama di daerah-daerah dimana masa kecil saya habiskan dulu dilanjutkan ke pantai.

Selepas magrib, kami pun kembali ke Makassar karena keesokan harinya akan ada acara mappaccing adik ipar di Makassar dan dilanjutkan akad nikah dan resepsi pada hari minggu siang dan hari minggu malam.

Selain itu, kami juga sempat mengabadikan momen bersama keluarga besar saya.

Syukuran ulang tahun Naya dan Appreciation Dinner dari Ericsson Singapore

Hari ini saya mengajak istri dan anak-anak saya makan di salah satu restoran Indonesia yang ada di Singapore dalam rangka syukuran hari kelahiran anak kami yang pertama Naya (8 tahun – semoga menjadi anak sholehah, pintar, sukses dunia dan akhirat, aamiin ya Allah).

Tujuan kami adalah restoran IndoChili yang terletak di Zion Road. Kami memilih untuk duduk di teras restoran karena anak saya yang kedua Ibnu tidak suka dengan ornamen-ornamen antik seperti patung, serta kembang-kembang yang ada di dalam restoran.

Walaupun ada sedikit perdebatan kecil antara Naya dan Ibnu karena sang kakak ingin duduk di dalam sementara sang adik ingin duduk di luar karena alasan di atas namun pada akhirnya kakak bisa mengalah. Berikut tampak depan dari restoran tersebut.

Ini photo-photo kami sekeluarga saat berada di restoran tersebut:

Selain yang kami makan di tempat seperti rawon, nasi goreng lengkap, serta minuman, ada beberapa menu yang dibawa pulang untuk makan malam seperti sate, ikan bakar, gule kambing, dan gado-gado.

Alhamdulillah di waktu yang bersamaan saya juga mendapat ‘appreciation dinner’ dari kantor sehingga acara makan-makan kali ini sifatnya gratis alias dibayar oleh Ericsson (terima kasih).

Photo Masa Kecil Dulu di Makassar

Barusan dapat kiriman WA message dari adik sepupu saya Fadli. hehe ternyata photo saat masih SMP di Makassar dulu sekitar tahun 1993-1996. Kak Adi memangku adik sepupu saya Fadli sementara saya memangku Fuad. Sekarang mereka sudah besar-besar semua. Sungguh waktu begitu cepat berjalan.

Legoland Malaysia

Hari Jumat kemarin kami bertolak ke Malaysia (Johor Bahru – JB) dalam rangka mengajak anak-anak kami liburan ke Legoland. Ini adalah kali kedua kami kesana. Tepat setahun yang lalu setelah habis lebaran idul fitri kami ke tempat yang sama. Anak saya Ibnu kelihatannya belum puas pada kesempatan pertama sehingga sering terngiang-ngiang terus Legoland ini.

Selama di Johor Bahru kami menginap di hotel Puteri Pacific yang lokasinya dekat dengan pusat kota dengan tujuan akses kemana-mana dekat salah satunya adalah tempat makan. Selain itu, lokasinya hotelnya bersebelahan dengan imigrasi Malaysia di Woodlands sehingga untuk kembali ke Singapura cukup menyeberang jalan saja.

Naya sempat mengabadikan beberapa moment sesampai di hotel tempat kami menginap.

Setelah bersih-bersih dan shalat magrib, kami menuju JB city square untuk makan malam di sana dan menghabiskan beberapa waktu disekitarannya dan selanjutnya kembali ke hotel untuk istirahat malam karena besok pagi akan berangkat ke Legoland.

Keesokan harinya setelah sarapan pagi di hotel, tepat pukul 10.00 pagi kami menuju Legoland. Naya dan Ibnu tampak sangat senang dan sudah tidak sabar untuk sampai untuk segera menikmati seluruh jenis permainan yang ada.

Beberapa momen yang sempat kami abadikan:

Gerbang utama Legoland.

Kereta api mini yang jalurnya mengitari beberapa area di Legoland.

Ayah bergaya dengan narsis di atas mini kereta api sebelum kereta apinya berangkat.

Sesaat sebelum aktraksi dengan Ninja Go.

Di depan restoran Legoland, bunda dan anak-anak mengabadikannya.

Ibnu begitu tertarik dengan miniatur kesibukan pelabuhan laut tempat bongkar muat barang-barang.

Naya berpose di samping miniatur pigeon yang berbunyi layaknya pigeon sungguhan.

Naya berpose di dekat Jerapah.

