Ini makanan tradisional kesukaan saya. Lame artinya ubi sedangkan lamba artinya jalar sehingga jika digabung artinya ubi jalar. Dikatakan lamba karena memang batang ubi ini menjalar di atas tanah. Dalam bahasa makassarnya eh salah maksudnya dalam bahasa inggrisnya adalah sweet potatoes.

Saat kecil di kampung (Jeneponto) dulu, saya sering sekali makan lame lamba ini. Kakek (Daeng Basa) dari bapak saya sering menanam lame lamba ini di kebun beliau.

Saat panen tiba, biasanya saya diajak untuk memanennya dengan cara menggali tanah atau mencabut batang sampai umbinya terlihat tapi harus berhati-hati karena takut merusak umbinya sendiri. Proses penggaliannya sendiri begitu saya nikmati.

Di Singapore, istri sering membelinya untuk dipanggang di dalam oven. Kalau dulu setelah dicabut dan dibersihkan, lame lamba ini biasanya saya bakar dengan kayu bakar atau ranting-ranting kayu kering yang saya dapatkan di sekitar kebun.

Sambil duduk di dalam kebun dan ubinya masih dalam keadaan panas, saya buru-buru untuk membuka kulit sambil meniup-niupnya supaya cepat dingin. Saat digigit pun rasanya masih panas-panas sehingga terasa di sela-sela gigi disertai rasa manis.

Nikmatnya bukan main saat itu, sehingga saat menikmati lame lamba sekarang ini, pikiran saya kembali terbang jauh ke masa-masa kecil di kampung. Saya berjalan kaki bersama beliau ke kebun untuk panen lame lamba ini.

Semoga Allah SWT melapangkan kuburnya dan mengampuni seluruh dosa-dosa beliau dan menempatkannya di surga nanti, aamiin ya Allah. Begitu pula dengan nenek Sangnging, Om Hama, Bapa Toa (H. Letnan satu (purn) Abbas Alimuddin) dan orang-orang tua kami dahulu yang telah meninggal dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *