Bersepeda (kembali) di East Coast Park Singapura

Setelah beberapa lama rehat bersepeda, sore tadi kami memutuskan untuk kembali bersepeda di East Coast Park. Rute yang kami lewati selalu sama yakni ke arah bandara Changi walaupun belum bisa benar-benar sampai di sana atau bahkan melewatinya. Batas kami biasanya hanya sampai di tunjungan untuk beristirahat sejenak dan berputar arah.

Duduk-duduk sebentar di tunjungan untuk menikmati suasana pinggir pantai tempat orang-orang memancing.

Sesaat sebelum meninggalkan tunjungan untuk kembali bergerak ke arah playground tempat permainan anak.

Pemandangan di depan kami di area tunjungan pantai.

Setelah bersepeda dan bermain playground, saatnya makan malam masih di area East Coast Park, Ayo De, Ka, cepat kita harus segera pulang karena waktu magrib sudah masuk.

Berikut video buatan istri untuk kegiatan kami tersebut.

8 Marine Terrace Pagi Ini

Semoga keberkahan senantiasa Allah SWT turunkan ke bumi ini. Pagi ini cuaca di sekitar rumah begitu sejuk dengan turunnya hujan. Hembusan angin yang masuk ke dalam rumah begitu dingin sampai meresap ke dalam tulang-tulang saya membuat badan begitu bugar untuk memulai aktifitas pagi, Alhamdulillah.

Buku Hortonworks versi cetak

Buku-buku ini saya cetak di Bandung untuk keperluan saya belajar hortonworks (hadoop). File-file PDF dari buku ini bisa didapatkan secara gratis di situs hortonworks. Proses cetak bukunya sendiri sekitar 3 hari kerja dan dikirim ke rumah di Bandung dengan menggunakan Gojek.

Minggu ini istri dan anak-anak kebetulan sedang berada di Bandung sehingga sekalian nitip dibawakan ke Singapura. Saya termasuk orang yang tidak bisa belajar lewat baca buku di komputer sehingga buku-buku yang ingin saya pelajari biasanya beli atau kalau ada versi ebook gratisnya maka saya akan cetak di Bandung. Total uang yang harus saya bayar untuk cetak bukunya sekitar Rp. 1.000.000.

Menjemput Istri dan Anak-anak dari Bandung

Malam ini saya ke Changi untuk menjemput istri dan anak-anak dari Bandung. Dengan penerbangan Air Asia Bandung tujuan Singapura (Penerbangan langsung). Berangkat dari bandara Husein Sastranegara Bandung pada pukul 16:00 dan tiba di bandara Changi sekitar pukul 18:45. Alhamdulillah sudah bisa berkumpul lagi setelah mereka seminggu di Bandung.

Saya sendiri tidak ikut ke Bandung karena pekerjaan lumayan padat di minggu-minggu ini sehingga istri dan anak-anak saja yang pulang untuk sebuah keperluan.

Setup Koneksi Internet dan TV di Rumah

Rumah tempat saya ngontrak di Singapura menggunakan akses Internet dengan kecepatan 300Mbps dengan biaya langganan sebesar S$34/bulan untuk masa kontrak 2 tahun. Saya berlangganan Internet dari operator M1 karena paket yang ditawarkan paling murah dibanding operator-operator lain seperti Singtel ataupun Starhub.

Tentu saja paket tersebut di luar TV karena biaya bundel paket Internet dan TV pastinya lebih mahal jika dibanding dengan Internet saja dan bisa diakali dengan Android Box.

Dari informasi teman, saya beli android box saat ada pameran komputer dan elektronik di Expo untuk keperluan TV streaming tadi. Untungnya sang landlord mau menyediakan monitor TV di rumah. Awalnya tidak ada, namun setelah saya menanyakan apakah bisa menyediakan? ternyata bisa dan alhamdulillah kami dibelikan sebuah monitor TV baru.

Selama hampir 2 tahun mengontrak rumahnya, ibu landlord-nya sangat baik ke kami. Jika perayaan hari raya Idul Fitri, Idul Adha, serta Natal dan tahun baru Cina maka ibu landlord akan mengurangi biaya sewa sebesar S$100 atau sebesar Rp. 1 juta rupiah, cukup besar bukan?

Setup koneksi Internet saya di rumah ini kira-kira seperti di atas. Modem (Huawei) dan wireless router (Asus) disediakan oleh pihak ISP sementara untuk keperluan komputer di kamar tidur, saya menggunakan tambahan router (Raspberry PI 3+) lain sehingga tidak perlu menarik kabel UTP dari ruang tamu ke ruang tidur.

Wireless router Asus yang ada di ruang tamu akan terkoneksi ke router Raspberry PI 3+ di ruang belajar & tidur anak-anak saya. Selanjutnya menggunakan kabel UTP dan switch untuk menghubungkan router Raspberry PI 3+ dengan komputer-komputer desktop yang ada.

Perangkat mobile HP akan terkoneksi dari wifi wireless router Asus yang ada di ruang tamu sedangkan android box untuk TV terhubung langsung ke wireless routes Asus menggunakan kabel UTP karena berada di ruang yang sama.

Tentang bagaimana setup konfigurasi jaringannya akan saya ulas di tulisan-tulisan berikutnya.

Manila – Filipina

Photo lama yang masih tersimpan di external drive sebagai kenang-kenangan kalau pernah tinggal sementara (stay) di Filipina beberapa tahun silam tepatnya bulan Mei – September 2014. Di sana, saya bekerja selama lima bulan untuk sebuah penugasan singkat (STA) ke Ericsson Filipina.

Waktu itu ada proyek proof of concept (PoC) untuk operator Smart Communications, Inc., saya bekerja dalam satu tim yakni project managernya (PM) adalah Tiaghu Raman (India Malaysia), Antonis dimitriadis (Yunani) untuk solution architect, Cherry Garcia dan Boong (Filipina), serta beberapa orang dari global support center (GSC) China. Dan sempat dikenalkan dengan Abu Bakar Ibrahim (Abs) yang kemudian bertemu lagi di Singapura karena penugasan ke sini.

Istri dan anak-anak ikut ke sana selama empat puluh hari setelah mengambil cuti panjang dari kantor. Kebetulan Naya waktu itu masih SD kelas 1 dan Ibnu masih TK 0 jadi masih gambang untuk minta izin meninggalkan sekolah.

Kami melewati puasa ramadhan, shalat idul fitri, dan pemilihan presiden dan wakil presiden (pilpres) tahun 2014 di sana. Ini adalah kali pertama kami berpuasa di luar negeri dan di negeri non muslim pula sehingga terdapat perbedaan ketika berada di Indonesia. Saat itu saya selalu jumatan di kedutaan Uni Emirat Arab, shalat taraweh di market-market mall dan idul fitri di kedutaan besar Indonesia.

Tentu menjadi pengalaman tersendiri buat saya dan keluarga bagaimana tinggal di luar negeri jauh dari kampung halaman dan keluarga.

Photo ini diambil di depan gereja Manila Cathedral yang ada di dalam kota Intramuros – salah satu kota peninggalan Spanyol di sana.

Sisi lain yang masih berada di area gereja Manila Cathedral.

Ada sepeda dari bambu, keren idenya.

Berphoto dengan Naya di depan pintu gerbang Intramuros.

Kalau photo berikut di Manila Ocean Park yang masih berada di pusat kota Manila.

Masih di dalam area ocean park terdapat tempat mewarnai buat anak-anak. Naya dengan asyiknya mewarnai gambar sementara Ibnu asyik dengan bola.

Saatnya pulang ke Bandung dengan pesawat Philippines Airlines setelah empat puluh hari di Manila tepatnya di Taguig Bonifacio Global City semacam kota di dalam kota Manila.

Di Merlion Park Singapura

Salah satu ikon wisata Singapura adalah Merlion Park yang terkenal itu dan tempat yang wajib didatangi oleh para wisatawan ketika berkunjung ke sini.

Saya lupa kapan saya ambil photo ini. Mungkin saat kunjungan kedua atau ketiga kalinya.

Buku Biografi Khalifah Rasulullah

Buku ini saya beli sekitar tahun 2013 saat masih bekerja di Ericsson Indonesia. Belinya di toko buku Gramedia di Pondok Indah Mall (PIM) Jakarta. Namun sayang belum sempat terbaca sampai saya ke Bandung kemarin dan melihat buku ini di tumpukan rak buku. Saya bawa ke Singapura untuk dibaca. Saat tulisan ini ditulis, baru selesai terbaca khalifah pertama setelah Rasulullah meninggal dunia yakni Abu Bakar.

Walaupun belum sempat membaca kisah Umar, Ustman dan Ali tapi setidaknya membuka sedikit wawasan saya tentang bagaimana perjuangan sahabat-sahabat utama Rasulullah untuk menegakkan Islam sepeninggal Rasulullah, bagaimana usaha sahabat untuk memerangi banyaknya nabi-nabi palsu yang bermunculan serta banyaknya orang-orang arab yang kembali menyembah berhala (murtad) setelah memeluk islam.

Tongkat estafet pertama dipegang oleh Abu Bakar untuk memimpin umat islam yang pusat pemerintahannya di Madinah. Saat pemilihan Abu bakar sebagai khalifah, awalnya terjadi perselisihan antar kaum Anshar (penduduk Madinah) dan kaum Muhajirin (penduduk Makkah) yang hijrah ke Madinah karena masing-masing kaum menginginkan menjadi pemimpin. dari Kaum Anshar ada Abu Ubaidah ibn al-Jarrah sementara dari kaum Muhajirin ada Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Umar tentu saja menolak untuk menjadi khalifah karena ada Abu Bakar salah satu sahabat paling utama nabi. Keutamaan-keutaman Abu Bakar akan saya ceritakan ditulisan yang lain saat mengupas satu demi satu kisah hidup para Khalifah Rasulullah.

Kaum Anshar memberi argumentasi mengapa pemimpin kaum muslimin harusnya dipegang olehnya. Mereka beralasan bahwa mereka adalah penolong Allah dan pemelihara Islam, sedangkan kalian – kaum Muhajirin – adalah kaum yang besar, namun sebagian kecil kaummu telah menyimpang.

Mendengar ucapan dari kaum Anshar, Abu Bakar bangkit berbicara yang dikenal sangat lemah lembut dan santun. Beliau memulai kata-katanya dengan pujian dan sanjungan kepada kaum Anshar. “Kebaikan yang kalian sebutkan tentang Anshar sama sekali tidak salah. Namun ketahuilah, kekhalifahan paling layak dipegang oleh seorang Quraisy yang mulia. Ia adalah orang Arab yang mulia dari sisi keturunan dan keluarga. Sungguh aku rida jika kekhalifahan dipegang oleh salah seorang dari dua orang mulia ini (Umar dan Abu Ubaidah). Berbaitlah kepada salah satu diantara keduanya sesuai dengan keinginan kalian”, ujar Abu Bakar sambil memegang tangan Umar ibn al-Khaththab dan Abu Ubaidah ibn al-Jarrah yang duduk di sisinya. Keduanya bangkit berdiri untuk dibaiat. Namu Umar berkata menanggapi ucapan Abu Bakar, “Sungguh aku menyukai ucapan Abu Bakar kecuali tentang diriku. Demi Allah, seandainya saat ini aku dibunuh dan mati, itu lebih kusukai dibanding harus memimpin suatu kaum yang di dalamnya ada Abu Bakar.”

Begitulah begitu banyaknya keutamaan yang dimiliki oleh Abu Bakar diantara para sahabat utama Rasulullah sehingga beliaunya yang paling layak menjadi Khalifah pertama kaum muslimin. Singkat cerita, Abu Bakarlah yang menjadi Khalifah pertama.

Beliau menjadi khalifah dalam waktu singkat yakni dua tahun lamanya. Selama periode kekhalifahannya, beliau memberantas nabi-nabi palsu yang banyak bermunculan, orang-orang murtad serta memerangi kaum Romawi dan Persia. Dari keseluruhan peperangan kaum muslimin hanya sekali saja kalah di medan perang itu pun karena koordinasi yang kurang baik.

Ketika kaum muslimin menghadapi pasukan Syria-Romawi di perang Yarmuk dimana pasukan kaum muslimin saat itu hanya berjumlah sekitar 24.000 yang dipimpin oleh Khalid ibn al-Walid sementara pasukan Romawi berjumlah 120.000 orang. Ada salah seorang pahlawan Islam yang ikut berperang dengan gagah berani yakni Said ibn Zaid. Biarlah ia menuturkan betapa dahsyatnya peperangan yang berlangsung di perang Yarmuk itu.

Pasukan Romawi datang mendekati kami dengan gegap gempita dan bergerak bagaikan sebuah gunung besar yang digerakkan tangan gaib. Di depan mereka berjalan para panglima perang dan para pendeta pembawa panji-panji Romawi sambil meneriakkan seruan peperangan. Di belakang mereka para tentara yang bersuara bagaikan halilintar menggemakan yel-yel peperangan.

Namun akhirnya pasukan Romawi kalah. Hiraklius raja Romawi merasa heran, bingung, kaget dan sedih mendengar kabar kekalahan pasukannya di Yarmuk. Ketika sisa pasukannya datang menghadap, Heraklius berkata, “Ceritakanlah kepadaku kaum yang mengalahkan kalian itu, bukankah mereka manusia biasa seperti kalian?”

Mereka menjawab, “Benar”. “Apakah jumlah mereka lebih banyak ataukah kalian yang lebih banyak?”

Salah seorang pemimpin pasukan yang tersisa itu berkata, “Kami kalah karena mereka adalah kaum yang selalu shalat di malam hari dan berpuasa di siang hari; mereka menepati janji, serta menyeruh kepada kebaikan-kebaikan dan mencegah kemungkaran; mereka saling menolong dan saling berbagi di antara mereka. Sebaliknya, kami adalah sekumpulan orang yang suka minum arak, berzina, melakukan segala yang diharamkan, mengkhianati janji, saling memurkai, menzalimi. menyeruh kepada keburukan serta mencegah manusia dari segala yang diridai Allah. Kami juga selalu membuat kerusakan di muka bumi.”

Heraklius berkata, “Engkau benar.”

Singapore, 9 August 2018.

Menikmat Angkutan Kota (Angkot) Bandung

Sudah lama saya tidak naik angkot saat berada di Bandung akibat banyaknya alternatif transportasi umum saat ini seperti gojek, gocar, grab. Dua minggu lalu (hari Sabtu dan Minggu) saya di Bandung untuk sebuah keperluan yang mendesak. Namun karena kartu telepon Indonesia saya tidak dilengkapi dengan paket data sehingga dua hari tersebut tidak memiliki akses Internet.

Jadilah saya tidak bisa menggunakan aplikasi online untuk memesan gojek/gocar/grab. Solusinya adalah menggunakan transportasi konvensional yakni angkutan kota alias angkot. Ternyata masih banyak masyarakat yang menggunakan angkot di tengah persaingan moda transportasi yang sangat beragam sekarang.

Photo yang saya ambil saat perjalanan dari Riung Bandung menuju Samsat (Sukarno Hatta) tanpa meminta izin terlebih dahulu ke penumpang lain (Maaf ya bu dan de’).

Asyik juga merasakan naik angkot setelah sekian lama tidak menggunakannya.

Gagap Teknologi – Pencairan Cek

Bekerja di industri teknologi informasi dan telekomunikasi seharusnya melek teknologi termasuk hal-hal yang berhubungan dengan dunia keseharian.

Minggu kemarin saya, istri, dan anak-anak ke bank OCBC untuk mencairkan cek sisa uang kursus bahasa inggris anak saya.

Baru kali ini saya berhubungan dengan urusan cek sehingga tidak tahu seluk beluknya dan konyolnya lagi tidak cari-cari di Internet sebelum berangkat.

Sesampai di bank OCBC di Paya Lebar mall, saya pun mengambil antrian. Sepuluh menit menunggu, giliran dipanggil oleh teller. saya perlihatkan cek tersebut ke teller bank dan setelah diperiksa olehnya, sang teller pun mengatakan bahwa pencairan bukan di teller OCBC, tetapi di deposit box atau ke teller bank DBS dimana cek akan dicairkan. Saya hanya memiliki rekening di bank DBS sehingga harus mencairkannya di bank DBS juga walaupun ceknya dari bank OCBC.

hehe, udik juga ternyata…

Yang lagi ramai tentang pelican crossing di Jakarta

Semalam sempat melihat berita yang lagi hangat di Jakarta tentang pembongkaran JPO (jembatan penyeberangan orang) dan menggantikannya dengan pelican crossing oleh gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Timbul pro dan kontra.

Saya sendiri mendukung tindakan tersebut karena tujuan utamanya adalah untuk estetika kota dan tujuan jangka panjang yakni akan disiapkan underpass untuk penyeberangan. Bagi saya ini bukan sesuatu yang perlu diperdebatkan karena sesuatu yang lumrah dan tidak terlalu istimewa.

JPO sendiri sebenarnya bisa menjadi ditampilkan lebih menarik tanpa merusak pemandangan/estetika kota. Saya ambil contoh di Singapura untuk penyeberangan orang ada tiga yakni JPO, pelican crossing, dan underpass. Ketiga-tiganya tetap dipakai.

Photo berikut terlihat pelican crossing di Marine Parade Singapura yang di sisi kirinya sedang ada proyek MRT.

Sementara photo berikut adalah salah satu Underpass untuk penyeberangan orang di stasiun MRT Paya Lebar yang menghubungkan bus stop dan stasiun MRT serta Mall perbelanjaan sehingga saling terintegrasi satu dengan yang lainnya.

Photo berikut untuk JPO di daerah Upper east coast road.

Terkadang masyarakat kita terlalu banyak menghabiskan energi untuk berdebat tentang sesuatu yang tidak perlu. Masih banyak hal lain yang lebih bermanfaat untuk dipikirkan dan bukan untuk diperdebatkan.

Singapura, 3-Agustus-2018

Makan Siang Perpisahan dengan Phoebe

Baru sempat menulis cerita ini walaupun waktunya sendiri sudah beberapa bulan yang lalu. Tapi tidak mengapa setidaknya bisa buat kenang-kenangan suatu saat nanti. Proyek yang kita kerjakan di operator Singtel sudah hampir selesai waktu itu sehingga project manager kami memutuskan untuk mengurangi team.

Proyek ini memakan waktu selama dua tahun lamanya. Saya sendiri ikut ke proyek tersebut tidak dari awal. Phoebe adalah orang pertama yang ikut di dalamnya. Selama pengerjaannya silih berganti orang yang masuk dan keluar dan alhamdulillah dapat terselesaikan.

Berikut photo kenang-kenangan yang saya ambil saat makan siang perpisahan dengan Phoebe karena akan kembali lagi ke Ericsson China untuk penugasan berikutnya di negara lain lagi.

Sukses terus buat Phoebe….

 

Genap sudah usia saya 37 tahun

Tidak terasa hari ini sy berulang tahun yg ke 37. Setengah kurang dari usia Rasulullah. Ya Allah berikanlah kepada hambamu ini keberkahan di sisa usia hambamu ini.

Karena istri dan anak-anak sedang berada di Bandung jadi terpaksa makan di luar sendiri. Hari ini sy mampir ke bebek pak Ndut di Tampines persis di samping stasiun MRT. Awal perkenalan saya dengan restoran bebek pak Ndut ini dari salah satu teman kantor. Beliau mentraktir kami di suatu siang saat jam istirahat kantor.

Karena kurang pergaulan, saya baru ngeh kalau ada restoran ini di daerah Tampines padahal saya setahun tinggal di daerah sana (Jan 2016 – Jan 2017).

Menu yang saya pesan bebek goreng, tahu telur, dan es cendol.

 

Akhirnya Bisa Punya Waktu Setup Email kawananu.com

Setelah sekian lama tidak sempat untuk setup mail server kawananu.com. Akhirnya hari ini saya sempat dan sudah berjalan dengan baik. Bagi siapa saja yang ingin berkorespondensi dengan saya bisa melayakankan email ke kari @ kawananu.com ( tanpa spasi).

Bagi yang mengirimkan e-mail dari gmail, silahkan untuk memeriksa direktori spam gmail anda karena email dari kawananu.com dikategorikan sebagai spam.

The end of December 2017

I can’t imagine that now by the end of December 2017, I have been working and living in Singapore for 2 years. I want to say Alhamdulillah to Allah SWT.

For my family, they moved to here as well on February 2017 to accompany me. Embassy of the republic of Indonesia has made School for our Indonesian people so that it’s easy for us who has children need to go to school. Of course the curriculum will be not different with school in Indonesia.

So far, We really enjoy living in Singapore due to this is the first time I can live with them together as before I worked in Jakarta and on the other hand my wife and our children lived in Bandung and I could only meet them on the weekend.

Now, I can take my children to school and pick them up on the afternoon back to home. I have lost my times with my children for almost 7 years and syukur Alhamdulillah, Allah gives me times for living with my lovely family now.

Singapore, December 2017.

Menyalin keluaran dari linux command line ke sebuah file

Materi ini sebenarnya pernah saya tulis di buku saya yang berjudul ‘Debian GNU/Linux’ tapi saya tidak memiliki softcopy-nya lagi sekarang sementara hardcopy-nya ada di Bandung. Saat ini saya lagi ngoprek tentang Hadoop di atas mesin virtualisasi dan seluruh output-nya ingin saya simpan dalam bentuk logfile.

Di mesin server saya tidak ada X-Window sehingga seluruh aktifitas saya di Linux harus menggunakan command line.

Untuk menyimpan seluruh logfile dari command line dapat menggunakan perintah berikut:


debian:~# command | tee -a result.log

alternatif lain:


debian:~# command &> result.log

Bedanya adalah pada perintah pertama outputnya akan ditampilkan di layar monitor dan saat yang bersamaan juga tersalin ke result.log sementara perintah kedua tidak.

Tujuan saya sebenarnya perintah berikut:


debian:~# xl create -c HadoopDataNode.cfg | tee -a result.log

 

Python untuk Perl Programmer

Karena kebutuhan untuk big data, saya mulai mendalami Python namun Perl tentu saja masih menjadi bahasa favorit saya.

Mudahan-mudahan ada kesempatan untuk membuat buku dengan judul ‘Python untuk Perl Programmer’. Berikut perbandingan kode program untuk menghasilkan keluaran yang sama.

Perl

Python

Membiasakan Anak-anak ke Perpustakaan

Fasilitas publik yang dimiliki oleh negara Singapura memang cukup membuat masyarakatnya merasa dimanjakan karena hampir seluruh fasilitas disediakan oleh pemerintah Singapura, salah satunya adalah perpustakaan umum yang ada di hampir setiap daerah.

Fasilitasnya juga lumayan mewah ditambah lagi dengan penggunaan teknologi terkini yang selalu ter-update diterapkan di semua perpustakaan. Bagi Singaporean atau penduduk asli dan permanent resident (PR) untuk pembuatan kartu perpustakaan sebagai syarat untuk meminjam buku bersifat gratis sementara bagi foreigner diwajibkan membayar S$40 untuk pembuatan kartu tersebut.

Jumlah maksimal buku yang boleh dipinjam adalah 8 buku untuk 3 minggu. Buku-buku yang dimiliki oleh perpustakaan di sini pun selalu terupdate. Satu hal menarik juga adalah kita tidak perlu mengambalikan buku di perpustakaan tempat kita meminjam tetapi dapat dikembalikan di perpustakaan mana saja. Sebagai contoh saya meminjam buku di NLB Marine Parrade kemudian buku tersebut saya kembalikan di NLB Bukit Panjang.

Naya dan Ibnu kami biasakan untuk ke perpustakaan dan meminjam buku dalam rangka memupuk budaya bacanya. lihat saja aksi Ibnu dan Naya yang sedang membaca di salah satu perpustakaan di sini.

Syukuran ulang tahun Naya dan Appreciation Dinner dari Ericsson Singapore

Hari ini saya mengajak istri dan anak-anak saya makan di salah satu restoran Indonesia yang ada di Singapore dalam rangka syukuran hari kelahiran anak kami yang pertama Naya (8 tahun – semoga menjadi anak sholehah, pintar, sukses dunia dan akhirat, aamiin ya Allah).

Tujuan kami adalah restoran IndoChili yang terletak di Zion Road. Kami memilih untuk duduk di teras restoran karena anak saya yang kedua Ibnu tidak suka dengan ornamen-ornamen antik seperti patung, serta kembang-kembang yang ada di dalam restoran.

Walaupun ada sedikit perdebatan kecil antara Naya dan Ibnu karena sang kakak ingin duduk di dalam sementara sang adik ingin duduk di luar karena alasan di atas namun pada akhirnya kakak bisa mengalah. Berikut tampak depan dari restoran tersebut.

Ini photo-photo kami sekeluarga saat berada di restoran tersebut:

Selain yang kami makan di tempat seperti rawon, nasi goreng lengkap, serta minuman, ada beberapa menu yang dibawa pulang untuk makan malam seperti sate, ikan bakar, gule kambing, dan gado-gado.

Alhamdulillah di waktu yang bersamaan saya juga mendapat ‘appreciation dinner’ dari kantor sehingga acara makan-makan kali ini sifatnya gratis alias dibayar oleh Ericsson (terima kasih).

Photo Masa Kecil Dulu di Makassar

Barusan dapat kiriman WA message dari adik sepupu saya Fadli. hehe ternyata photo saat masih SMP di Makassar dulu sekitar tahun 1993-1996. Kak Adi memangku adik sepupu saya Fadli sementara saya memangku Fuad. Sekarang mereka sudah besar-besar semua. Sungguh waktu begitu cepat berjalan.

Pencil sebagai alternatif Microsoft Visio

Pencil adalah salah satu software yang dapat digunakan untuk menggambar sebagai alternatif pengganti Microsoft Visio yang harganya cukup menguras kantong.

Saya mulai menggunakan software ini baru beberapa saat yang lalu dan hasilnya cukup memuaskan sehingga tidak terpikirkan lagi untuk menggunakan Visio.

Kunjungan teman serumah semasa SMA dan kuliah

Hari selasa malam saya bertemu dengan salah satu teman serumah saat SMA dan kuliah di Bandung. Aryo begitu kami memanggilnya. Setelah sebelas tahun akhirnya bisa berjumlah lagi di negeri orang (Singapura) karena Ia kebetulan ada tugas kantor. Jadilah kami membuat janji di Orchard road.

Walaupun di negeri orang, saya sendiri lebih senang mengajak mereka ke rumah makan Indonesia karena selera kita belum tentu sama dengan makanan yang ada di sini (catatan: jenis makanan yang ada di sini sebagian besar sama karena terbilang masih satu rumpun antara Indonesia dan Singapura).

Saya mengajak Aryo dan keluarganya untuk makan disekitaran Orchard Road tepatnya di Lucky Plaza, tempat di mana restoran Bebek Pak Ndut berada.

Berikut photo sebagai kenang-kenangan pertemuan kami.

 

Menemani anak tidur sambil melanjutkan koding

Malam ini sambil menemani anak pertama saya tidur, saya mencoba melanjutkan kode program yang belum terselesaikan juga. Di jam kerja pastinya saya tidak bisa melakukan koding karena pekerjaan utama yang harus diselesaikan. Kode program yang sedang penulis kerjakan ini sebenarnya saling berkaitan walaupun sifatnya sebagai penunjang saja.

Target penulis, kode program ini harus terlesaikan seluruhnya sebelum akhir tahun sehingga bisa benar-benar bermanfaat untuk proses monitoring jaringan. Selama ini saya melakukannya secara parsial sesuai kebutuhan saja, nah target akhirnya adalah keseluruhan statistik jaringan dapat termonitor secara otomatis.

Satu hal yang menjadi kendala adalah larangan untuk menyimpan server yang tidak teregistrasi oleh pihak operator di sini. Untuk mendapat izin tentu saja tidak mudah dan belum tentu di-approve. Jadilah program ini berjalan di laptop penulis dan setiap terkoneksi ke jaringan operator maka program akan bekerja secara otomatis.

 

Koleksi buku bahasa pemrograman terus bertambah

Sejak kepindahan ke Singapura setahun lalu, koleksi buku-buku text book bahasa pemrograman penulis terus bertambah sebagai referensi saat melakukan koding.  Walaupun belum seluruhnya dibaca, namun saat dibutuhkan tentu saja penulis dapat membuka buku-buku tersebut.

Penulis mulai melirik bahasa Python sebagai bahan perbandingan dengan Perl. Oleh karena itu, koleksi buku-buku bahasa pemrograman di rumah mulai dihiasi juga oleh Python selain Erlang dan Java tentunya. Alasan lain mulai tertarik dengan Python karena alasan pasar yang mulai didominasi oleh Python.

Seperti biasa, penulis melakukan pembelian buku melalui online di www.opentrolley.com.sg dan rata-rata pesanan akan datang tujuh hari kerja.

 

 

Orang-orang yang berjasa di balik kebangkitan server kawananu

Tulisan sebelumnya sudah membahas bahwa saya kembali bisa ngeblog dan tulisan-tulisan lama bisa kembali ada di weblog ini. Beberapa tahun yang lalu, komputer server saya di ISP mengalami kerusakan akibat usia komputer tersebut memang sudah tua. Namun karena ISP tempat dimana saya melakukan collocation server di Makassar dan saya sendiri berdomisili tidak di Makassar sehingga cukup kesulitan untuk mengganti server tersebut. Baru di bulan Mei 2017 ini server kawananu kembali bisa mengudara dan melayani kebutuhan blog saya. Berikut orang-orang yang cukup berjasa mewujudkan server ini bisa aktif:

1. Fuad Reza Fachlevi – Adik Sepupu

2. Achmad Yusri Afandi – Sahabat

3. Pihak ISP – Bu Darmi dan Pak Warno

 

Liburan ke Jogja, Solo, Prambanan, dan Borobudur

Liburan akhir tahun 2013 kemarin bertepatan juga dengan liburan sekolah anak kami Naya. Jauh-jauh hari kami sudah merencanakan untuk berlibur ke luar Bandung dan tujuannya adalah Jogjakarta dan sekitarnya.

Banyak cerita yang sebenarnya ingin saya tulis tapi rasanya kurang mood. Tapi hal yang patut saya garis bawahi adalah kota ini menyimpan sejuta kenangan tentang awal karier saya sebagai seorang penulis profesional. Dua buku saya yang pertama diterbitkan oleh Andi Offset Jogjakarta, sehingga saat menginjakkan kaki pertama kali ke kota ini kembali setelah sekian tahun, rasanya saya sedang bernostalgia dengan kota ini.

Kedatangan saya kali ini tentu saja tidak sendiri lagi seperti tahun 2004 dan 2005 dulu. Kali ini sudah ditemani oleh anak-anak dan istri saya beserta Ibu mertua saya dan adik sepupu dari istri saya. Tentu saja saya menceritakan kepada anak-anak kami bahwa Ayahnya sudah beberapa ke Jogja untuk membawa naskah dan juga saat bekerja di Ericsson dan Siemens.

Photo ini adalah kedua anak kami Naya dan Ibnu di masjid Gedhe Kauman Keraton Jogjakarta. Masih tampak letih dan berantakan karena perjalanan yang sangat jauh dari Bandung yang kami tempuh sekitar 12 jam perjalanan. Kami sengaja menyempatkan shalat Magrib dan Isya di Masjid Gedhe ini.

DSC_0040

Setiap saya ke Jogja di tahun-tahun sebelumnya, alhamdulillah saya selalu menyempatkan diri untuk shalat di masjid yang cukup bersejarah ini.

Di Solo mampir di keluarga (sepupu ibu mertua) dan photo ini sedang menikmati kambing muda (mantab, kolesterol tinggi).

DSC_0068

DSC_0067

Dari Solo, kami menuju candi Prambanan yang ada di kecamatan Prambanan, Sleman dan kecamatan Prambanan, Klaten, kurang lebih 17 kilometer timur laut Yogyakarta, 50 kilometer barat daya Surakarta dan 120 kilometer selatan Semarang, persis di perbatasan antara provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Ibnu tampak lesu karena terbangun kanget sesaat sampai di area parkir candi Prambanan.

DSC_0092

Setelah candi Prambanan, kami kembali ke Bandung melalui jalur selatan pulau Jawa.

Pterygium – Operasi atau Dibiarkan Saja

Pernahkan Anda mendengar kata pterygium? bagi orang-orang yang bekerja di bidang kesehatan seperti dokter, perawat mungkin akan cukup familiar dengan penyakit ini. Saya cukup lama menderita penyakit ini sejak kuliah semester 5 dan baru diangkat tahun 2011 lalu. Awalnya saya tidak mengerti tentang penyakit ini. Dari informasi yang saya dapatkan di Internet ternyata faktor penyebab utama dari penyakit ini adalah karena debu dan cahaya matahari yang langsung mengenai mata.

 sumber gambar: https://en.wikipedia.org/wiki/Pterygium_%28conjunctiva%29

Memang pada tahun-tahun tersebut mata saya sangat sering terpapar oleh debu di jalan karena adanya pembangunan jembatan layang di daerah kordon Bandung. Jalan tersebut sehari-hari saya lalui untuk kuliah karena rumah kost di Sadang Serang sedangkan kampus berada di Dayeuh Kolot.

Saya sering ke dokter mata di RS Cicendo Bandung (RS khusus mata) dan berkonsultasi dengan dokter spesial mata di sana. Dari dokter spesialis mata saya dapatkan informasi bahwa penyakit tersebut dapat terjadi pada usia produktif karena aktifitas di luar ruangan yang cukup tinggi namun untuk melakukan tindakan operasi terhadap penyakit tersebut harus dipertimbangkan matang-matang oleh pasien karena tingkat kekambuhan dari penyakit tersebut cukup tinggi pada usia di bawah 40 tahun. Sehingga setiap kali ke dokter saya hanya diberi obat cendo cenfresh untuk mengurangi iritasi mata. Jika mata terkena sinar matahari atau debu atau berada dalam ruang ber-AC maka mata akan merah seperti layaknya orang yang sakit mata. Cukup mengganggu memang tapi menurut dokter ini hanya alasan kosmetik saja. Alhamdulillah pterygium saya sendiri termasuk yang tingkat penjalaran ke kornea mata tidak progressif atau cenderung lambat.

Suatu hari saya ke toko buku dan mendapatkan buku yang membahas tentang obat herbal untuk penyakit pterygium ini. Saya membeli buku tersebut dan mulai memesan obat dari distributornya. Saya cukup lama menggunakan obat tetes mata herbal ini dan memang tidak memberikan efek samping terhadap mata saya. Namun Allah SWT belum menakdirkan kesembuhan pterygium saya dengan obat tersebut. Saya sampai bertemu dengan penemunya langsung untuk berdiskusi karena rumah beliau berada di daerah Jakarta Selatan dan kebetulan dekat dengan kantor saya juga.

Hingga pada suatu saat pterygium saya sudah cukup mengganggu dan mencoba berkonsultasi dengan dokter spesialis mata di RS Santosa Bandung yakni dr. Andriafi Syah, SpM. Dari hasil diskusi dengan beliau, sebenarnya informasi yang disampaikan sama dengan dokter-dokter sebelumnya yakni jika dilakukan tindakan operasi terhadap mata saya maka tingkat kekambuhan cukup tinggi untuk usia produktif seperti saya yakni di bawah 40 tahun. Namun dengan mantap saya putuskan untuk dilakukan pengangkatan pterygium saya dengan metode graft (kalau tidak salah ingat) dengan harapan semoga Allah memberikan kesembuhan dengan jalan ini tanpa kekambuhan lagi pasca operasi. Metode graft kurang lebih seperti ini penjelasannya: pterygium diangkat kemudian dilakukan sayatan pada jaringan sehat yang ada di bagian mata yang lain sesuai ukuran dari pterygium. Sayatan dari jaringan sehat tersebut ditempatkan di daerah pterygium yang telah dibuang dan dijahit. Jenis benang yang digunakan bersifat permanen di mata sehingga tidak perlu dicabut lagi.

Daerah pengambilan sayatan jaringan sehat dibiarkan begitu saja dan menurut dokter Insya Allah akan tumbuh dengan sendirinya. Awalnya cukup panik karena membuat mata saya merah pada bagian sayatan pada jaringan yang sehat serta daerah pterygium tersebut.

Proses operasinya sendiri Alhamdulillah berjalan lancar tanpa ada kendala karena termasuk operasi kecil. Awalnya sempat ragu pada detik-detik sebelum operasi pengangkatan pterygium saya namun akhirnya terlaksana juga. Dokter pun memberi jadwal operasi dan pihak rumah sakit terlebih dahulu menghubungi pihak asuransi yang menjadi penjamin dari seluruh biaya pre dan pasca operasi saya (Asuransi ini saya dapatkan dari kantor tempat saya bekerja – syukur Alhamdulillah ada jaminan dari kantor). Biaya pun disetujui oleh pihak asuransi karena memang masih dalam area pertanggungan dengan biaya kalau tidak salah kurang lebih tiga juta setengah rupiah(Rp. 3.5 juta).

Persiapan sebelum operasinya sendiri tidak terlalu rumit karena cukup memotong rapi rambut dan pemberian obat tetes antibiotik mata sehari sebelum operasi. Tindakan operasi berjalan sekitar satu jam-an yang dilakukan oleh dr. Andriafi syah, SpM dan dibantu oleh dua orang perawat. sebelum dan setelah operasi saya ditempatkan di sebuah ruang pre/pra operasi yang bersebelahan dengan ruang operasinya sendiri. Ruang tersebut cukup steril menurut saya dan merupakan tempat untuk relaksasi pikiran sebelum dan sesudah operasi.

sumber gambar: https://en.wikipedia.org/wiki/Pterygium_%28conjunctiva%29

Dua jam kemudian saya dibolehkan untuk pulang dan istirahat di rumah dan dibekali beberapa jenis obat diantaranya obat tetes mata (jenis antibiotik) dan obat yang diminum dan harus kontrol seminggu kemudian. Seluruh proses tersebut saya jalani dan sekitar satu bulan kemudian mata saya kembali normal sedia kala. Ya Allah, syukur Alhamdulillah engkau telah memberikan kesembuhan kepada hamba lewat tangan dari seorang dr. Andriafi Syah, SpM. Sampai saat ini saya masih melakukan pemeriksaan rutin jika ada kesempatan ke RS Santosa Bandung sambil menemani anak untuk imunisasi atau berobat walaupun sifatnya sudah tidak wajib lagi. Dari pemeriksaan rutin tersebut, menurut dr. Andriafi SpM, kekambuhan dari pterygium saya belum menunjukkan ke arah sana (Syukur Alhamdulillah Ya Allah). Saya juga tidak perlu menggunakan cendo cenfresh dalam waktu lama kecuali jika mata agak kering karena paparan sinar matahari atau debu atau karena berada dalam ruang AC.

Tindakan preventif yang saya lakukan adalah selalu menggunakan kaca mata yang lensanya cukup besar saat berada di luar ruang (kacamata pengayuh sepeda atau kacamata tukang las besi) yang bisa didapatkan di toko-toko sepeda atau di Ace Hardware atau di tempat lain. Tujuannya adalah untuk menghindari debu yang langsung mengenai mata.

Jadi bagi Anda yang menderita penyakit pterygium ini tetap harus memikirkan matang-matang apakah akan dilakukan tindakan operasi atau dibiarkan saja karena setiap orang akan berbeda-beda satu dengan lainnya terhadap tingkat kekambuhan pasca operasi.

Semoga tulisan ini dapat memberikan sedikit informasi bagi yang menderita penyakit pterygium dari sudut orang awam dalam dunia kedokteran.