Di atas ketinggian dengan pemandangan sekitar Legoland.

Kunjungan teman serumah semasa SMA dan kuliah

Hari selasa malam saya bertemu dengan salah satu teman serumah saat SMA dan kuliah di Bandung. Aryo begitu kami memanggilnya. Setelah sebelas tahun akhirnya bisa berjumlah lagi di negeri orang (Singapura) karena Ia kebetulan ada tugas kantor. Jadilah kami membuat janji di Orchard road.

Walaupun di negeri orang, saya sendiri lebih senang mengajak mereka ke rumah makan Indonesia karena selera kita belum tentu sama dengan makanan yang ada di sini (catatan: jenis makanan yang ada di sini sebagian besar sama karena terbilang masih satu rumpun antara Indonesia dan Singapura).

Saya mengajak Aryo dan keluarganya untuk makan disekitaran Orchard Road tepatnya di Lucky Plaza, tempat di mana restoran Bebek Pak Ndut berada.

Berikut photo sebagai kenang-kenangan pertemuan kami.

 

Menemani anak tidur sambil melanjutkan koding

Malam ini sambil menemani anak pertama saya tidur, saya mencoba melanjutkan kode program yang belum terselesaikan juga. Di jam kerja pastinya saya tidak bisa melakukan koding karena pekerjaan utama yang harus diselesaikan. Kode program yang sedang penulis kerjakan ini sebenarnya saling berkaitan walaupun sifatnya sebagai penunjang saja.

Target penulis, kode program ini harus terlesaikan seluruhnya sebelum akhir tahun sehingga bisa benar-benar bermanfaat untuk proses monitoring jaringan. Selama ini saya melakukannya secara parsial sesuai kebutuhan saja, nah target akhirnya adalah keseluruhan statistik jaringan dapat termonitor secara otomatis.

Satu hal yang menjadi kendala adalah larangan untuk menyimpan server yang tidak teregistrasi oleh pihak operator di sini. Untuk mendapat izin tentu saja tidak mudah dan belum tentu di-approve. Jadilah program ini berjalan di laptop penulis dan setiap terkoneksi ke jaringan operator maka program akan bekerja secara otomatis.

 

Akhirnya bisa berkumpul kembali bersama keluarga

Kondisi ideal setelah berkeluarga tentu saja tetap satu kota dengan istri/suami dan anak-anak. Namun saat ini, banyak keluarga yang sulit berada di satu kota. Seorang ayah mungkin saja harus bekerja jauh dari kota tempat istri dan anak-anaknya berada (walaupun ini sebenarnya adalah sebuah pilihan hidup dan semua pilihan tersebut ada konsekuensinya).

Sejak bulan Februari 2017, istri dan anak-anak telah ikut bersama saya ke Singapura. Kebetulan istri sedang menempuh pendidikan PhD sehingga bisa off dari kantor selama menjalani study S3-nya. Alhamdulillah tahun ini adalah kesempatan kedua yang Allah SWT berikan. Saya dan keluarga bisa berkumpul bersama kembali sejak awal pernikahan kami. Kesempatan pertama waktu bekerja di Ericsson Philippines. Istri dan anak-anak sempat ikut selama 40 hari karena istri mengambil cuti panjang dan anak-anak pun masih kecil.

Saat masih bekerja di Jakarta, istri dan anak-anak saya tetap di Bandung dan hanya bertemu setiap akhir pekan. Kondisi yang sama setahun lalu, setiap minggu atau kadang kala dua minggu sekali (jika beban pekerjaan agak banyak) saya kembali ke Bandung dari Singapura.

Kebersamaan bersama keluarga tentu adalah sebuah nikmat Allah SWT yang benar-benar harus disyukuri.  Lihatlah kebahagiaan anak-anak saya saat akan mengantar ibunya ke Malaysia beberapa waktu lalu. Photo di ambil di daerah Sentosa island Singapura.

 

Liburan ke Jogja, Solo, Prambanan, dan Borobudur

Liburan akhir tahun 2013 kemarin bertepatan juga dengan liburan sekolah anak kami Naya. Jauh-jauh hari kami sudah merencanakan untuk berlibur ke luar Bandung dan tujuannya adalah Jogjakarta dan sekitarnya.

Banyak cerita yang sebenarnya ingin saya tulis tapi rasanya kurang mood. Tapi hal yang patut saya garis bawahi adalah kota ini menyimpan sejuta kenangan tentang awal karier saya sebagai seorang penulis profesional. Dua buku saya yang pertama diterbitkan oleh Andi Offset Jogjakarta, sehingga saat menginjakkan kaki pertama kali ke kota ini kembali setelah sekian tahun, rasanya saya sedang bernostalgia dengan kota ini.

Kedatangan saya kali ini tentu saja tidak sendiri lagi seperti tahun 2004 dan 2005 dulu. Kali ini sudah ditemani oleh anak-anak dan istri saya beserta Ibu mertua saya dan adik sepupu dari istri saya. Tentu saja saya menceritakan kepada anak-anak kami bahwa Ayahnya sudah beberapa ke Jogja untuk membawa naskah dan juga saat bekerja di Ericsson dan Siemens.

Photo ini adalah kedua anak kami Naya dan Ibnu di masjid Gedhe Kauman Keraton Jogjakarta. Masih tampak letih dan berantakan karena perjalanan yang sangat jauh dari Bandung yang kami tempuh sekitar 12 jam perjalanan. Kami sengaja menyempatkan shalat Magrib dan Isya di Masjid Gedhe ini.

DSC_0040

Setiap saya ke Jogja di tahun-tahun sebelumnya, alhamdulillah saya selalu menyempatkan diri untuk shalat di masjid yang cukup bersejarah ini.

Di Solo mampir di keluarga (sepupu ibu mertua) dan photo ini sedang menikmati kambing muda (mantab, kolesterol tinggi).

DSC_0068

DSC_0067

Dari Solo, kami menuju candi Prambanan yang ada di kecamatan Prambanan, Sleman dan kecamatan Prambanan, Klaten, kurang lebih 17 kilometer timur laut Yogyakarta, 50 kilometer barat daya Surakarta dan 120 kilometer selatan Semarang, persis di perbatasan antara provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Ibnu tampak lesu karena terbangun kanget sesaat sampai di area parkir candi Prambanan.

DSC_0092

Setelah candi Prambanan, kami kembali ke Bandung melalui jalur selatan pulau Jawa.

Ketika Istri dan Anak Harus Dirawat Bersama di Rumah Sakit

Senin tanggal 28 Mei 2012, istri dan anak saya harus dirawat di rumah sakit. setelah berkonsultasi ke poli anak ternyata Ibnu (anak kedua) sudah pada fase dehidrasi sehingga dokter mengharuskan untuk di-opname, Ibnu mengalami muntah dan buang air yang terlalu sering disertai demam tinggi sehingga rewel setiap saat. Dari hasil pemeriksaan darah, air seni dan fases ternyata Ibnu terinfeksi bakteri (pastinya lewat makanan). Sementara istri kena tifus dan juga harus dirawat di rumah sakit. Saya harus cuti pada hari ini dan hari-hari kedepannya karena yang merawat dan menjaga istri dan anak-anak saya di rumah sakit tentunya saya sendiri, walaupun pekerjaan begitu banyak tapi yang paling utama tentu adalah keluarga.

Anak saya yang pertama Naya juga harus diboyong ke rumah sakit dan menginap bersama saya, istri dan Ibnu (anak kedua) karena Naya pasti akan rewel kalau tidak melihat ayah atau ibunya seharian terutama saat akan tidur. Sehingga saya memutuskan untuk sekeluarga menginap di rumah sakit sampai istri dan Ibnu bisa kembali ke rumah.

Sebenarnya Naya juga baru sembuh 2 hari yang lalu walaupun tidak dibawa ke dokter karena syukur Alhamdulillah sudah pulih.

Photo berikut adalah photo Ibnu sehari sebelum di bawa ke rumah sakit karena kebetulan hari minggu sehingga cukup kami beri panadol drops anak dan bye bye faver untuk menurunkan panas Ibnu.

Sedangkan photo berikut adalah Ibnu yang sudah di-opname di rumah sakit. Kasihan juga melihat jarum infus yang tertancap di tangan Ibnu.

Kalau photo ini Naya yang sudah tidur malam di sofa yang disediakan oleh pihak rumah sakit.

 

Duka Yang Mendalam

Hari ini tanggal 20 Mei 2012 jam 10 WITA om saya (adik dari bapak) Drs. Ahmad Basa telah meninggal dunia akibat kanker paru-paru stadium empat. Om Hama begitu saya memanggilnya adalah seorang guru SMA dan beliau mengajar mata pelajaran matematika. Saya banyak mendapatkan ilmu dari beliau saat saya masih SMP dulu di Makassar. Bagaimana belajar trigonometri tanpa harus menghafalkan. Seluruhnya akan terpetakan pada sebuah lingkaran. Pemetaan perhitungan trigonometri ini tentu saja tidak pernah saya dapatkan di bangku sekolah tapi saya dapatkan justru dari om Hama. Banyak kenangan yang tentu saja selalu terngiang-ngiang pada diri saya terhadap sosok seorang Drs. Ahmad Basa. Selamat jalan om Hama…

Masa kanak-kanak saya sampai menginjak remaja banyak saya habiskan bersama beliau seperti mencari udang/ikan di sungai dengan cara menyelam dan menembaknya dengan alat sederhana buatan om sendiri. Selain itu beliau juga senang berburu burung “bukkuru” atau tekukur yang kebetulan memang sangat banyak di kampung saya di Jeneponto.  Di akhir-akhir hayatnya, ia senang untuk ikut dengan para nelayan untuk memancing dan menangkap ikan di lautan lepas. Ini semua adalah kegemaran dari om Hama. Waktu itu kami bersaudara yang berarti keponakan beliau yang selalu diajak pada akhir pekan untuk menyalurkan hobinya itu karena anak-anaknya sendiri waktu itu masih kecil-kecil dan belum bisa diajak untuk ikut bersama.

Meninggalnya om Hama sebenarnya tidak terlalu jauh berselang atas meninggalnya nenek saya Daeng Sangnging, ibu dari bapak dan om Hama. Sehingga ini benar-benar duka yang sangat dalam buat keluarga kami. Tapi memang setiap jiwa yang hidup akan merasakan kematian sehingga harus ikhlas menerima semua ketentuan yang Allah SWT telah takdirkan.

Beberapa hari menjelang bulan suci Ramadhan dua tahun lalu, kakek saya dari bapak juga dipanggil oleh Allah SWT dan telah saya tuliskan pada link ini.

Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa kakek, nenek dan om saya yang tercinta, semoga Allah menerima seluruh amal perbuatan kebajikannya dan memberikan kelapangan dalam kuburnya, Amin…

Bandung, 20 Mei 2012

Daeng Basa

Ya, sebuah nama yang selalu terngiang-ngiang sampai kapan pun. Daeng Basa adalah kakek (ayahanda dari bapak saya) yang telah meninggal dunia setelah shalat Isya kamis malam tanpa mengalami sakit dan kepergiannya pun begitu tenang dan  cepat, semoga Allah menerima kebaikan dan memaafkan segala kesalahan beliau.

Saat itu saya sedang tugas ke  Padang-Sumatera Barat seminggu sebelum Ramadhan tahun 2010. Dering telepon dari Bapak saya tidak seperti biasa karena dengan terbatah-batah beliau menyampaikan bahwa kakek telah meninggal dunia malam ini nak – Ammoterangmi neneknu nak, teamoko amminroi mae nasaba’ tenaji nuciniji mayatna na‘, ammuko bari’basa nanikuburumi te’te’ sampulo juma’). Begitulah pesan bapak  saya saat itu. Namun karena rasa rindu yang begitu dalam kepada almarhum, keesokan harinya saya tetap memutuskan untuk berangkat dari Padang (jam 7 malam) transit di Jakarta dan sampai di Makassar jam 3 subuh. Saya tidak sempat ke Bandung untuk bertemu dengan anak-istri tapi Insya Allah setelah pulang dari Makassar nanti akan langsung ke Bandung baru kembali ke Jakarta untuk memulai aktifitas pekerjaan lagi. Pekerjaan di Padang memang belum selesai saat itu tapi setelah diskusi dengan Project Manager (PM) saya, beliau mengizinkan untuk meninggalkan Padang. Terima kasih banyak Pak.

Sebenarnya baik kakek maupun nenek dari garis keturunan bapak saya, kami memanggil keduanya dengan sebutan nenek dan itu berlaku juga buat Daeng Basa (karena kebiasaan cucu-cucu beliau memanggilnya). Mengingat nama beliau, saya pasti akan teringat dengan masa kecil dulu di kampung halaman saya Jeneponto. Saya memiliki banyak panutan hidup dari keluarga sendiri, sebuah keluarga yang cukup bersahaja dan begitu banyak pelajaran hidup yang membuat saya saat ini ada di tanah seberang. Selain Daeng Basa, saya juga memiliki kakek dari ibu saya yakni Abbas Alimuddin, beliau adalah purnawirawan ABRI (Lain kali saya akan menuliskan tentang beliau juga). Kedua sosok inilah yang banyak menorehkan tinta pembelajaran hidup masa-masa kecil saya dulu selain tentunya yang utama dari kedua orang tua saya.

Napak tilas kehidupan masa kecil dulu di kampung sangatlah indah. Saya tidak mengenal dunia game layaknya anak-anak jaman sekarang. Yang saya kenal adalah permainan tradisional yang semuanya berasal dari alam. Waktu itu sering bermain di sawah dan di kebun, ammatte jangang-jangang (padi’, taradidi) adalah kegemaran saya. Bersama anak-anak lainnya kami tumbuh di lingkungan pedesaan, walau sebenarnya saya terlahir di kota Makassar karena memang keluarga besar dari Ibu saya lebih banyak tinggal di Makassar, namun bapak bekerja sebagai pegawai negeri di Jeneponto maka kami tumbuh dan besar di sana (aktek kelahiran Jeneponto padahal lahir di Makassar).

Waktu itu rumah orang tua saya ada di BTN Romanga sementara keluarga kami lebih banyak di Belokallong dan Pakkaterang. Sepulang sekolah atau di hari libur pasti akan berkunjung dan menginap ke rumah kakek di Belokallong dan di Pakkaterang. Biasanya saya selalu diajak pergi ke kebun di pagi dan sore hari yang memang jarak kebunnya tidak terlalu jauh dari rumah. Dan paling senang saya meminum air tebu yang sengaja ditanam di kebun nenek saya. Caranya , ditebang batang dan daun-daunnya yang sangat tajam yang masih melekat di batang tebunya dibuang kemudian dikuliti dan tinggal diisap dan ampasnya dibuang. Rasanya sangat manis. Makanya setiap melihat orang yang jualan air tebu saya selalu teringat akan masa-masa dulu bersama nenek saya Daeng Basa. Beliau adalah seorang pekerja keras dan pantang menyerah. Di zamannya, mungkin orang tua dulu tidak peduli dengan pendidikan anak-anaknya, namun kolaborasi nenek kami yang memiliki visi jauh ke depan dan sangat peduli dengan pendidikan anak-anaknya, akhirnya keempat saudara bapak saya semuanya berhasil dan mandiri hingga saat ini.

Semasa hidupnya nenek saya (alm. Daeng Base), saya tidak pernah sedikit pun mendengar beliau menceritakan orang lain. Iya lebih sibuk untuk bekerja dan beribadah. Waktu-waktu shalat terus beliau jaga sampai ajal menjemput dan terbukti, ketika bapak saya pamit ke kakek saya untuk melaksanakan shalat Isya ke Masjid, Ia pun bersegera untuk melaksanakan shalat Isya di tempat tidur walaupun beliau tidak sakit namun karena faktor usia yang membuatnya harus terbaring di hari-hari sebelum malaikat maut menjemput. Setelah shalat Isya, beliau pun dipanggil oleh Allah SWT dengan tenang. Semoga Allah mengampuni seluruh kesalahan yang pernah beliau lakukan dan menerima seluruh amal baiknya, Amin.

Waktu itu, kakek saya sering bercerita tentang masa-masa penjajahan dulu, bagaimana susahnya untuk makan, tidak tenang karena dihantui oleh rasa takut akan kekejaman Jepang waktu itu. Beliau sering bercerita tentang orang-orang dulu bagaimana mereka berperang melawan penjajah, bagaimana mereka menyembunyikan padi di bawah tanah agar tidak dirampas oleh Jepang dan cerita-cerita lain yang tentu saja masih teringat sampai saat ini.

Dari beliaulah saya mengenal barzanji karena setiap nenek saya dipanggil untuk barzanji dalam acara Maulid Nabi Muhammad SAW, kami selalu diajak untuk ikut dan mendapat bayao dan songkolo maudu’.

Saat ubi jalar siap untuk dipanen, Kami (cucu) selalu diajak untuk ikut ke kebun mengambil ubi jalar (lame lamba). Biasanya ubi tersebut langsung saya bakar di tengah kebun untuk dinikmati saat itu juga dan sisanya dibawa pulang untuk dimasak atau dijadikan kue. Selain itu, kami juga sering diajak ke sungai untuk berenang atau menangkap ikan, kepiting dan udang.

Demikian ceritanya dan lain waktu saya akan sambung tulisan ini.

“Selamat jalan buat nenekku yang selalu kami rindukan, semoga Allah menerangi kuburnya dengan cahaya-Nya. Amin..”