Saya tidak berusaha mencari tahu bahasa indonesia apalagi bahasa inggris dari kue buroncong ini. Saya pun tidak berusaha mencari tahu apakah nama buroncong adalah bahasa indonesia atau bahasa makassar. Biarkan saja apa adanya.

Sewaktu SMP dulu, saya ikut tinggal dengan kakek dan nenek di kota Makassar karena bersekolah di sana. Orang tua tinggal di kabupaten Jeneponto yang jaraknya sekitar 90 KM ke arah selatan dari kota Makassar. Keluarga besar kami memang berasal dari kabupaten Jeneponto yang terkenal dengan masyarakat pemakan kuda.

Setiap sore di masa itu, ada pedagang kue buroncong yang lewat di depan rumah nenek. Lengkap dengan gerobak, ember berisi adonan, loyang untuk cetakan, kayu bakar, dan tungku pemanggang kuenya.

Saya masih ingat betul rupa sang bapak penjual buroncong ini juga gerobak dan seluruh perlengkapannya. Saya pun tidak tahu lagi apakah bapak ini masih hidup dan masih berjualan buroncong keliling karena kakek sudah lama meninggal dan nenek sudah kembali lagi ke Jeneponto. Rumah kakek kami pun sudah lama roboh karena tidak terurus lagi dan dibiarkan begitu saja. Tidak ada lagi yang tinggal di rumah tersebut.

Rasa kue buroncong buatan sang penjual ini sangat enak dan selalu ketagihan untuk membeli keesokan harinya lagi.

Saat istri atau saya membuat kue buroncong ini, kenangan masa lalu itu akan kembali hinggap di benak saya termasuk segala hal kehidupan masa-masa lalu saya bersama keluarga besar di Makassar tahun 1993 sampai tahun 1996.

Setelah sekian lama tidak membuat buroncong, hari ini saya membuat lagi karena seluruh bahan-bahannya tersedia di rumah. Cetakannya sendiri dibeli istri saat liburan ke rumah orang tua di Makassar 2 tahun lalu yakni 2019.

Lihat saja proses pembuatannya di photo berikut. Buroncongnya sudah matang dan siap diangkat.

Singapore, 23-November-2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *