Perpustakaan Tampines Hub Singapura

Sabtu kemarin kami ke perpustakaan di Tampines Hub untuk mengembalikan buku sekaligus meminjam buku yang lain lagi. Di Singapura, kita bisa mengembalikan buku di perpustakaan mana saja alias tidak harus mengembalikan buku di perpustakaan tempat dimana buku tersebut dipinjam.

Perpustakaan Tampines Hub ini tergolong baru sehingga buku-bukunya pun banyak yang baru dan sangat lengkap. Jika seandainya punya perpustakaan dengan buku sebanyak ini mungkin akan sangat betah menghabiskan waktu di dalamnya.

Anak-anak sedang mengembalikan buku melalui mobile bookdrop. Jika penuh mobile bookdrop akan bergerak secara autonomous menuju ruang staff dan memberikan alert ke staff untuk mengambil buku-buku yang dikembalikan tadi kemudian sang staff akan mengganti tempat penyimpanan buku (bin) di mobile bookdrop dengan yang baru.

Oh iya, Singapura memang dikenal salah satu negara yang sangat cepat menerapkan IT sebagai penunjang/fasilitas negaranya, istilah kerennya penerapan smart city. Teknologi autonomous robotics ini sebenarnya sudah lama dibuat oleh mahasiswa di Indonesia juga tapi sayang hanya sebatas penelitian/research atau untuk mengikuti perlombaan. Saya sendiri belum pernah melihat penerapannya di fasilitas publik seperti yang ada di perpustakaan Tampines ini.

Berphoto dengan Naya di salah satu sudut ruang perpustakaan dengan latar lapangan sepak bola Tampines Hub.

Kedatangan saya di perpustakaan ini karena saya ingin melihat isi satu buku javascript yang kebetulan cuma ada di perpustakaan Tampines Hub sekaligus makan siang di Bebek Goreng Pak Ndut yang berada di stasiun MRT Tampines.

Untuk buku-buku komputer di lantai 5. oh iya di lantai 5 ini ada tempat untuk kerja kelompok, dan tersedia satu ruang khusus untuk mengerjakan tugas dll. sayang saya tidak mengambil photonya mungkin lain kali saat ke sana lagi. Selain itu di sudut-sudut ruang di lantai ini juga dilengkapi meja dan kursi untuk baca dan bekerja juga.

Di tulisan saya yang lain juga pernah saya angkat tentang perpustakaan di Bukit Panjang (link). Perpustakaan ini juga cukup baru tapi tidak selengkap yang ada di Tampines Hub.

Photo source: http://danielfooddiary.com

Bersepeda (kembali) di East Coast Park Singapura

Setelah beberapa lama rehat bersepeda, sore tadi kami memutuskan untuk kembali bersepeda di East Coast Park. Rute yang kami lewati selalu sama yakni ke arah bandara Changi walaupun belum bisa benar-benar sampai di sana atau bahkan melewatinya. Batas kami biasanya hanya sampai di tunjungan untuk beristirahat sejenak dan berputar arah.

Duduk-duduk sebentar di tunjungan untuk menikmati suasana pinggir pantai tempat orang-orang memancing.

Sesaat sebelum meninggalkan tunjungan untuk kembali bergerak ke arah playground tempat permainan anak.

Pemandangan di depan kami di area tunjungan pantai.

Setelah bersepeda dan bermain playground, saatnya makan malam masih di area East Coast Park, Ayo De, Ka, cepat kita harus segera pulang karena waktu magrib sudah masuk.

Berikut video buatan istri untuk kegiatan kami tersebut.

Menjemput Istri dan Anak-anak dari Bandung

Malam ini saya ke Changi untuk menjemput istri dan anak-anak dari Bandung. Dengan penerbangan Air Asia Bandung tujuan Singapura (Penerbangan langsung). Berangkat dari bandara Husein Sastranegara Bandung pada pukul 16:00 dan tiba di bandara Changi sekitar pukul 18:45. Alhamdulillah sudah bisa berkumpul lagi setelah mereka seminggu di Bandung.

Saya sendiri tidak ikut ke Bandung karena pekerjaan lumayan padat di minggu-minggu ini sehingga istri dan anak-anak saja yang pulang untuk sebuah keperluan.

Manila – Filipina

Photo lama yang masih tersimpan di external drive sebagai kenang-kenangan kalau pernah tinggal sementara (stay) di Filipina beberapa tahun silam tepatnya bulan Mei – September 2014. Di sana, saya bekerja selama lima bulan untuk sebuah penugasan singkat (STA) ke Ericsson Filipina.

Waktu itu ada proyek proof of concept (PoC) untuk operator Smart Communications, Inc., saya bekerja dalam satu tim yakni project managernya (PM) adalah Tiaghu Raman (India Malaysia), Antonis dimitriadis (Yunani) untuk solution architect, Cherry Garcia dan Boong (Filipina), serta beberapa orang dari global support center (GSC) China. Dan sempat dikenalkan dengan Abu Bakar Ibrahim (Abs) yang kemudian bertemu lagi di Singapura karena penugasan ke sini.

Istri dan anak-anak ikut ke sana selama empat puluh hari setelah mengambil cuti panjang dari kantor. Kebetulan Naya waktu itu masih SD kelas 1 dan Ibnu masih TK 0 jadi masih gambang untuk minta izin meninggalkan sekolah.

Kami melewati puasa ramadhan, shalat idul fitri, dan pemilihan presiden dan wakil presiden (pilpres) tahun 2014 di sana. Ini adalah kali pertama kami berpuasa di luar negeri dan di negeri non muslim pula sehingga terdapat perbedaan ketika berada di Indonesia. Saat itu saya selalu jumatan di kedutaan Uni Emirat Arab, shalat taraweh di market-market mall dan idul fitri di kedutaan besar Indonesia.

Tentu menjadi pengalaman tersendiri buat saya dan keluarga bagaimana tinggal di luar negeri jauh dari kampung halaman dan keluarga.

Photo ini diambil di depan gereja Manila Cathedral yang ada di dalam kota Intramuros – salah satu kota peninggalan Spanyol di sana.

Sisi lain yang masih berada di area gereja Manila Cathedral.

Ada sepeda dari bambu, keren idenya.

Berphoto dengan Naya di depan pintu gerbang Intramuros.

Kalau photo berikut di Manila Ocean Park yang masih berada di pusat kota Manila.

Masih di dalam area ocean park terdapat tempat mewarnai buat anak-anak. Naya dengan asyiknya mewarnai gambar sementara Ibnu asyik dengan bola.

Saatnya pulang ke Bandung dengan pesawat Philippines Airlines setelah empat puluh hari di Manila tepatnya di Taguig Bonifacio Global City semacam kota di dalam kota Manila.

Pagelaran Seni di Sekolah Indonesia Singapura (SIS)

Untuk kegiatan seni, Naya begitu antusias untuk ikut menjadi bagian dari pagelaran tersebut. Photo ini diambil saat acara kenaikan kelas beberapa waktu lalu di hall Sekolah Indonesia Singapura (SIS).

Masih di acara yang sama Naya dan teman-temannya sedang bermain angklung yang merupakan kesenian dari Jawa Barat. Setiap anak memegang angklung dengan nada berbeda-beda yang akan menghasilkan alunan musik yang indah saat dimainkan dengan pola tertentu.