PCM parser – Updated

Minggu ini saya coba update lagi program perl yang saya buat untuk membantu pekerjaan kantor saya. Program tersebut menambahkan 2 item baru di output yakni SPC dan SPID. Selain itu saya juga menambah 2 opsi baru untuk pilihan user.

Ikatlah Ilmu dengan Mencatatnya – Pesan Ali bin Abi Thalib

Dikutip dari buku Aku Membaca Aku tersenyum karangan AM Waskito – Salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yakni Ali bin Abi Thalib pernah berkata “Ikatlah ilmu dengan mencatatnya/menuliskannya” adalah pesan yang sangat berharga bagi kita semua. Maksud dari perkataan beliau adalah setiap mendapat ilmu, catatlah ia, agar ilmu tersebut tetap terjaga. Jika hanya mengandalkan ingatan belaka, khawatir suatu saat kita terlupa.

Bingung mau menulis apa lagi…

111 = 3

Tulisan ini adalah tulisan yang ke-111 di blog kawananu.com. Sedangkan penjumlahan dari angka tersebut menunjukkan 3 tahun saya ngeblog dan mengelolah server kawananu.com. Jika dirata-ratakan ternyata dalam sebulan saya cuma menghasilkan 3 buah tulisan. Ini angka yang sangat minum untuk menjadi seorang penulis hebat bukan?.

Daeng Basa

Ya, sebuah nama yang selalu terngiang-ngiang sampai kapan pun. Daeng Basa adalah kakek (ayahanda dari bapak saya) yang telah meninggal dunia setelah shalat Isya kamis malam tanpa mengalami sakit dan kepergiannya pun begitu tenang dan  cepat, semoga Allah menerima kebaikan dan memaafkan segala kesalahan beliau.

Saat itu saya sedang tugas ke  Padang-Sumatera Barat seminggu sebelum Ramadhan tahun 2010. Dering telepon dari Bapak saya tidak seperti biasa karena dengan terbatah-batah beliau menyampaikan bahwa kakek telah meninggal dunia malam ini nak – Ammoterangmi neneknu nak, teamoko amminroi mae nasaba’ tenaji nuciniji mayatna na‘, ammuko bari’basa nanikuburumi te’te’ sampulo juma’). Begitulah pesan bapak  saya saat itu. Namun karena rasa rindu yang begitu dalam kepada almarhum, keesokan harinya saya tetap memutuskan untuk berangkat dari Padang (jam 7 malam) transit di Jakarta dan sampai di Makassar jam 3 subuh. Saya tidak sempat ke Bandung untuk bertemu dengan anak-istri tapi Insya Allah setelah pulang dari Makassar nanti akan langsung ke Bandung baru kembali ke Jakarta untuk memulai aktifitas pekerjaan lagi. Pekerjaan di Padang memang belum selesai saat itu tapi setelah diskusi dengan Project Manager (PM) saya, beliau mengizinkan untuk meninggalkan Padang. Terima kasih banyak Pak.

Sebenarnya baik kakek maupun nenek dari garis keturunan bapak saya, kami memanggil keduanya dengan sebutan nenek dan itu berlaku juga buat Daeng Basa (karena kebiasaan cucu-cucu beliau memanggilnya). Mengingat nama beliau, saya pasti akan teringat dengan masa kecil dulu di kampung halaman saya Jeneponto. Saya memiliki banyak panutan hidup dari keluarga sendiri, sebuah keluarga yang cukup bersahaja dan begitu banyak pelajaran hidup yang membuat saya saat ini ada di tanah seberang. Selain Daeng Basa, saya juga memiliki kakek dari ibu saya yakni Abbas Alimuddin, beliau adalah purnawirawan ABRI (Lain kali saya akan menuliskan tentang beliau juga). Kedua sosok inilah yang banyak menorehkan tinta pembelajaran hidup masa-masa kecil saya dulu selain tentunya yang utama dari kedua orang tua saya.

Napak tilas kehidupan masa kecil dulu di kampung sangatlah indah. Saya tidak mengenal dunia game layaknya anak-anak jaman sekarang. Yang saya kenal adalah permainan tradisional yang semuanya berasal dari alam. Waktu itu sering bermain di sawah dan di kebun, ammatte jangang-jangang (padi’, taradidi) adalah kegemaran saya. Bersama anak-anak lainnya kami tumbuh di lingkungan pedesaan, walau sebenarnya saya terlahir di kota Makassar karena memang keluarga besar dari Ibu saya lebih banyak tinggal di Makassar, namun bapak bekerja sebagai pegawai negeri di Jeneponto maka kami tumbuh dan besar di sana (aktek kelahiran Jeneponto padahal lahir di Makassar).

Waktu itu rumah orang tua saya ada di BTN Romanga sementara keluarga kami lebih banyak di Belokallong dan Pakkaterang. Sepulang sekolah atau di hari libur pasti akan berkunjung dan menginap ke rumah kakek di Belokallong dan di Pakkaterang. Biasanya saya selalu diajak pergi ke kebun di pagi dan sore hari yang memang jarak kebunnya tidak terlalu jauh dari rumah. Dan paling senang saya meminum air tebu yang sengaja ditanam di kebun nenek saya. Caranya , ditebang batang dan daun-daunnya yang sangat tajam yang masih melekat di batang tebunya dibuang kemudian dikuliti dan tinggal diisap dan ampasnya dibuang. Rasanya sangat manis. Makanya setiap melihat orang yang jualan air tebu saya selalu teringat akan masa-masa dulu bersama nenek saya Daeng Basa. Beliau adalah seorang pekerja keras dan pantang menyerah. Di zamannya, mungkin orang tua dulu tidak peduli dengan pendidikan anak-anaknya, namun kolaborasi nenek kami yang memiliki visi jauh ke depan dan sangat peduli dengan pendidikan anak-anaknya, akhirnya keempat saudara bapak saya semuanya berhasil dan mandiri hingga saat ini.

Semasa hidupnya nenek saya (alm. Daeng Base), saya tidak pernah sedikit pun mendengar beliau menceritakan orang lain. Iya lebih sibuk untuk bekerja dan beribadah. Waktu-waktu shalat terus beliau jaga sampai ajal menjemput dan terbukti, ketika bapak saya pamit ke kakek saya untuk melaksanakan shalat Isya ke Masjid, Ia pun bersegera untuk melaksanakan shalat Isya di tempat tidur walaupun beliau tidak sakit namun karena faktor usia yang membuatnya harus terbaring di hari-hari sebelum malaikat maut menjemput. Setelah shalat Isya, beliau pun dipanggil oleh Allah SWT dengan tenang. Semoga Allah mengampuni seluruh kesalahan yang pernah beliau lakukan dan menerima seluruh amal baiknya, Amin.

Waktu itu, kakek saya sering bercerita tentang masa-masa penjajahan dulu, bagaimana susahnya untuk makan, tidak tenang karena dihantui oleh rasa takut akan kekejaman Jepang waktu itu. Beliau sering bercerita tentang orang-orang dulu bagaimana mereka berperang melawan penjajah, bagaimana mereka menyembunyikan padi di bawah tanah agar tidak dirampas oleh Jepang dan cerita-cerita lain yang tentu saja masih teringat sampai saat ini.

Dari beliaulah saya mengenal barzanji karena setiap nenek saya dipanggil untuk barzanji dalam acara Maulid Nabi Muhammad SAW, kami selalu diajak untuk ikut dan mendapat bayao dan songkolo maudu’.

Saat ubi jalar siap untuk dipanen, Kami (cucu) selalu diajak untuk ikut ke kebun mengambil ubi jalar (lame lamba). Biasanya ubi tersebut langsung saya bakar di tengah kebun untuk dinikmati saat itu juga dan sisanya dibawa pulang untuk dimasak atau dijadikan kue. Selain itu, kami juga sering diajak ke sungai untuk berenang atau menangkap ikan, kepiting dan udang.

Demikian ceritanya dan lain waktu saya akan sambung tulisan ini.

“Selamat jalan buat nenekku yang selalu kami rindukan, semoga Allah menerangi kuburnya dengan cahaya-Nya. Amin..”