Buku Hortonworks versi cetak

Buku-buku ini saya cetak di Bandung untuk keperluan saya belajar hortonworks (hadoop). File-file PDF dari buku ini bisa didapatkan secara gratis di situs hortonworks. Proses cetak bukunya sendiri sekitar 3 hari kerja dan dikirim ke rumah di Bandung dengan menggunakan Gojek.

Minggu ini istri dan anak-anak kebetulan sedang berada di Bandung sehingga sekalian nitip dibawakan ke Singapura. Saya termasuk orang yang tidak bisa belajar lewat baca buku di komputer sehingga buku-buku yang ingin saya pelajari biasanya beli atau kalau ada versi ebook gratisnya maka saya akan cetak di Bandung. Total uang yang harus saya bayar untuk cetak bukunya sekitar Rp. 1.000.000.

Menjemput Istri dan Anak-anak dari Bandung

Malam ini saya ke Changi untuk menjemput istri dan anak-anak dari Bandung. Dengan penerbangan Air Asia Bandung tujuan Singapura (Penerbangan langsung). Berangkat dari bandara Husein Sastranegara Bandung pada pukul 16:00 dan tiba di bandara Changi sekitar pukul 18:45. Alhamdulillah sudah bisa berkumpul lagi setelah mereka seminggu di Bandung.

Saya sendiri tidak ikut ke Bandung karena pekerjaan lumayan padat di minggu-minggu ini sehingga istri dan anak-anak saja yang pulang untuk sebuah keperluan.

Setup Koneksi Internet dan TV di Rumah

Rumah tempat saya ngontrak di Singapura menggunakan akses Internet dengan kecepatan 300Mbps dengan biaya langganan sebesar S$34/bulan untuk masa kontrak 2 tahun. Saya berlangganan Internet dari operator M1 karena paket yang ditawarkan paling murah dibanding operator-operator lain seperti Singtel ataupun Starhub.

Tentu saja paket tersebut di luar TV karena biaya bundel paket Internet dan TV pastinya lebih mahal jika dibanding dengan Internet saja dan bisa diakali dengan Android Box.

Dari informasi teman, saya beli android box saat ada pameran komputer dan elektronik di Expo untuk keperluan TV streaming tadi. Untungnya sang landlord mau menyediakan monitor TV di rumah. Awalnya tidak ada, namun setelah saya menanyakan apakah bisa menyediakan? ternyata bisa dan alhamdulillah kami dibelikan sebuah monitor TV baru.

Selama hampir 2 tahun mengontrak rumahnya, ibu landlord-nya sangat baik ke kami. Jika perayaan hari raya Idul Fitri, Idul Adha, serta Natal dan tahun baru Cina maka ibu landlord akan mengurangi biaya sewa sebesar S$100 atau sebesar Rp. 1 juta rupiah, cukup besar bukan?

Setup koneksi Internet saya di rumah ini kira-kira seperti di atas. Modem (Huawei) dan wireless router (Asus) disediakan oleh pihak ISP sementara untuk keperluan komputer di kamar tidur, saya menggunakan tambahan router (Raspberry PI 3+) lain sehingga tidak perlu menarik kabel UTP dari ruang tamu ke ruang tidur.

Wireless router Asus yang ada di ruang tamu akan terkoneksi ke router Raspberry PI 3+ di ruang belajar & tidur anak-anak saya. Selanjutnya menggunakan kabel UTP dan switch untuk menghubungkan router Raspberry PI 3+ dengan komputer-komputer desktop yang ada.

Perangkat mobile HP akan terkoneksi dari wifi wireless router Asus yang ada di ruang tamu sedangkan android box untuk TV terhubung langsung ke wireless routes Asus menggunakan kabel UTP karena berada di ruang yang sama.

Tentang bagaimana setup konfigurasi jaringannya akan saya ulas di tulisan-tulisan berikutnya.

Manila – Filipina

Photo lama yang masih tersimpan di external drive sebagai kenang-kenangan kalau pernah tinggal sementara (stay) di Filipina beberapa tahun silam tepatnya bulan Mei – September 2014. Di sana, saya bekerja selama lima bulan untuk sebuah penugasan singkat (STA) ke Ericsson Filipina.

Waktu itu ada proyek proof of concept (PoC) untuk operator Smart Communications, Inc., saya bekerja dalam satu tim yakni project managernya (PM) adalah Tiaghu Raman (India Malaysia), Antonis dimitriadis (Yunani) untuk solution architect, Cherry Garcia dan Boong (Filipina), serta beberapa orang dari global support center (GSC) China. Dan sempat dikenalkan dengan Abu Bakar Ibrahim (Abs) yang kemudian bertemu lagi di Singapura karena penugasan ke sini.

Istri dan anak-anak ikut ke sana selama empat puluh hari setelah mengambil cuti panjang dari kantor. Kebetulan Naya waktu itu masih SD kelas 1 dan Ibnu masih TK 0 jadi masih gambang untuk minta izin meninggalkan sekolah.

Kami melewati puasa ramadhan, shalat idul fitri, dan pemilihan presiden dan wakil presiden (pilpres) tahun 2014 di sana. Ini adalah kali pertama kami berpuasa di luar negeri dan di negeri non muslim pula sehingga terdapat perbedaan ketika berada di Indonesia. Saat itu saya selalu jumatan di kedutaan Uni Emirat Arab, shalat taraweh di market-market mall dan idul fitri di kedutaan besar Indonesia.

Tentu menjadi pengalaman tersendiri buat saya dan keluarga bagaimana tinggal di luar negeri jauh dari kampung halaman dan keluarga.

Photo ini diambil di depan gereja Manila Cathedral yang ada di dalam kota Intramuros – salah satu kota peninggalan Spanyol di sana.

Sisi lain yang masih berada di area gereja Manila Cathedral.

Ada sepeda dari bambu, keren idenya.

Berphoto dengan Naya di depan pintu gerbang Intramuros.

Kalau photo berikut di Manila Ocean Park yang masih berada di pusat kota Manila.

Masih di dalam area ocean park terdapat tempat mewarnai buat anak-anak. Naya dengan asyiknya mewarnai gambar sementara Ibnu asyik dengan bola.

Saatnya pulang ke Bandung dengan pesawat Philippines Airlines setelah empat puluh hari di Manila tepatnya di Taguig Bonifacio Global City semacam kota di dalam kota Manila.