Pterygium – Operasi atau Dibiarkan Saja

Pernahkan Anda mendengar kata pterygium? bagi orang-orang yang bekerja di bidang kesehatan seperti dokter, perawat mungkin akan cukup familiar dengan penyakit ini. Saya cukup lama menderita penyakit ini sejak kuliah semester 5 dan baru diangkat tahun 2011 lalu. Awalnya saya tidak mengerti tentang penyakit ini. Dari informasi yang saya dapatkan di Internet ternyata faktor penyebab utama dari penyakit ini adalah karena debu dan cahaya matahari yang langsung mengenai mata.

 sumber gambar: https://en.wikipedia.org/wiki/Pterygium_%28conjunctiva%29

Memang pada tahun-tahun tersebut mata saya sangat sering terpapar oleh debu di jalan karena adanya pembangunan jembatan layang di daerah kordon Bandung. Jalan tersebut sehari-hari saya lalui untuk kuliah karena rumah kost di Sadang Serang sedangkan kampus berada di Dayeuh Kolot.

Saya sering ke dokter mata di RS Cicendo Bandung (RS khusus mata) dan berkonsultasi dengan dokter spesial mata di sana. Dari dokter spesialis mata saya dapatkan informasi bahwa penyakit tersebut dapat terjadi pada usia produktif karena aktifitas di luar ruangan yang cukup tinggi namun untuk melakukan tindakan operasi terhadap penyakit tersebut harus dipertimbangkan matang-matang oleh pasien karena tingkat kekambuhan dari penyakit tersebut cukup tinggi pada usia di bawah 40 tahun. Sehingga setiap kali ke dokter saya hanya diberi obat cendo cenfresh untuk mengurangi iritasi mata. Jika mata terkena sinar matahari atau debu atau berada dalam ruang ber-AC maka mata akan merah seperti layaknya orang yang sakit mata. Cukup mengganggu memang tapi menurut dokter ini hanya alasan kosmetik saja. Alhamdulillah pterygium saya sendiri termasuk yang tingkat penjalaran ke kornea mata tidak progressif atau cenderung lambat.

Suatu hari saya ke toko buku dan mendapatkan buku yang membahas tentang obat herbal untuk penyakit pterygium ini. Saya membeli buku tersebut dan mulai memesan obat dari distributornya. Saya cukup lama menggunakan obat tetes mata herbal ini dan memang tidak memberikan efek samping terhadap mata saya. Namun Allah SWT belum menakdirkan kesembuhan pterygium saya dengan obat tersebut. Saya sampai bertemu dengan penemunya langsung untuk berdiskusi karena rumah beliau berada di daerah Jakarta Selatan dan kebetulan dekat dengan kantor saya juga.

Hingga pada suatu saat pterygium saya sudah cukup mengganggu dan mencoba berkonsultasi dengan dokter spesialis mata di RS Santosa Bandung yakni dr. Andriafi Syah, SpM. Dari hasil diskusi dengan beliau, sebenarnya informasi yang disampaikan sama dengan dokter-dokter sebelumnya yakni jika dilakukan tindakan operasi terhadap mata saya maka tingkat kekambuhan cukup tinggi untuk usia produktif seperti saya yakni di bawah 40 tahun. Namun dengan mantap saya putuskan untuk dilakukan pengangkatan pterygium saya dengan metode graft (kalau tidak salah ingat) dengan harapan semoga Allah memberikan kesembuhan dengan jalan ini tanpa kekambuhan lagi pasca operasi. Metode graft kurang lebih seperti ini penjelasannya: pterygium diangkat kemudian dilakukan sayatan pada jaringan sehat yang ada di bagian mata yang lain sesuai ukuran dari pterygium. Sayatan dari jaringan sehat tersebut ditempatkan di daerah pterygium yang telah dibuang dan dijahit. Jenis benang yang digunakan bersifat permanen di mata sehingga tidak perlu dicabut lagi.

Daerah pengambilan sayatan jaringan sehat dibiarkan begitu saja dan menurut dokter Insya Allah akan tumbuh dengan sendirinya. Awalnya cukup panik karena membuat mata saya merah pada bagian sayatan pada jaringan yang sehat serta daerah pterygium tersebut.

Proses operasinya sendiri Alhamdulillah berjalan lancar tanpa ada kendala karena termasuk operasi kecil. Awalnya sempat ragu pada detik-detik sebelum operasi pengangkatan pterygium saya namun akhirnya terlaksana juga. Dokter pun memberi jadwal operasi dan pihak rumah sakit terlebih dahulu menghubungi pihak asuransi yang menjadi penjamin dari seluruh biaya pre dan pasca operasi saya (Asuransi ini saya dapatkan dari kantor tempat saya bekerja – syukur Alhamdulillah ada jaminan dari kantor). Biaya pun disetujui oleh pihak asuransi karena memang masih dalam area pertanggungan dengan biaya kalau tidak salah kurang lebih tiga juta setengah rupiah(Rp. 3.5 juta).

Persiapan sebelum operasinya sendiri tidak terlalu rumit karena cukup memotong rapi rambut dan pemberian obat tetes antibiotik mata sehari sebelum operasi. Tindakan operasi berjalan sekitar satu jam-an yang dilakukan oleh dr. Andriafi syah, SpM dan dibantu oleh dua orang perawat. sebelum dan setelah operasi saya ditempatkan di sebuah ruang pre/pra operasi yang bersebelahan dengan ruang operasinya sendiri. Ruang tersebut cukup steril menurut saya dan merupakan tempat untuk relaksasi pikiran sebelum dan sesudah operasi.

sumber gambar: https://en.wikipedia.org/wiki/Pterygium_%28conjunctiva%29

Dua jam kemudian saya dibolehkan untuk pulang dan istirahat di rumah dan dibekali beberapa jenis obat diantaranya obat tetes mata (jenis antibiotik) dan obat yang diminum dan harus kontrol seminggu kemudian. Seluruh proses tersebut saya jalani dan sekitar satu bulan kemudian mata saya kembali normal sedia kala. Ya Allah, syukur Alhamdulillah engkau telah memberikan kesembuhan kepada hamba lewat tangan dari seorang dr. Andriafi Syah, SpM. Sampai saat ini saya masih melakukan pemeriksaan rutin jika ada kesempatan ke RS Santosa Bandung sambil menemani anak untuk imunisasi atau berobat walaupun sifatnya sudah tidak wajib lagi. Dari pemeriksaan rutin tersebut, menurut dr. Andriafi SpM, kekambuhan dari pterygium saya belum menunjukkan ke arah sana (Syukur Alhamdulillah Ya Allah). Saya juga tidak perlu menggunakan cendo cenfresh dalam waktu lama kecuali jika mata agak kering karena paparan sinar matahari atau debu atau karena berada dalam ruang AC.

Tindakan preventif yang saya lakukan adalah selalu menggunakan kaca mata yang lensanya cukup besar saat berada di luar ruang (kacamata pengayuh sepeda atau kacamata tukang las besi) yang bisa didapatkan di toko-toko sepeda atau di Ace Hardware atau di tempat lain. Tujuannya adalah untuk menghindari debu yang langsung mengenai mata.

Jadi bagi Anda yang menderita penyakit pterygium ini tetap harus memikirkan matang-matang apakah akan dilakukan tindakan operasi atau dibiarkan saja karena setiap orang akan berbeda-beda satu dengan lainnya terhadap tingkat kekambuhan pasca operasi.

Semoga tulisan ini dapat memberikan sedikit informasi bagi yang menderita penyakit pterygium dari sudut orang awam dalam dunia kedokteran.