Pengaturan System Services di Debian GNU/Linux

Untuk menampilkan status system services yang ada di Debian GNU/Linux atau distribusi GNU/Linux secara umum dapat menggunakan perintah berikut:

Untuk menampilkan service-service dengan status tertentu saja misal enabled/static/disabled dapat menggunakan perintah berikut:

Untuk mencegah service dapat dijalankan secara manual atau oleh service yang lain gunakan perintah berikut:

Perintah di atas untuk menonaktifkan service sekaligus untuk mencegah seseorang dapat mengaktifkan kembali service tersebut atau service lain yang mengaktifkannya.

Untuk menonaktifkan service saja dapat menggunakan perintah berikut:

Lebaran Idul Fitri 2019/1440 H di Kampung Halaman

Sebenarnya sejak kembali ke Singapura, saya sudah ingin segera menulis tentang perjalanan kami pulang kampung untuk berlebaran bersama orang tua dan keluarga besar beberapa waktu yang lalu karena cerita-ceritanya bakal terlupakan dengan sendirinya.

Setiap tahun kami usahakan untuk berlebaran di kampung halaman. Orang tua kami ada di Makassar dan di Jeneponto. Jeneponto sendiri berjarak 90 KM  atau setara tiga Jam perjalanan dari Makassar melewati dua kabupaten yakni kabupaten Gowa dan Takalar.

Saya selalu merindukan perjalanan Makassar – Jeneponto ini karena pemandangan pesisir pantai termasuk suasana di kiri kanan jalannya yang kami lewati. Selama perjalanan tiga jam-an ini cukup membuat otak sedikit rileks untuk sejenak keluar dari rutinas pekerjaan yang membutuhkan waktu dan konsentrasi. Sudah beberapa tulisan saya membahas tentang Jeneponto salah satunya di link ini di tahun 2008 lalu.

Kami memilih penerbangan malam di hari Jumat tanggal 31-Mei-2019 karena pada siang harinya masih bekerja. Selain itu, perjalanan di malam hari tidak begitu melelahkan. Kami meninggalkan rumah sekitar pukul 18:30.

Lihat saja photo anak-anak setelah check-in di bandara Changi. Mereka sangat menikmati perjalanan pulang kampungnya setiap tahun.

Ibnu sedang berbuka puasa dengan puasnya makan chicken rice dari Encik Tan.

Perjalanan kami mengabiskan waktu sekitar 3.5 jam diluar transit di Jakarta. Kami tiba di Makassar pukul 03:00 subuh hari. Di bandara kami dijemput oleh orang tua dan sesampai di rumah masih sempat untuk sahur.

Tentu saja banyak hal yang kami lakukan di sana salah satunya mengunjungi sanak keluarga.

Satu hal yang paling menyenangkan juga adalah bakar-bakar ikan. Lihat saja photo di bawah. Kak Adi (kakak pertama), Fuad (adik sepupu), Rahmat (adik ipar) dan di belakang kami di atas ayunan adalah ibu saya dan Zazha (kemenakan).

Setelah seluruh ikan dibakar, saat yang ditunggu-tunggu adalah makan bersama (photo anak saya yang perempuan sengaja disamarkan).

Selain itu, saya juga terbiasa menceritakan keseruan masa-masa kecil dulu di kampung ke anak-anak saya. Sehingga saat berlibur di kampung, mereka terobsesi untuk mengalaminya secara langsung. Lihat saja bagaimana Ibnu dan Naufal (saudara sepupunya) sangat menikmati matte’ jangang-jangang (ketapel) di persawahan di Jeneponto. Namun waktunya tidak lama karena selain gerimis juga sudah harus bersiap-siap untuk kembali ke Makassar.

Saya sendiri yang bikin patte’nya. Alhamdulillah saya masih bisa menemukan pentil sepeda yang dijual di pasar sementara pangka (Y) dan kulitnya bisa didapatkan di sekitar rumah.

Waktu telah masuk shalat ashar di hari jumat itu dan menandakan waktunya kami untuk segera berkemas-kemas untuk kembali ke Makassar. Sekitar pukul 17:00, kami pun kembali ke Makassar. Sekali lagi, perjalanan menuju Makassar itu sangatlah menyenangkan karena mengingatkan masa-masa lalu saya dulu. Saya selalu merindukan untuk kembali lagi ke kampung halaman di Jeneponto karena di sanalah saya terlahir dan menghabiskan waktu saya sampai kelas 6 SD dan sisanya dihabiskan di Makassar, Bandung, dan Singapura.

Di tengah perjalanan tadi, saya pun singgah untuk membeli lammang di daerah Bangkala (Jeneponto) dan putu cangkiri di Gowa. Lammang-lammang ini sementara di bakar dengan menggunakan kayu bakar.

Istri juga membeli telur asin sebagai pelengkap lammang ini.

Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu dan saat tulisan ini dibuat sudah kembali lagi ke Singapura.

Singapore, 13 July 2019