Kuala Lumpur sudah, Lego Land Johor Bahru sudah 2x, Melaka sudah, Batu Pahat sudah berkali-kali. Desember 2019 ini, setelah ujian akhir semester anak-anak saya berakhir, saya ajak mereka untuk liburan tiga hari ke Ipoh Malaysia.
Jadwal acara sudah disusun oleh istri ke tempat mana saja yang akan kami kunjungi. Tentu saja prioritas untuk anak-anak adalah the lost world (dunia yang hilang), nonton Ejen Ali di bioskop, dan mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Ipoh sekaligus mencoba makanan khas orang Ipoh.

Di malam pertama kami menginap di hotel di pusat kotanya saja sementara di malam kedua menginap di haven resort. Kami rencana akan mengeksplorasi semua fasilitas yang dimiliki resort ini. Terutama pemandangan alam yang ada di resort tersebut.

Kami meninggalkan rumah di Singapore tepat pukul 06:00 di pagi hari setelah shalat subuh menuju Queen street di daerah Bugis dengan bus 48. Harapannya untuk naik bus pertama ke terminal bus Larkin Johor Bahru Malaysia. Sesampai di Queen street sudah menunjukkan pukul 06:45. Ketika kami sampai, bus yg menuju ke Larkin baru saja berangkat, berarti harus menunggu bus berikutnya dan ternyata sudah ada antrian beberapa meter. Setelah menunggu sekitar setengah jam bus berikutnya pun datang. Kami pun kebagian bus tersebut.

Harga tiket busnya S$3.5 untuk orang dewasa sementara anak-anak S$1.5 untuk sampai ke Larkin. Tepat pukul 07:45 kami berangkat dari Queen street menuju terminal bus Larkin Johor Bahru (JB) tentunya melewati check point imigrasi Singapore dan Malaysia di daerah Woodland.

Oh iya jika pembaca bertanya-tanya kenapa kami memilih mengambil bus menuju Ipoh di Larkin JB? yups karena selisih harga jika mengambil bus dari Singapore dan di Larkin Malaysia sekitar S$40, lumayan jauh selisihnya. Selama ini jika ada keperluan ke Malaysia, kami selalu mengambil bus dari Larkin Malaysia tadi.

Setelah pemeriksaan imigrasi Singapore, antrian orang untuk menunggu bus yang tadi kami naiki sudah mengular. Karena istri sering bolak balik Malaysia, tahu harus naik apa untuk segera berangkat ke check point imigrasi berikutnya yakni Malaysia. Istri menuju antrian bus pekerja. Bus ini diperuntukkan bagi pekerja yang saya sendiri tidak paham pekerjanya dari mana dan akan kemana? kelihatannya pekerja lintas negara (Singapore – Malaysia).

Dengan menaiki bus pekerja ini kami membayar S$ 2 per orang untuk sampai ke imigrasi Malaysia yang jaraknya beberapa kilo meter saja yang dipisahkan oleh selat kecil.

Dari check point Imigrasi Malaysia sebenarnya bisa menunggu bus yang kami tumpangi dari Singapore tadi karena sifatnya bebas naik yang mana saja selama perusahaan busnya sama. Oh iya tiket busnya tetap harus kita simpan karena begitu naik bus lagi tiket akan diperiksa ulang sebagai bukti kita telah membeli tiket bus tersebut.

Tapi sekali lagi untuk menghindari antrian panjang kami memilih naik taksi saja dari Imigrasi Malaysia menuju Larkin tadi.

Tiba di terminal Larkin waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Kami langsung menuju loket tiket untuk beli tiket bus ke Ipoh dan kebagian bus untuk keberangkatan pukul 11 pagi. Harga tiketnya per orang RM 55. Dari loket, kami ke Mc Donald untuk sarapan pagi karena anak-anak sudah lapar. Di rumah anak-anak hanya makan seadanya saja sebelum berangkat dan pastinya jam 10 sudah lapar. Masih ada waktu satu jam sebelum keberangkatan untuk sarapan.

Bus City Express yang akan mengantarkan kami ke Ipoh telat 10 menit. Tidak apa-apa sambil menunggu bisa ngobrol sama anak-anak. Oh iya Ibnu sempat beli gasing Beyblade dan semacam gantungan kunci untuk Naya.

Saat tulisan ini dibuat, kami sedang di Terminal Bersepadu Selatan (TBS) untuk menunggu keberangkatan berikutnya menuju Ipoh. Kelihatannya kami salah membeli tiket bus, seharusnya di loket tiket tadi tanya apakah ini langsung atau lewat Kuala Lumpur (TBS). Ya sudah dinikmati saja perjalannya. Ini kali kedua kami di TBS. Sebelumnya bersama ibu mertua tiga tahun lalu jalan-jalan ke Lego Land Johor Bahru kemudian ke Kuala Lumpur.

Perjalanan langsung akan menghabiskan waktu 7 jam, namun karena bus ini via Kuala Lumpur (TBS) kelihatannya butuh waktu lebih lama. Dari informasi dari sang driver, jalan menuju Ipoh lagi teruk (macet) maka diperkirakan akan sampai di Ipoh insya Allah pukul 9 malam dari jadwal semula yakni pukul 6 petang.

Jam 9 malam kami akhirnya tiba di terminal Aman Jaya Ipoh, kami ke hotel untuk menaruh barang bawaan dan keluar lagi untuk makan malam. Kali ini makan di restoran Pakeeza yang terletak tidak jauh dari hotel dimana kami menginap atas rekomendasi driver taksi yang kami tumpangi tadi dari terminal ke hotel dan dari Tripadvisor.

Saya memesan nasi bryani kambing dengan saus kurma sementara istri dan anak-anak memesan bryani ayam.

Setelah makam malam kembali ke hotel untuk bersih-bersih, shalat, dan istirahat. Alhamdulillah…

-Ipoh, 7 Desember 2019-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *