Ketika Istri dan Anak Harus Dirawat Bersama di Rumah Sakit

Senin tanggal 28 Mei 2012, istri dan anak saya harus dirawat di rumah sakit. setelah berkonsultasi ke poli anak ternyata Ibnu (anak kedua) sudah pada fase dehidrasi sehingga dokter mengharuskan untuk di-opname, Ibnu mengalami muntah dan buang air yang terlalu sering disertai demam tinggi sehingga rewel setiap saat. Dari hasil pemeriksaan darah, air seni dan fases ternyata Ibnu terinfeksi bakteri (pastinya lewat makanan). Sementara istri kena tifus dan juga harus dirawat di rumah sakit. Saya harus cuti pada hari ini dan hari-hari kedepannya karena yang merawat dan menjaga istri dan anak-anak saya di rumah sakit tentunya saya sendiri, walaupun pekerjaan begitu banyak tapi yang paling utama tentu adalah keluarga.

Anak saya yang pertama Naya juga harus diboyong ke rumah sakit dan menginap bersama saya, istri dan Ibnu (anak kedua) karena Naya pasti akan rewel kalau tidak melihat ayah atau ibunya seharian terutama saat akan tidur. Sehingga saya memutuskan untuk sekeluarga menginap di rumah sakit sampai istri dan Ibnu bisa kembali ke rumah.

Sebenarnya Naya juga baru sembuh 2 hari yang lalu walaupun tidak dibawa ke dokter karena syukur Alhamdulillah sudah pulih.

Photo berikut adalah photo Ibnu sehari sebelum di bawa ke rumah sakit karena kebetulan hari minggu sehingga cukup kami beri panadol drops anak dan bye bye faver untuk menurunkan panas Ibnu.

Sedangkan photo berikut adalah Ibnu yang sudah di-opname di rumah sakit. Kasihan juga melihat jarum infus yang tertancap di tangan Ibnu.

Kalau photo ini Naya yang sudah tidur malam di sofa yang disediakan oleh pihak rumah sakit.

 

Duka Yang Mendalam

Hari ini tanggal 20 Mei 2012 jam 10 WITA om saya (adik dari bapak) Drs. Ahmad Basa telah meninggal dunia akibat kanker paru-paru stadium empat. Om Hama begitu saya memanggilnya adalah seorang guru SMA dan beliau mengajar mata pelajaran matematika. Saya banyak mendapatkan ilmu dari beliau saat saya masih SMP dulu di Makassar. Bagaimana belajar trigonometri tanpa harus menghafalkan. Seluruhnya akan terpetakan pada sebuah lingkaran. Pemetaan perhitungan trigonometri ini tentu saja tidak pernah saya dapatkan di bangku sekolah tapi saya dapatkan justru dari om Hama. Banyak kenangan yang tentu saja selalu terngiang-ngiang pada diri saya terhadap sosok seorang Drs. Ahmad Basa. Selamat jalan om Hama…

Masa kanak-kanak saya sampai menginjak remaja banyak saya habiskan bersama beliau seperti mencari udang/ikan di sungai dengan cara menyelam dan menembaknya dengan alat sederhana buatan om sendiri. Selain itu beliau juga senang berburu burung “bukkuru” atau tekukur yang kebetulan memang sangat banyak di kampung saya di Jeneponto.  Di akhir-akhir hayatnya, ia senang untuk ikut dengan para nelayan untuk memancing dan menangkap ikan di lautan lepas. Ini semua adalah kegemaran dari om Hama. Waktu itu kami bersaudara yang berarti keponakan beliau yang selalu diajak pada akhir pekan untuk menyalurkan hobinya itu karena anak-anaknya sendiri waktu itu masih kecil-kecil dan belum bisa diajak untuk ikut bersama.

Meninggalnya om Hama sebenarnya tidak terlalu jauh berselang atas meninggalnya nenek saya Daeng Sangnging, ibu dari bapak dan om Hama. Sehingga ini benar-benar duka yang sangat dalam buat keluarga kami. Tapi memang setiap jiwa yang hidup akan merasakan kematian sehingga harus ikhlas menerima semua ketentuan yang Allah SWT telah takdirkan.

Beberapa hari menjelang bulan suci Ramadhan dua tahun lalu, kakek saya dari bapak juga dipanggil oleh Allah SWT dan telah saya tuliskan pada link ini.

Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa kakek, nenek dan om saya yang tercinta, semoga Allah menerima seluruh amal perbuatan kebajikannya dan memberikan kelapangan dalam kuburnya, Amin…

Bandung, 20 Mei 2012