Saya bukanlah orang Minang, tapi saya sangat suka dengan rendang masakan khas orang Sumatera Barat yang sangat popular tidak hanya di Indonesia tapi juga di luar negeri. Penulis sendiri pernah ke Padang beberapa kali untuk urusan kantor saat masih di Ericsson Indonesia.

Orang Minang memang terkenal dengan orang perantau sama seperti orang Makassar, Bugis, Jawa, Batak, dan beberapa suku di Indonesia. Saya sendiri adalah orang Makassar. Dimana-mana kita akan banyak menjumpai orang-orang Minang ini salah satunya di Singapore. Merantau bukan berarti meninggalkan kebiasaan turun-temurun dari keluarga kita di kampung halaman.

Makanan tentu saja adalah ciri khas dari sebuah masyarakat atau suku yang akan terbawa kemanapun mereka berada. Kebiasaan masa kecil bersama orang tua dan keluarga tentu saja akan terus terngiang-ngiang sampai ke ujung dunia manapun terutama makan.

Syukur Alhamdulillah, bulan ini tepat genap 5 tahun 8 bulan menetap di Singapore. Tapi jangan tanya tentang Singapore terutama tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi atau masakan-masakan yang enak ada dimana karena saya bukan tipe orang yang suka explore tempat-tempat baru.

Saya termasuk tipe orang yang lebih senang berada di rumah. Justru istri sayalah yang lebih banyak tahu tentang Singapore. Saya justru dapat informasi dari buku Kiasunomics yang ditulis oleh beberapa dosen National University of Singapore (NUS). Sekarang bukunya sudah jilid ke-2 tapi yang buku keluaran terbaru ini belum sempat saya baca.

Balik lagi keurusan rendang ini. Di awal pandemi Covid-19 tahun lalu saat pemerintah Singapore menetapkan circuit breaker (CB) selama satu bulan, semua restoran dan hawker (salah satu warisan dunia oleh UNESCO) tidak boleh melayani makan di tempat tapi hanya boleh bungkus alias dibawa pulang.

Saya tidak sengaja lihat iklan bagaimana Sophee membantu usaha atau bisnis orang-orang Singapore dari pemasaran tradisional ke arah online lewat Sophee untuk mendongkrak penjualan. Ada satu warong nasi Pariaman yang sudah 2 generasi di dekat masjid Sultan yang coba dibantu oleh Sophee untuk penjualan secara online ini. Rasa penasaran itulah sehingga saya cari tahu warong nasi Pariaman ini dan mencoba langsung masakannya.

Wow, enak sekali terutama rendang, perkedel kentang, dan sambelnya. Rendang, ayam bakar, ikan kembung bakar, dan sambel ternyata dimasak/bakar dengan cara tradisional menggunakan arang (charcoal) seperti cara masak orang-orang tua kami dulu di kampung. Rasanya memang sangat berbeda saat dimasak dengan api dari gas elpiji atau minyak tanah.

Butuh proses panjang untuk memasak dengan menggunakan arang atau kayu bakar. Tapi ada cita rasa tersendiri yang dihasilkan oleh arang/kayu bakar ini.

Lihat saja rendang, perkedel kentang, dan sambel ala warong nasi Pariaman Singapore ini.

Sementara cara pembuatan rendangnya dapat dilihat dari video berikut.

Atau video berikut tentang sejarah restoran Pariaman ini.

Atau yang link video berikut.

Hari ini saya ke sana lagi untuk membeli tiga jenis masakan ini. Letak warong nasi Pariaman ini di North Bridge Road.

Singapore, 05-09-2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *