Tambahan Pasukan Sepeda

Di liburan akhir pekan ini yang bertepatan dengan hari kemerdekaan negara Singapura dan hari raya Haji, saya memutuskan untuk membeli sepeda untuk istri. Selama ini istri menggunakan bike sharing SG Bike untuk sepeda-sepedaan di east coast park atau saat menjemput anak-anak di sekolah.

Kami rasa kurang fleksible karena selain harus menggunakan kartu kredit juga banyak kendela dari sisi sepedanya sendiri. Anak-anak sekarang ingin menggunakan sepeda ke sekolah setiap hari. Pembagian tugasnya saya mengantar anak-anak berangkat sekolah dengan sepeda sedangkan istri menjemput anak-anak sepulang sekolah.

Mereka tentu saja sudah bisa pulang sendiri tapi rasa-rasanya kami belum bisa melepas mereka berdua pergi dan pulang sekolah sendiri dengan sepeda-sepeda mereka. Lalu lintas dijalanlah yang membuat khawatir kami sehingga mereka masih harus di antar dan dijemput.

Lebaran Idul Fitri 2019/1440 H di Kampung Halaman

Sebenarnya sejak kembali ke Singapura, saya sudah ingin segera menulis tentang perjalanan kami pulang kampung untuk berlebaran bersama orang tua dan keluarga besar beberapa waktu yang lalu karena cerita-ceritanya bakal terlupakan dengan sendirinya.

Setiap tahun kami usahakan untuk berlebaran di kampung halaman. Orang tua kami ada di Makassar dan di Jeneponto. Jeneponto sendiri berjarak 90 KM  atau setara tiga Jam perjalanan dari Makassar melewati dua kabupaten yakni kabupaten Gowa dan Takalar.

Saya selalu merindukan perjalanan Makassar – Jeneponto ini karena pemandangan pesisir pantai termasuk suasana di kiri kanan jalannya yang kami lewati. Selama perjalanan tiga jam-an ini cukup membuat otak sedikit rileks untuk sejenak keluar dari rutinas pekerjaan yang membutuhkan waktu dan konsentrasi. Sudah beberapa tulisan saya membahas tentang Jeneponto salah satunya di link ini di tahun 2008 lalu.

Kami memilih penerbangan malam di hari Jumat tanggal 31-Mei-2019 karena pada siang harinya masih bekerja. Selain itu, perjalanan di malam hari tidak begitu melelahkan. Kami meninggalkan rumah sekitar pukul 18:30.

Lihat saja photo anak-anak setelah check-in di bandara Changi. Mereka sangat menikmati perjalanan pulang kampungnya setiap tahun.

Ibnu sedang berbuka puasa dengan puasnya makan chicken rice dari Encik Tan.

Perjalanan kami mengabiskan waktu sekitar 3.5 jam diluar transit di Jakarta. Kami tiba di Makassar pukul 03:00 subuh hari. Di bandara kami dijemput oleh orang tua dan sesampai di rumah masih sempat untuk sahur.

Tentu saja banyak hal yang kami lakukan di sana salah satunya mengunjungi sanak keluarga.

Satu hal yang paling menyenangkan juga adalah bakar-bakar ikan. Lihat saja photo di bawah. Kak Adi (kakak pertama), Fuad (adik sepupu), Rahmat (adik ipar) dan di belakang kami di atas ayunan adalah ibu saya dan Zazha (kemenakan).

Setelah seluruh ikan dibakar, saat yang ditunggu-tunggu adalah makan bersama (photo anak saya yang perempuan sengaja disamarkan).

Selain itu, saya juga terbiasa menceritakan keseruan masa-masa kecil dulu di kampung ke anak-anak saya. Sehingga saat berlibur di kampung, mereka terobsesi untuk mengalaminya secara langsung. Lihat saja bagaimana Ibnu dan Naufal (saudara sepupunya) sangat menikmati matte’ jangang-jangang (ketapel) di persawahan di Jeneponto. Namun waktunya tidak lama karena selain gerimis juga sudah harus bersiap-siap untuk kembali ke Makassar.

Saya sendiri yang bikin patte’nya. Alhamdulillah saya masih bisa menemukan pentil sepeda yang dijual di pasar sementara pangka (Y) dan kulitnya bisa didapatkan di sekitar rumah.

Waktu telah masuk shalat ashar di hari jumat itu dan menandakan waktunya kami untuk segera berkemas-kemas untuk kembali ke Makassar. Sekitar pukul 17:00, kami pun kembali ke Makassar. Sekali lagi, perjalanan menuju Makassar itu sangatlah menyenangkan karena mengingatkan masa-masa lalu saya dulu. Saya selalu merindukan untuk kembali lagi ke kampung halaman di Jeneponto karena di sanalah saya terlahir dan menghabiskan waktu saya sampai kelas 6 SD dan sisanya dihabiskan di Makassar, Bandung, dan Singapura.

Di tengah perjalanan tadi, saya pun singgah untuk membeli lammang di daerah Bangkala (Jeneponto) dan putu cangkiri di Gowa. Lammang-lammang ini sementara di bakar dengan menggunakan kayu bakar.

Istri juga membeli telur asin sebagai pelengkap lammang ini.

Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu dan saat tulisan ini dibuat sudah kembali lagi ke Singapura.

Singapore, 13 July 2019

Chinese New Year 2019

It is already February 2019 now, time flies so fast. Next Tuesday is Chinese new year festival and it means I have been leaving in Singapore for  more than 3 years together with my family. This is my 4th Chinese new year in Singapore. I am not celebrating it but my colleagues here celebrating this special event especially for Chinese people.

One of the traditions during the Lunar new year (another name of Chinese new year) is spring cleaning. Normally, people will take leaves one week before and one week after Lunar new year. On the first week, they usually do spring cleaning of their house. Chinese people believe that it will bring a great fortune into their house.

During the festival, we will see lots of Chinese ornaments or decorations related in the shopping mall, houses, and sometimes on the streets as well as greetings. In Singapore, government will grant us two days for public holidays and working half day on the day before the festival itself.

Since the majority in Singapore is Chinese ethnic compared with Malay or Indian so that on the date of Lunar new year, most of the shopping malls or grocery stores will be closed in order to give/allow people to celebrate the event. Every year has specific name relates to the animal and this year is the year of the Pig. The picture below was taken at shopping mall at Expo besides Ericsson Office.

-Singapore 3 February 2019

Toe Injury

Last week, my son Ibnu got an accident when he run around at home from bedroom to kitchen, dining area, and living room. He didn’t clean up the room before he run and there was a clear tape on the floor. Somehow he step on the clear tape and he got slice on his toe.

He cried loudly so that everybody woke up when hearing weeping. During the weekend, normally we continue our sleep until early noon.  My wife took adhesive bandage from the first aid kit box and wrap it to his toe.

Few minutes later, he stopped crying and doing what he wanted to do. In the evening, I asked him to take a bath as he hasn’t done so since the morning. He scared with his sliced toe so we suggested him wrapping it with plastic wrap.

In the night, my wife gave antiseptic to his sliced toe  in order to avoid infection. Indeed, antiseptic will make ache to his toe and wrap again with adhesive bandage for the second time.

Look at his sliced toe one week later which is today before I wrote this article.