Daeng Basa

Ya, sebuah nama yang selalu terngiang-ngiang sampai kapan pun. Daeng Basa adalah kakek (ayahanda dari bapak saya) yang telah meninggal dunia setelah shalat Isya kamis malam tanpa mengalami sakit dan kepergiannya pun begitu tenang dan  cepat, semoga Allah menerima kebaikan dan memaafkan segala kesalahan beliau.

Saat itu saya sedang tugas ke  Padang-Sumatera Barat seminggu sebelum Ramadhan tahun 2010. Dering telepon dari Bapak saya tidak seperti biasa karena dengan terbatah-batah beliau menyampaikan bahwa kakek telah meninggal dunia malam ini nak – Ammoterangmi neneknu nak, teamoko amminroi mae nasaba’ tenaji nuciniji mayatna na‘, ammuko bari’basa nanikuburumi te’te’ sampulo juma’). Begitulah pesan bapak  saya saat itu. Namun karena rasa rindu yang begitu dalam kepada almarhum, keesokan harinya saya tetap memutuskan untuk berangkat dari Padang (jam 7 malam) transit di Jakarta dan sampai di Makassar jam 3 subuh. Saya tidak sempat ke Bandung untuk bertemu dengan anak-istri tapi Insya Allah setelah pulang dari Makassar nanti akan langsung ke Bandung baru kembali ke Jakarta untuk memulai aktifitas pekerjaan lagi. Pekerjaan di Padang memang belum selesai saat itu tapi setelah diskusi dengan Project Manager (PM) saya, beliau mengizinkan untuk meninggalkan Padang. Terima kasih banyak Pak.

Sebenarnya baik kakek maupun nenek dari garis keturunan bapak saya, kami memanggil keduanya dengan sebutan nenek dan itu berlaku juga buat Daeng Basa (karena kebiasaan cucu-cucu beliau memanggilnya). Mengingat nama beliau, saya pasti akan teringat dengan masa kecil dulu di kampung halaman saya Jeneponto. Saya memiliki banyak panutan hidup dari keluarga sendiri, sebuah keluarga yang cukup bersahaja dan begitu banyak pelajaran hidup yang membuat saya saat ini ada di tanah seberang. Selain Daeng Basa, saya juga memiliki kakek dari ibu saya yakni Abbas Alimuddin, beliau adalah purnawirawan ABRI (Lain kali saya akan menuliskan tentang beliau juga). Kedua sosok inilah yang banyak menorehkan tinta pembelajaran hidup masa-masa kecil saya dulu selain tentunya yang utama dari kedua orang tua saya.

Napak tilas kehidupan masa kecil dulu di kampung sangatlah indah. Saya tidak mengenal dunia game layaknya anak-anak jaman sekarang. Yang saya kenal adalah permainan tradisional yang semuanya berasal dari alam. Waktu itu sering bermain di sawah dan di kebun, ammatte jangang-jangang (padi’, taradidi) adalah kegemaran saya. Bersama anak-anak lainnya kami tumbuh di lingkungan pedesaan, walau sebenarnya saya terlahir di kota Makassar karena memang keluarga besar dari Ibu saya lebih banyak tinggal di Makassar, namun bapak bekerja sebagai pegawai negeri di Jeneponto maka kami tumbuh dan besar di sana (aktek kelahiran Jeneponto padahal lahir di Makassar).

Waktu itu rumah orang tua saya ada di BTN Romanga sementara keluarga kami lebih banyak di Belokallong dan Pakkaterang. Sepulang sekolah atau di hari libur pasti akan berkunjung dan menginap ke rumah kakek di Belokallong dan di Pakkaterang. Biasanya saya selalu diajak pergi ke kebun di pagi dan sore hari yang memang jarak kebunnya tidak terlalu jauh dari rumah. Dan paling senang saya meminum air tebu yang sengaja ditanam di kebun nenek saya. Caranya , ditebang batang dan daun-daunnya yang sangat tajam yang masih melekat di batang tebunya dibuang kemudian dikuliti dan tinggal diisap dan ampasnya dibuang. Rasanya sangat manis. Makanya setiap melihat orang yang jualan air tebu saya selalu teringat akan masa-masa dulu bersama nenek saya Daeng Basa. Beliau adalah seorang pekerja keras dan pantang menyerah. Di zamannya, mungkin orang tua dulu tidak peduli dengan pendidikan anak-anaknya, namun kolaborasi nenek kami yang memiliki visi jauh ke depan dan sangat peduli dengan pendidikan anak-anaknya, akhirnya keempat saudara bapak saya semuanya berhasil dan mandiri hingga saat ini.

Semasa hidupnya nenek saya (alm. Daeng Base), saya tidak pernah sedikit pun mendengar beliau menceritakan orang lain. Iya lebih sibuk untuk bekerja dan beribadah. Waktu-waktu shalat terus beliau jaga sampai ajal menjemput dan terbukti, ketika bapak saya pamit ke kakek saya untuk melaksanakan shalat Isya ke Masjid, Ia pun bersegera untuk melaksanakan shalat Isya di tempat tidur walaupun beliau tidak sakit namun karena faktor usia yang membuatnya harus terbaring di hari-hari sebelum malaikat maut menjemput. Setelah shalat Isya, beliau pun dipanggil oleh Allah SWT dengan tenang. Semoga Allah mengampuni seluruh kesalahan yang pernah beliau lakukan dan menerima seluruh amal baiknya, Amin.

Waktu itu, kakek saya sering bercerita tentang masa-masa penjajahan dulu, bagaimana susahnya untuk makan, tidak tenang karena dihantui oleh rasa takut akan kekejaman Jepang waktu itu. Beliau sering bercerita tentang orang-orang dulu bagaimana mereka berperang melawan penjajah, bagaimana mereka menyembunyikan padi di bawah tanah agar tidak dirampas oleh Jepang dan cerita-cerita lain yang tentu saja masih teringat sampai saat ini.

Dari beliaulah saya mengenal barzanji karena setiap nenek saya dipanggil untuk barzanji dalam acara Maulid Nabi Muhammad SAW, kami selalu diajak untuk ikut dan mendapat bayao dan songkolo maudu’.

Saat ubi jalar siap untuk dipanen, Kami (cucu) selalu diajak untuk ikut ke kebun mengambil ubi jalar (lame lamba). Biasanya ubi tersebut langsung saya bakar di tengah kebun untuk dinikmati saat itu juga dan sisanya dibawa pulang untuk dimasak atau dijadikan kue. Selain itu, kami juga sering diajak ke sungai untuk berenang atau menangkap ikan, kepiting dan udang.

Demikian ceritanya dan lain waktu saya akan sambung tulisan ini.

“Selamat jalan buat nenekku yang selalu kami rindukan, semoga Allah menerangi kuburnya dengan cahaya-Nya. Amin..”

Potret Kehidupan Masyarakat “Butta Turatea” Jeneponto

Jeneponto adalah salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan. Jeneponto terkenal juga dengan “Bumi Turatea” dan identik dengan kota “KUDA”, Ya kota kuda. Jika Anda telah masuk ke pusat kabupaten yakni di Bontosunggu [ibukota kabupaten Jeneponto] maka akan tampak sebuah patung kuda sebagai lambang atau simbol kabupaten Jeneponto.

Melanjutkan pembicaraan tentang julukan “Kuda”, hal ini disebabkan oleh kebiasaan masyarakat Jeneponto yang gemar memakan kuda. Di pasar-pasar tradisional akan sangat susah untuk mendapatkan daging lain selain daging kuda bahkan tidak ada.

Jarak tempuh dari Makassar ke Jeneponto 2 jam perjalanan dengan jarak tempuh 95 km. Perjalanan ke kabupaten Jeneponto akan melewati 2 kabupaten yakni Gowa dan Takalar. Saya sendiri adalah asli Jeneponto yang terlahir dan sempat mencicipi pendidikan di sana walaupun hanya sampai sekolah dasar saja, sisanya dihabiskan di Makassar dan Bandung. Tapi saya tidak akan berbicara tentang riwayat pendidikan saya di sini, penulis ingin mengupas tentang kabupaten ini ditinjau dari dua sisi.

Sisi pertama adalah julukan miring atau cenderung mengarah ke hal yang negatif dan sisi baik dari pandangan kacamata saya sebagai putra daerah yang pasti bersifat sangat subyektif. Tapi tidak mengapa, setidaknya dapat memberi gambaran sedikit tentang kabupaten ini.

Jeneponto dikenal dengan istilah “Pa’bambangang Na Tolo” adalah istilah dalam bahasa Makassar yang berarti sering marah tapi berotak dugu. Inilah istilah yang melekat cukup erat terhadap masyarakat Jeneponto sampai saat ini. Memang harus saya akui bahwa dari persentase para pejabat di kota Makassar jika kita mengambil sampel ini maka kenyataannya memang demikian, para pejabatnya didominasi oleh suku bugis meliputi kabupaten Bone, Sinjai, Wajo, dll. Sementara penduduk Jeneponto yang tinggal di Makassar kebanyakan kalangan bawah yang tidak berpendidikan dengan pekerjaan adalah tukang becak, kuli bangunan, buruh pelabuhan dan lain sebagainya walaupun pekerjaan ini bagi saya bukanlah pekerjaan hina karena halal daripada kerja di pemerintahan dengan mengambil hak orang lain dan korupsi.

Saat ditugaskan ke Makassar selama satu tahun, sesekali saya naik becak dari kantor ke rumah yang memang jaraknya tidak terlalu jauh dengan biaya sebesar Rp. 7.000 untuk sekali jalan. Dari obrolan di jalan, setiap tukang becak yang saya tanya adalah berasal dari Jeneponto. – kasian juga. Beruntunglah dan harus saya syukuri karena dapat mencicipi pendidikan tinggi dan nasib sedikit lebih beruntung dari mereka.

Pedih rasanya hati ini jika menyaksikan semua ini, kok harus Jeneponto?..Apakah orang-orangnya bodoh sesuai dengan julukan bagi masyarakat Jeneponto, atau bagaimana?. Sebagai gambaran saat bersekolah SD di Jeneponto dulu teman-teman banyak cerdas-cerdas. Atau asumsi saya mungkin orang-orang Jeneponto lebih banyak yang low profile sehingga tidak terekspose ke permukaan.

Sisi negatif lain Jeneponto (menurut cerita orang-orang di kendaraan umum saat perjalanan dari Makassar <-> Jeneponto) adalah terdapatnya [maaf] tempat pelacuran kelas teri yang dihuni oleh wanita-wanita di daerah ” Karama’ ” sebelum tikungan tajam dan menurun jika arah kita dari Makassar. Hal ini dapat saya simpulkan secara subyektif karena jeratan kemiskinan yang merajalela sehingga mereka mau melakukannya walaupun dalam hati kecilnya pasti akan berpikir menolak “Pelacuran”.

Saya pun tidak akan larut dengan pembahasan ini karena lebih tertarik untuk mengangkat tentang budaya masyarakat Jeneponto serta kondisi kabupaten ini.

Jeneponto sangat khas dengan makanan tradisional “Coto Kuda dan Gantala Jarang”, Jarang=Kuda (Bahasa Makassar). Saya sendiri senang makan coto kuda ini karena telah terbiasa dari kecil sampai sekarang. Jika ada kesempatan untuk ke sana terutama saat liburan idul fitri maka keluarga pasti akan menyiapkan santapan makanan dari olahan daging kuda. Bagi Anda yang tidak terbiasa dengan makanan ini pasti tidak akan berselera untuk mencicipinya. Tapi masyarakat Jeneponto tidak demikian, dalam pesta-pesta pernikahan tidak akan sah atau ada sesuatu yang kurang jika tamu tidak disuguhi dengan hidangan GANTALA JARANG.

Tentang rasa?. tidak berbeda jauh dengan daging sapi akan tetapi sedikit lebih kenyal. Tapi bagi masyarakat Jeneponto terdapat mitos bahwa dengan makan daging “Jarang” akan memiliki stamina kuat dan pada dagingnya terdapat banyak zat-zat anti tetanus walaupun belum dibuktikan secara medis.

Jeneponto pada dasarnya terbagi dalam dua wilayah yakni daerah pesisir pantai yang cenderung kering dan daerah pegunungan yang cukup subur. Namun Jeneponto lebih dikenal sebagai daerah tandus karena jalur penghubung antar kabupaten berada di pesisir pantai sehingga orang beranggapan bahwa Jeneponto adalah daerah yang tandus.

Daerah ini dikenal cukup tandus apalagi saat musim kemarau tiba untuk kondisi di daerah pesisir pantai sedangkan untuk daerah pegunungan di sebelah utara cukup subur dan dari hasil pertanian dan perkebunan menghasilkan sayur-mayur dan tanaman palawija. kondisi tanah yang tidak bagus bahkan retak-retak di daerah pesisir menyebabkan tumbuh-tumbuhan akan sangat sulit untuk hidup. Gambar berikut adalah kondisi tanah di Jeneponto yang saya potret saat pernikahan kakak saya tahun lalu.

Inilah gambaran betapa tandusnya tanah di Jeneponto saat musim kemarau datang. Kondisi suhu pun sangat panas pada saat itu. Mata pencaharian penduduk Jeneponto sebagian besar adalah petani, nelayan rumput laut, nelayan penangkap ikan, serta petani garam.

Anak-anak, wanita sedang mendorong gerobak air adalah pemandangan biasa di jalan saat Anda melintas di Kabupaten Jeneponto terutama pagi dan sore hari. Sementara orang dewasa (laki-laki) lebih banyak menghabiskan waktunya di sawah dan ladang walaupun tandus dan sebagian lagi sedang melaut. Namun orang-orang  Jeneponto tidak pernah putus harapan untuk menanti anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa berupa air hujan untuk membasahi ladang-ladang milik mereka. Masa paceklik sering dialami oleh masyarakat  jika hujan tidak turun. Akibatnya banyak penduduk Jeneponto yang kemudian beralih profesi dari petani menjadi tukang becak, supir pete-pete dan buruh di Makassar. Walaupun sebagian dari masyarakat Jeneponto tetap berusaha bertahan hidup di kampung halamannya. Karakter keras pada masyarakat Jeneponto mungkin akibat dari susahnya untuk bertahan hidup sehingga semua cara dapat ditempuh apalagi jika yang menjadi haknya diambil paksa oleh orang lain. Namun senyum dari kami (masyarakat Jeneponto) akan tetap Anda jumpai saat Anda bertegur sapa dengan kami. Sebagai penduduk asli Jeneponto, saya merasa kami adalah masyarakat yang sangat ramah bagi siapa saja termasuk bagi para pendatang.

Penulis sendiri terlahir dari sebuah keluarga dimana bapak saya adalah seorang pegawai negeri dan ibu saya adalah seorang pedagang. Sehingga saya tidak terlalu merasakan susahnya hidup di sana namun bagi sebagian besar masyarakat Jeneponto mungkin merasakan kehidupan yang serba sulit itu.

Hal lain yang dapat Anda jumpai dalam perjalanan ke Jeneponto adalah jualan “Ballo Tanning” yang berarti tuak manis yang diproduksi oleh pohon lontar atau dalam bahasa Makassar “Tala’ “. Rasanya memang manis dan tidak memabukkan. Sewaktu kecil, saat bermain-main di persawahan yang bersebelahan dengan perkebunan, saya terkadang ikut “nongkrong” untuk menyaksikan para petani pembuat gula merah (istilah kami untuk gula jawa) sedang membuat gula merah sehingga saya tahu persis bagaimana proses pembuatannya. Tuak manis inilah yang menjadi bahan baku untuk pembuatan gula merah tersebut. Sesaat sebelum matang, kita dapat mengambil sari pati dari olahannya untuk dijadikan “tenteng” (saya lupa namanya-semoga tidak salah, semacam permen gulali dan rasanya sangat manis).

Sisi positif dari Jeneponto adalah budaya siri’ [rasa malu yang tinggi] untuk hal yang jelek-jelek walaupun juga dimiliki oleh hampir seluruh suku di Sulawesi Selatan, tapi budaya ini masih begitu melekat bagi masyarakat Jeneponto sebagai sebuah suku Makassar. Jika harga diri telah diinjak-injak maka mereka lebih rela untuk mati dari pada harga dirinya direndahkan oleh orang lain. Dan salah satu pompa pemicu keberhasilan adalah budaya siri’ ini yang harus melekat dalam diri setiap putra/i Turatea.

Jalur perjalanan yang dilalui sangat indah karena pemandangan pinggir laut dan petak-petak sawah untuk pembuatan garam dapat Anda jumpai di sini.

Satu hal yang bisa membuat Kabupaten Jeneponto bisa maju adalah dengan dibangunnya waduk Kareloe. Jika ini bisa diperjuangkan oleh pemerintah kabupaten Jeneponto maka saya yakin Jeneponto akan berubah. Jeneponto akan Jauh lebih makmur dengan hasil pertanian dan perkebunan tentunya. Setelah itu baru membangun Sumber daya manusianya, tentu Jeneponto akan  sangat maju. Idealis sekali ya, tapi tidak mengapa semoga bisa menjadi sebuah doa tentunya.

Pemerintah kabupaten Jeneponto bisa membangun SDM dengan cara memberikan pendidikan yang lebih tinggi lagi bagi guru dengan pemberian bea siswa dan perbaikan sarana dan prasana pendidikan, Semoga ini bisa terwujud entah pada periode dan pemerintahan siapa, atau pada pemerintahan saya kali ya.heheheh. Ups, saat ini kayaknya belum memungkinkan karena belum punya milliaran rupiah untuk biaya kampanye, dll.  Tapi tetap harus optimis kan.

Demikian sedikit oleh-oleh buat pembaca tentang khasanah tanah air Indonesia khususnya Butta Turatea Jeneponto.

Note:
Penulis sendiri terlahir  dan sempat mengecap pendidikan TK dan SD di Jeneponto. Orang tua
dan keluarga besar berada di Jeneponto.