Antara menerbitkannya atau dishare lewat internet secara Gratis

Judul di atas memang sangat dilematis kan?. bagaimana tidak, terdapat dua kepentingan apakah buku atau tulisan yang anda hasilkan akan dibawa ke penerbit atau diupload ke internet. Pada satu sisi, jika tulisan tersebut diterbitkan maka akan mendapatkan royalti dari pihak penerbit bukan?.

Bagaimana jika tulisan anda dishare lewat internet(Gratis-Red)?. Walaupun anda tidak mendapatkan royalti dari tulisan yang anda buat tapi pasti ada kepuasan tersendiri juga kan saat orang lain mendownload dan membaca atau bahkan membagi-bagikannya.

Ditinjau dari sisi pembaca, terdapat dua tipikal orang dalam membaca tulisan. Ada yang senang membaca tulisan dalam bentuk buku (print out) dan ada juga yang senang membaca tulisan dalam bentuk dokumen digital (pdf, doc, dll). Saya, termasuk yang tidak senang membaca dalam bentuk dokumen digital karena akan membuat mata lelah dan saya sendiri tidak mampu berlama-lama di depan komputer. Bagaimana dengan anda?. Dari uraian di atas, pembaca dapat mengambil kesimpulan sendiri “Antara menerbitkannya atau dishare lewat internet secara gratis”.

TidurnYa Orang-orang Sukses

Jika saya membaca kisah orang-orang sukses maka pasti rahasia pertama mereka adalah jam tidur hanya berkisar 3-4 jam sementara saya 7-8 jam sehari. Sangat bertolak belakang bukan?. Berarti saya tidak akan menjadi orang sukses kan?. Googling sebentar dan menemukan blognya Dhyan di sini. Semoga tulisan ini dapat membuat saya berubah dan mampu mengurangi jam tidur setidaknya 2-3 jam sehari agar bisa menjadi orang sukses baik dunia dan akhirat. Selamat BerJuang TeMan semoga bisa menjadi lebih baik..

MenerbiTkaN Buku di PublishER

Kali ini saya ingin berbagi cerita tentang pengalaman menerbitkan buku di penerbit Andi Offset Yogyakarta dan Elex Media Komputindo Jakarta. Sebenarnya tidak sulit menerbitkan buku. Beberapa tips sederhana agar tulisan kita bisa sampai ke toko-toko buku dan dibaca oleh banyak orang. Sungguh merupakan sebuah kebanggaan tersendiri bukan?. Berikut tips dari saya:

1. Selesaikan draft text dan isi untuk buku yang akan diterbitkan.

2. Setiap penerbit memiliki aturan tersendiri dalam penulisan seperti penggunaan jenis Font, Margin, dan lain-lain. Untuk menghindari editing berulang-ulang sebaiknya menghubungi pihak penerbit melalui email, telepon, dsb. Namun poin 2 ini tidak sesuai dengan apa yang saya lakukan saat menerbitkan buku. Seluruh draft dan isi (buku secara keseluruhan) saya selesaikan terlebih dahulu tanpa mencari informasi ke penerbit. Jadi tulisan tersebut sesuai dengan selera dan style saya TAPI tidak sesuai dengan standar penerbit. Sehingga kerugian di sisi editor penerbit yang akan mengedit buku kita setelah lolos dari meja redaksi. !Capek deh (EdiToR) harus mengedit terlalu banyak naskah dan gambar.

3. Mendatangi penerbit untuk menyerahkan draft dan Isi buku dalam bentuk hardcopy (Print out). Naskah dalam bentuk hardcopy cukup penting karena akan dibawa ke meja redaksi untuk dinilai apakah tulisan tersebut layak diterbitkan dilihat dari beberapa sisi seperti gaya bahasa, pangsa pasar/marketing, dan masih banyak lagi. –

4. Waktu yang dibutuhkan untuk proses editing buku, drafting sampai naik cetak berbeda-beda untuk setiap penerbit sehingga anda diharapkan bersabar sampai buku tersebut sampai ke pasaran.

5. Penerbit akan memberikan sampel buku cuma-cuma untuk setiap kali penerbitan.

Demikian sedikit pengalaman kepenulisan yang bisa saya berikan ke pembaca. Selamat menulis dan tetap semangat Ya.

Footer: Gambar di atas diambil di sini

Pertama Kali BelaJar Komputer & Linux

Jika orang bertanya, “Kapan pertama kali belajar komputer?” Maka pasti saya akan menjawab: pertama kali belajar komputer saat kuliah tahun kedua di sini. Mungkin semua orang akan menganggap bahwa saya termasuk orang yang sangat lambat mengenal komputer.

Tahun pertama di kampus mulai terasa akan pentingnya sebuah komputer. karena sebagai mahasiswa jurusan elektro akan banyak berhubungan dengan perangkat ini. Mulai dari mata kuliah “dasar pemrograman” atau hanya sekedar pembuatan laporan praktikum dan tugas kuliah dari dosen. Namun niatnya terpaksa diurungkan karena sesuatu hal.

Tahun kedua, itupun karena desakan kepentingan, Dengan berat hati meminta ke orang tua, beban orang tua di tahun-tahun tersebut cukup tinggi karena kakak harus menyelesaikan kuliah ditambah lagi dengan biaya kuliah dan hidup saya di Bandung cukup tinggi. Tapi namanya orang tua tidak akan pernah menolak keinginan anaknya demi pendidikan. Thanks to My Parents..

Continue reading →