Tulisan ini saya ketik saat sedang perjalanan pulang dari kantor customer menuju rumah setelah user acceptance test (UAT) dengan mereka.

Cukup banyak waktu untuk menulis selama perjalanan karena jarak tempuhnya sekitar 45 menit.

Sebenarnya sudah lama ingin menulis tentang hal satu ini. Yakni melaksanakan shalat di Singapura. Masyarakat Singapura terdiri dari tiga ras yang mendominasi yakni Cina, Melayu, dan India. Di lingkungan kerja saya baik itu rekan kerja di kantor sendiri atau rekan kustomer sangatlah toleran karena masing-masing sudah paham satu sama lainnya.

Rekan kerja saya banyak yang muslim dan masyarakat di sini pun sudah sangat-sangat paham bagaimana umat muslim menjalankan shalat dan puasa.

Terlebih lagi kondisi di kantor tidaklah begitu kaku dengan keberadaan kami yang penting dapat mendelivery proyek yang sedang kita pegang. That’s all nothing else.

Di waktu-waktu kerja pun saya bisa ke masjid atau surau untuk shalat. Di kantor yang bersebelahan dengan stasiun MRT Expo tersedia surau di gedung Singapore Expo yang berada satu area dengan stasiun MRT Expo ini.

Sama halnya ketika berada di kantor customer, saya dengan sangat mudah mendapatkan masjid untuk shalat, tinggal jalan sedikit sekitar 15 menit sudah sampai.

Ini salah satu contoh masjid (Al-Istiqomah) yang dengan mudah saya kunjungi di waktu-waktu rapat atau kerja dengan customer. Letaknya satu halte bus saja di daerah Serangoon.

Jika tidak bawa bekal makan siang dari rumah, di pelataran masjid juga tersedia kantin dan makannya enak-enak.

Atau setelah mengantar anak ke sekolah dan ada rapat di pagi hari di kantor customer, biasanya datang kepagian jadi bisa mampir dulu di masjid ini sambil menunggu sekitar 15 menitan sebelum rapat dimulai.

Di Singapura, masjid tersebar dimana-mana sehingga masyarakat muslim di sini tidak kesulitan untuk menjalankan shalat terutama di waktu-waktu kerja.

Alhamdulillah, saya tidak dapat membayangkan di negara lain yang sistem negaranya menganut sistem negera sekuler seperti Singapura atau dimana umat muslim adalah minoritas.

Singapura walaupun menganut sistem sekuler tapi masyarakat melayu cukup banyak di sini dan terfasilitasi sangat baik oleh negaranya begitu juga dengan agama lain yang dianut oleh masyarakat Singapura.

Selamat empat tahun di sini pun saya tidak merasakan kesulitan beribadah. Alhamdulillah..

Di masa kecil saya di kampung dulu, bapak saya kadang-kadang bercerita tentang salah satu negara kecil di asia tenggara yang termasuk salah satu negara maju yakni Singapura ini. Dan saya pun tidak pernah membayangkan akan bisa tinggal dan bekerja di sini.

Yang ada adalah angan-angan untuk bisa keluar negeri waktu kecil dan terus terbawa sampai sampai saat ini, syukur Alhamdulillah Allah memberikan rezeki itu kepada saya.

Singapore, 17 January 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *