Bersepeda (kembali) di East Coast Park Singapura

Setelah beberapa lama rehat bersepeda, sore tadi kami memutuskan untuk kembali bersepeda di East Coast Park. Rute yang kami lewati selalu sama yakni ke arah bandara Changi walaupun belum bisa benar-benar sampai di sana atau bahkan melewatinya. Batas kami biasanya hanya sampai di tunjungan untuk beristirahat sejenak dan berputar arah.

Duduk-duduk sebentar di tunjungan untuk menikmati suasana pinggir pantai tempat orang-orang memancing.

Sesaat sebelum meninggalkan tunjungan untuk kembali bergerak ke arah playground tempat permainan anak.

Pemandangan di depan kami di area tunjungan pantai.

Setelah bersepeda dan bermain playground, saatnya makan malam masih di area East Coast Park, Ayo De, Ka, cepat kita harus segera pulang karena waktu magrib sudah masuk.

Berikut video buatan istri untuk kegiatan kami tersebut.

Evolusi Jam Tangan Dari Tahun ke Tahun

Tahun 2006 saya menggunakan jam tangan merek casio (favorit) yang saya beli di Makassar dan masih terus dipakai hingga saat ini. Yang sering diganti hanya baterai dan tali jam saja. Berarti sudah 12 tahun menggunakan jam ini. Harganya kalau tidak salah waktu itu sekitar Rp. 275.000.

Berikutnya, jam merek Q&Q dibeli di Bandung sekitar tahun 2013 dengan harga Rp. 250.000 yang saya pakai kurang lebih 2 tahun hingga baterai jamnya mati.

Jam tangan ketiga adalah merek Swatch yang saya beli tahun 2014 di Pondok Indah Mall (PIM) dengan harga Rp. 1.300.000 dan bertahan sekitar 3 tahun sampai talinya rusak. Masalahnya adalah toko Swatch tidak menyediakan tali original sehingga tidak bisa mendapatkan jenis tali jam yang sama dengan aslinya walaupun jamnya sendiri masih bagus.

Jam berikutnya merek Mondaine yang saya beli di Singapura lewat online di https://www.chrono24.com dan barangnya dikirim dari Jerman di awal tahun 2018 ini dengan harga USD $270.

Jika saya perhatikan ternyata setiap pergantian jam dari tahun ke tahun, harga jamnya semakin mahal mengikuti kurva berikut kecuali jam tangan kedua merek Q&Q. Jika saya ukur-ukur saya masih termasuk yang mengikuti kurva warna biru. Dalam arti kata walaupun harga jam yang saya beli meningkat tapi masih dalam batas yang wajarlah.

Perangkat-perangkat elektronika di dalam bus Singapura dan kekonyolan-kekonyolan saya

Setiap bus di Singapura selalu dilengkapi dengan perangkat elektronika yang berada di samping bus captain (pengemudi) dan di bagian tengah. Satu set (depan+tengah) untuk pelanggan yang digunakan untuk menempelkan kartu perjalanan ketika naik sebagai penanda awal perjalanan dengan jumlah minimal saldo yang telah ditentukan dan satu lagi di bagian tengah ketika akan turun. Saat menempelkan kartu untuk keluar bus, biaya perjalanannya akan terlihat di monitor alat tersebut dan saldo di kartu perjalanan kita akan berkurang secara otomatis.

Dua alat lainnya untuk keperluan sang bus captain. Satu sebagai alat GPS yang berisi peta perjalanan dan satu lagi untuk mengetahui biaya perjalanan dari satu bus stop ke bus stop yang lainnya.

Saat pertama kali datang ke Singapura, terus terang saya tidak mencari informasi yang banyak di Internet atau bertanya ke teman-teman yang pernah atau sedang berada di sini. Pokoknya berangkat dulu, nanti sesampai di Singapura baru mencari tahu segala sesuatunya dan ini salah.

Akibat informasi yang sangat kurang, saya jadi harus banyak bertanya ke orang-orang padahal informasinya bisa saja didapatkan di Internet. Kekonyolan pertama adalah pertanyaan ke bus captain apakah satu kartu perjalanan ini bisa dipakai untuk dua orang (saya dan istri) karena waktu itu kartu saya tertinggal di kamar? Oh iya, untuk perjalanan dengan bus, kita masih bisa menggunakan uang tunai tapi harus pas, tidak boleh kurang dan boleh lebih. Jika uangnya lebih maka bus captain tidak akan mengembalikan sisanya tapi kalau kurang, bus captain akan meminta kekurangannya.

Sekedar catatan saja kalau biaya perjalanan dengan menggunakan uang tunai lebih mahal dibanding dengan menggunakan kartu. Saran saya untuk kondisi-kondisi kepepet saja menggunakan uang tunai untuk pembayaran.

Kekonyolan kedua adalah saat hendak turun di salah satu bus stop tujuan. Seharusnya saya menekan tombol ‘Stop’ biar bus captain berhenti di bus stop tersebut. Saya kena marah karena menempel kartu tetapi tidak menekan tombol ‘Stop’ sehingga tidak ada indikasi akan turun di bus stop ini. Akibatnya bus tidak berhenti di bus stop tujuan saya dan baru berhenti di bus stop berikutnya. Terpaksa harus jalan lebih jauh ke kantor Singtel.

Oh iya jika ingin mengetahui rute perjalanan setiap bus yang akan dilalui bisa dilihat di papan informasi yang ada di setiap bus stop.

Tapi fasilitas google map jauh lebih baik karena kita akan diberikan informasi bus-bus mana saja yang dapat digunakan dari tempat awal keberangkatan ke tempat tujuan lain yang diinginkan.